{"id":36941,"date":"2026-08-15T19:54:49","date_gmt":"2026-08-15T12:54:49","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=36941"},"modified":"2026-08-15T19:54:49","modified_gmt":"2026-08-15T12:54:49","slug":"film-harusnya-horor-hadirkan-makna-pengorbanan-siap-menemani-penonton-mulai-20-agustus-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/08\/15\/film-harusnya-horor-hadirkan-makna-pengorbanan-siap-menemani-penonton-mulai-20-agustus-2026\/","title":{"rendered":"Film Harusnya Horor Hadirkan Makna Pengorbanan, Siap Menemani Penonton Mulai 20 Agustus 2026"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong> | Jakarta, 13 Agustus 2026 \u2014 Film Harusnya Horror menawarkan pengalaman yang sedikit mengecoh. Dari judul dan kemasannya, film debut penyutradaraan Reza \u201cArap\u201d Oktovian ini menjanjikan komedi-horor. Namun, di balik kelucuan dan absurditas ceritanya, terselip kisah tentang persahabatan, kehilangan, pengkhianatan, pengampunan, dan pengorbanan.<\/p>\n<p>Diproduksi Ess Jay Pictures, Harusnya Horror dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Film ini tidak hanya mengandalkan teror dan humor, tetapi juga membawa cerita tentang sekelompok sahabat yang harus melewati berbagai persoalan dalam perjalanan mereka.<\/p>\n<p>Salah satu kekuatan film ini justru berada di bagian akhir. Sejumlah penonton mengaku terbawa emosi hingga menitikkan air mata. Komedi yang sejak awal terasa ringan perlahan membawa penonton pada pertanyaan sederhana: seberapa penting orang-orang terdekat dalam hidup kita, dan apakah kita sudah cukup menghargai mereka sebelum terlambat?<\/p>\n<p>Reza mengatakan, film tersebut memang sengaja dibangun dengan lapisan emosi di balik kemasan komedi-horor.<\/p>\n<p>\u201cMeski kemasannya komedi-horor dengan cerita yang absurd, tetapi saya ingin menyajikan tentang arti persahabatan, pengorbanan, dan pentingnya menghargai orang terdekat sebelum terlambat,\u201d ujar Reza.<\/p>\n<p>Bagi Reza, film ini juga memiliki makna personal. Harusnya Horror menjadi persembahan terakhir bagi almarhumah Lula Lahfah sekaligus kenangan yang tidak terlupakan selama proses produksi.<\/p>\n<p>\u201cSetiap detiknya bersama Lula harusnya indah, kami berdua benar-benar menghargai setiap waktu bareng. Semua kru dan pemeran di film ini juga merasakan betapa besarnya dukungan dan kehadirannya selama produksi. Film Harusnya Horror menjadi memori terindah kami,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Kehadiran Lula membuat film ini terasa semakin emosional bagi mereka yang terlibat. Karena itu, film tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada Lula.<\/p>\n<p>Selain kisah persahabatan, Harusnya Horror mencoba menyentil fenomena creator economy. Film ini mengangkat kehidupan para content creator yang berhadapan dengan tuntutan mengejar viralitas dan cuan. Semua hal berpotensi menjadi konten, termasuk pengalaman yang seharusnya bersifat personal.<\/p>\n<p>Produser Sridhar Jetty mengatakan, tema tersebut menjadi cara film untuk merefleksikan situasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.<\/p>\n<p>\u201cMeski genrenya komedi-horor, tetapi film ini punya makna yang relevan, tentang situasi creator economy, saat semuanya dijadikan konten, film ini ingin memberikan refleksi dan satir dalam bentuk komedi,\u201d ujar Sridhar.<\/p>\n<p>Dari sisi pemain, film ini menjadi debut layar lebar bagi seluruh member AAAClan, yakni George Tierson (Jot), Yukatheo Glen Widjaja (Yuka), Garry Andriawan Ang (Garry), Teguh Prakoso (Tepe), Aldy Renaldy (Aloy), Ariyanto (Ibot), Niko Junius (Niko), dan Bravyson (Vicong).<\/p>\n<p>Mereka beradu peran dengan Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, dan Malka Rafasya. Film ini juga menghadirkan penampilan spesial Yoshua Marcellos atau Cellos.<\/p>\n<p>George Tierson yang memerankan Kevin menilai pendekatan Reza sebagai sutradara memberi ruang bagi para pemain untuk keluar dari karakter yang selama ini dikenal publik.<\/p>\n<p>Menurut George, proses pengembangan karakter dilakukan bersama acting coach sehingga para pemain dapat mengeksplorasi sisi lain diri mereka.<\/p>\n<p>Dengan perpaduan humor, horor, dan satire tentang dunia kreator, Harusnya Horror mencoba membuktikan bahwa film yang tampak ringan tidak selalu berakhir ringan.<\/p>\n<p>Sebelum tayang secara nasional, antusiasme penonton juga terlihat dari penjualan tiket Advance Ticket Sales (ATS) yang habis di sejumlah kota, antara lain Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Samarinda, dan Pontianak.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Harusnya Horror bukan semata-mata soal bagaimana membuat penonton tertawa atau terkejut. Di balik absurditasnya, film ini menyimpan pesan tentang arti memiliki sahabat, kehilangan seseorang yang berarti, belajar memaafkan, dan memahami bahwa waktu bersama orang terdekat tidak selalu datang dua kali.<\/p>\n<p>Harusnya Horror tayang mulai 20 Agustus 2026 di seluruh bioskop Indonesia.<\/p>\n<p>(Phyd)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id | Jakarta, 13 Agustus 2026 \u2014 Film Harusnya Horror menawarkan pengalaman yang sedikit mengecoh. Dari judul dan kemasannya, film debut penyutradaraan Reza \u201cArap\u201d Oktovian ini menjanjikan komedi-horor. Namun, di balik kelucuan dan absurditas ceritanya, terselip kisah tentang persahabatan, kehilangan, pengkhianatan, pengampunan, dan pengorbanan. Diproduksi Ess Jay Pictures, Harusnya Horror dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":36942,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[173,165,1165,1163,1167,1166,1164],"class_list":["post-36941","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-example-1","tag-film2026","tag-filmindonesia","tag-aaaclan","tag-harusnyahorror","tag-komedihoror","tag-lulalahfah","tag-rezaarapoktovian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36941","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36941"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36941\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":36943,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36941\/revisions\/36943"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36942"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36941"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36941"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36941"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}