{"id":30306,"date":"2026-07-30T07:59:42","date_gmt":"2026-07-30T00:59:42","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=30306"},"modified":"2026-07-30T07:59:42","modified_gmt":"2026-07-30T00:59:42","slug":"pendidikan-toleransi-generasi-muda-belajar-merawat-perbedaan-dari-ruang-kelas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/07\/30\/pendidikan-toleransi-generasi-muda-belajar-merawat-perbedaan-dari-ruang-kelas\/","title":{"rendered":"Pendidikan Toleransi: Generasi Muda Belajar Merawat Perbedaan dari Ruang Kelas"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong>\u00a0 \u00a0| Jakarta &#8211; Di sebuah aula sekolah di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, ratusan pelajar duduk berdampingan. Mereka datang dengan latar belakang keyakinan, budaya, dan pengalaman hidup yang berbeda. Namun, pagi itu, perbedaan bukan menjadi sekat, melainkan jembatan untuk saling mengenal.<\/p>\n<p>Itulah semangat yang diusung Yayasan Peduli Anak Indonesia (YAPENA) melalui Konferensi Lintas Pemuda dan Pemudi bertajuk The Golden Rule yang digelar di MAN 13 Jakarta, Rabu (29\/7). Di tengah derasnya arus informasi yang kerap memunculkan polarisasi, ruang-ruang dialog seperti ini menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang harus terus dirawat.<\/p>\n<p>Ketua YAPENA, Erna Santoso, menjelaskan bahwa konferensi menghadirkan enam perwakilan agama dan kepercayaan yang hidup di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, serta penghayat kepercayaan yang kali ini diwakili komunitas Sunda Buhun. Kehadiran mereka bukan sekadar memperkenalkan ajaran masing-masing, melainkan membuka ruang percakapan yang hangat mengenai penghormatan, empati, dan kemanusiaan.<\/p>\n<p>Para siswa tidak hanya mendengar paparan, tetapi juga menyaksikan bagaimana para tokoh agama saling berdialog dalam suasana penuh keakraban. Dari ruang sederhana itu, mereka belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan yang memperluas cara pandang.<\/p>\n<p>&#8220;Seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Anak-anak dari berbagai latar belakang agama berbaur bersama para guru, tokoh agama, dan para ibu dari berbagai komunitas. Mereka belajar bahwa perbedaan adalah kekuatan yang harus dijaga,&#8221; ujar Erna.<\/p>\n<p>Pesan itu kemudian diwujudkan dalam sebuah simbol yang sederhana, tetapi sarat makna. Bersama para tokoh lintas agama, para pelajar melepaskan burung-burung merpati ke langit. Sayap-sayap putih yang terbang bebas seakan membawa harapan bahwa benih-benih toleransi yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi budaya damai di masa depan.<\/p>\n<p>Executive Director Visions of Peace Initiative, Princess Natasha Dematra, mengatakan konferensi lintas agama merupakan agenda tahunan yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Setelah sebelumnya digelar di Bali dan Solo, tahun ini MAN 13 Jakarta dipilih karena dinilai berhasil membangun lingkungan sekolah yang terbuka terhadap keberagaman serta konsisten menguatkan pendidikan karakter.<\/p>\n<p>Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan serupa pada tahun sebelumnya menjadi alasan konferensi kembali digelar di sekolah tersebut. Bahkan, pihak sekolah berharap kolaborasi bersama YAPENA dapat terus berlanjut melalui berbagai program yang memperkuat nilai persaudaraan di kalangan pelajar.<\/p>\n<p>Bagi YAPENA, The Golden Rule bukan sekadar tema kegiatan. Prinsip memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan diyakini sebagai nilai universal yang melampaui batas agama, suku, maupun budaya. Nilai itu menjadi fondasi penting bagi lahirnya generasi yang tidak mudah terpecah oleh perbedaan.<\/p>\n<p>Di tengah masyarakat yang semakin majemuk, Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan seperti ini. Sebab, toleransi bukan hanya diajarkan melalui buku pelajaran, melainkan dibangun lewat pengalaman bertemu, mendengar, memahami, dan menghargai sesama.<br \/>\n<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-30309\" src=\"https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_20260730_074057-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_20260730_074057-300x225.jpg 300w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_20260730_074057-768x576.jpg 768w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_20260730_074057-150x113.jpg 150w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_20260730_074057-450x338.jpg 450w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_20260730_074057.jpg 960w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Dari ruang kelas di Jagakarsa, sebuah pelajaran sederhana kembali ditegaskan: persatuan tidak lahir karena semua orang sama, tetapi karena setiap perbedaan diberi tempat untuk hidup berdampingan dengan penuh hormat. (PH)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id\u00a0 \u00a0| Jakarta &#8211; Di sebuah aula sekolah di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, ratusan pelajar duduk berdampingan. Mereka datang dengan latar belakang keyakinan, budaya, dan pengalaman hidup yang berbeda. Namun, pagi itu, perbedaan bukan menjadi sekat, melainkan jembatan untuk saling mengenal. Itulah semangat yang diusung Yayasan Peduli Anak Indonesia (YAPENA) melalui Konferensi Lintas Pemuda dan<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":30296,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[156,960,957,959,958],"class_list":["post-30306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-tak-berkategori","tag-moderasiberagama","tag-keberagamanindonesia","tag-thegoldenrule","tag-toleransi","tag-yapena"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30306"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30311,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30306\/revisions\/30311"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}