{"id":49092,"date":"2026-09-11T23:25:15","date_gmt":"2026-09-11T16:25:15","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=49092"},"modified":"2026-09-11T23:25:15","modified_gmt":"2026-09-11T16:25:15","slug":"dari-si-doel-hingga-filosofi-orang-kampung-upaya-menjaga-ingatan-betawi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/09\/11\/dari-si-doel-hingga-filosofi-orang-kampung-upaya-menjaga-ingatan-betawi\/","title":{"rendered":"Dari Si Doel hingga \u201cFilosofi Orang Kampung\u201d, Upaya Menjaga Ingatan Betawi"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong> | JAKARTA &#8211; Jakarta boleh terus bergerak menjadi kota global. Namun, di balik gedung-gedung tinggi dan perubahan wajah Ibu Kota, ada kehidupan kampung yang menyimpan ingatan tentang cara warga bertetangga, bercakap, dan menjalani keseharian.<\/p>\n<p>Ingatan tentang kehidupan itulah yang coba dirawat sastrawan dan penulis naskah Harry Tjahjono melalui buku Filosofi Orang Kampung. Buku tersebut diluncurkan di Balai Sastra H.B. Jassin, Perpustakaan Jakarta, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11\/9\/2026).<\/p>\n<p>Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, yang hadir dalam peluncuran tersebut, menilai karya Harry memiliki arti penting bagi perjalanan kebudayaan Jakarta. Buku itu sekaligus mempertemukan kembali gagasan awal cerita Si Doel yang dirintis almarhumah Ida Farida dengan jejak karya sastrawan besar Aman Datuk Madjoindo.<\/p>\n<p>Menurut Rano, Harry merupakan salah satu tokoh yang kemudian memperluas ekosistem cerita Si Doel dengan menghadirkan sejumlah karakter yang melekat kuat dalam ingatan penonton, seperti Mandra, Atun, Karyo, hingga Pak Bendot.<\/p>\n<p>\u201cAtmosfer perkampungan terasa nyata,\u201d ujar Rano.<\/p>\n<p>Bagi Rano, Si Doel bukan sekadar tontonan yang pernah populer di layar lebar dan televisi. Cerita tersebut turut merekam kehidupan masyarakat serta suasana perkampungan Jakarta pada masanya. Dialog, karakter, dan berbagai kebiasaan yang muncul di dalamnya kemudian menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.<\/p>\n<p>Rano bahkan mengungkap kembali kisah lama tentang harapan agar Doel kelak menjadi gubernur.<\/p>\n<p>\u201cUcapan agar Si Doel menjadi gubernur itu sejatinya sudah dilontarkan mendiang Benyamin Sueb sejak film Si Rano karya Motinggo Busye pada 1973, yang kemudian mengalir alami ke dalam sinetron tanpa naskah formal,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Perjalanan hidup Rano kemudian membuat cerita tersebut terasa seperti menemukan jalannya sendiri. Karakter yang dahulu dikenal masyarakat sebagai Si Doel itu kini benar-benar menjalani pengabdian di pemerintahan dan mendapat amanah memimpin bersama Gubernur DKI Jakarta di Balai Kota.<\/p>\n<p>Ketika Kampung Makin Samar<\/p>\n<p>Rano melihat buku Filosofi Orang Kampung sebagai upaya penting untuk mendokumentasikan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang perlahan semakin sulit ditemukan di Jakarta.<\/p>\n<p>Interaksi antartetangga, suasana lingkungan, dialek lokal, hingga kebiasaan warga merupakan kekayaan budaya yang, menurut dia, perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.<\/p>\n<p>\u201cTontonan layar kaca saat ini kerap kehilangan keaslian nuansa kampung. Banyak adegan menampilkan keseharian yang janggal dan terasing dari realitas warga kita yang bersahaja,\u201d kata Rano.<\/p>\n<p>Karena itu, ia mendorong Harry untuk terus mengembangkan karya tersebut dalam bentuk ensiklopedia maupun seri lanjutan. Dengan begitu, nilai-nilai kehidupan kampung tidak berhenti sebagai kenangan generasi lama, tetapi dapat terdokumentasi dan dibaca kembali oleh generasi mendatang.<\/p>\n<p>Pemprov DKI Jakarta, lanjut Rano, akan terus mendukung kegiatan literasi dan pelestarian budaya yang melibatkan pelaku seni maupun masyarakat. Dokumentasi mengenai sejarah dan kehidupan kampung dinilai dapat memperkaya pemahaman tentang perjalanan kebudayaan Jakarta sekaligus menjaga identitas kota ketika Ibu Kota terus berkembang sebagai kota global.<\/p>\n<p>\u201cKami berharap forum ini memberikan kemaslahatan nyata. Mari bersama-sama kita hidupkan kembali kearifan kampung melalui perspektif yang lebih berkemajuan,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Kegelisahan Harry terhadap Tanah Kelahiran<\/p>\n<p>Di balik lahirnya Filosofi Orang Kampung, terdapat kegelisahan Harry terhadap keberadaan masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta.<\/p>\n<p>Puluhan tahun lalu, kegelisahan itu telah menjadi perhatian Harry. Ia khawatir masyarakat Betawi justru menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri ketika Jakarta berkembang begitu cepat.<\/p>\n<p>Keterbatasan fisik setelah mengalami serangan stroke tidak membuat produktivitasnya berhenti. Harry justru terus berkarya dan menyelesaikan dua buku baru, sekaligus merencanakan pembaruan aransemen sekitar 30 karya musik tempo dulu.<\/p>\n<p>\u201cKarya ini lahir dari kekhawatiran kultural puluhan tahun silam agar masyarakat Betawi tidak terasing di tanah kelahirannya sendiri,\u201d ujar Harry.<\/p>\n<p>Dari kegelisahan itu pula lahir beragam karya, mulai dari novel, puisi, novelet hingga puluhan lagu bertema Betawi.<\/p>\n<p>Lagu-lagu tersebut bahkan direncanakan diproduksi ulang pada Januari mendatang. Bagi Harry, berkarya bukan sekadar menghasilkan buku atau lagu, tetapi juga menjadi cara untuk menyimpan jejak sebuah zaman.<\/p>\n<p>Sebab, ketika sebuah kampung berubah menjadi kawasan modern, yang paling mudah hilang bukan hanya bangunan dan gang-gang lama, melainkan juga cerita, bahasa, kebiasaan, dan ingatan orang-orang yang pernah hidup di dalamnya.<\/p>\n<p>Filosofi Orang Kampung hadir untuk mengingatkan kembali bahwa Jakarta tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan raya. Ada kampung, ada manusia, dan ada kebudayaan yang membuat kota ini memiliki jiwa.(**)<\/p>\n<p>Phyd\/Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id | JAKARTA &#8211; Jakarta boleh terus bergerak menjadi kota global. Namun, di balik gedung-gedung tinggi dan perubahan wajah Ibu Kota, ada kehidupan kampung yang menyimpan ingatan tentang cara warga bertetangga, bercakap, dan menjalani keseharian. Ingatan tentang kehidupan itulah yang coba dirawat sastrawan dan penulis naskah Harry Tjahjono melalui buku Filosofi Orang Kampung. Buku tersebut<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":49093,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[529,118,54,1422,1423,1426,1332,1425,1424],"class_list":["post-49092","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-celebs","tag-budayabetawi","tag-jakarta","tag-ranokarno","tag-filosofiorangkampung","tag-harrytjahjono","tag-kebudayaanjakarta","tag-literasi","tag-sastra","tag-sidoel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49092"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49092\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":49095,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49092\/revisions\/49095"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49093"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}