{"id":52408,"date":"2026-09-17T09:59:33","date_gmt":"2026-09-17T02:59:33","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=52408"},"modified":"2026-09-17T09:59:33","modified_gmt":"2026-09-17T02:59:33","slug":"mbah-coco-suporter-itu-pemain-ke-12-bukan-pelatih-ke-12","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/09\/17\/mbah-coco-suporter-itu-pemain-ke-12-bukan-pelatih-ke-12\/","title":{"rendered":"Mbah Coco: Suporter Itu Pemain ke-12, Bukan Pelatih ke-12"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Abalisnews.co.id<\/strong> | Jakarta &#8211; Suporter merupakan bagian penting dari sepakbola. Mereka menghidupkan stadion, memberi dukungan kepada tim, sekaligus memiliki hak untuk menyampaikan kritik. Namun, menurut Mbah Coco, ada batas yang perlu dijaga.<\/p>\n<p>Jurnalis yang telah lama mengikuti perkembangan sepakbola nasional itu menilai suporter boleh melakukan protes, termasuk boikot secara damai. Tetapi, protes jangan berubah menjadi upaya mendikte keputusan teknis klub.<\/p>\n<p>\u201cSuporter itu pemain ke-12, bukan pelatih ke-12,\u201d begitu garis besar pandangan Mbah Coco.<\/p>\n<p>Ia menyoroti fenomena ketika sebagian suporter mulai mendesak klub menentukan pelatih, pemain, hingga strategi pertandingan.<\/p>\n<p>Kasus PSPS Riau menjadi salah satu contoh yang disorot. Setelah bermain imbang 3-3 melawan PSMS Medan pada Pegadaian Championship 2025\/26, muncul desakan terhadap pelatih Ilham Romadohna dan Direktur Teknik Kurniawan Dwi Yulianto. Sebelumnya, PSPS juga kalah 0-4 dari Bekasi FC.<\/p>\n<p>Menurut Mbah Coco, kekecewaan suporter merupakan hal yang wajar. Kritik juga menjadi bagian dari dinamika klub.<\/p>\n<p>Namun, keputusan teknis tetap memiliki mekanisme dan kewenangan masing-masing.<\/p>\n<p>\u201cSejak kapan suporter mengatur pelatih? Sejak kapan suporter menentukan taktik dan strategi?\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Boikot Boleh, Intimidasi Jangan<\/p>\n<p>Mbah Coco menegaskan suporter tidak harus diam ketika tidak setuju dengan kebijakan klub.<\/p>\n<p>Soal harga tiket, misalnya, suporter dapat menyampaikan keberatan, meminta penjelasan, bahkan memilih tidak membeli tiket sebagai bentuk protes.<\/p>\n<p>Hal tersebut berbeda dengan intimidasi atau pemaksaan terhadap manajemen.<\/p>\n<p>Dalam polemik harga tiket launching Persija Jakarta pada Agustus 2026, misalnya, muncul keberatan dari sebagian pendukung dan wacana boikot.<\/p>\n<p>Bagi Mbah Coco, boikot damai merupakan bentuk ekspresi ketidakpuasan. Namun, keputusan bisnis tetap berada di tangan manajemen klub.<\/p>\n<p>\u201cBoikot boleh. Protes boleh. Tetapi jangan sampai berubah menjadi pemaksaan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Klub Profesional Punya Struktur<\/p>\n<p>Menurut Mbah Coco, klub profesional memiliki struktur dan pembagian tugas yang jelas.<\/p>\n<p>Pemilik dan manajemen mengelola klub. Direktur teknik menangani aspek teknis bersama timnya. Pelatih bertanggung jawab terhadap strategi dan permainan. Pemain menjalankan tugas di lapangan.<\/p>\n<p>Suporter memiliki peran berbeda.<\/p>\n<p>Mereka menjadi kekuatan atmosfer, komunitas, sekaligus bagian dari ekosistem bisnis klub.<\/p>\n<p>Meski demikian, ikatan suporter dengan klub tidak bisa dipandang sekadar hubungan antara konsumen dan produsen.<\/p>\n<p>Ada sejarah, identitas, kota, warna klub dan ikatan emosional yang diwariskan lintas generasi.<\/p>\n<p>Karena itu, Mbah Coco menyebut suporter sebagai \u201cpemilik spiritual\u201d klub.<\/p>\n<p>Bukan pemilik saham dan bukan pula pemilik secara hukum, melainkan pihak yang memiliki ikatan emosional dengan perjalanan klub.<\/p>\n<p>Jangan Sampai Suporter Bikin Klub Rugi<\/p>\n<p>Mbah Coco juga mengingatkan persoalan lain: sanksi akibat pelanggaran suporter.<\/p>\n<p>Flare, pelemparan benda, keributan maupun pelanggaran regulasi dapat berujung denda kepada klub.<\/p>\n<p>Padahal, uang yang digunakan membayar denda bisa dialihkan untuk kebutuhan lain, seperti akademi, pemain, fasilitas, keamanan stadion atau pengembangan bisnis.<\/p>\n<p>Ia menilai klub dan suporter perlu sama-sama membangun sistem pencegahan.<\/p>\n<p>Mulai dari steward profesional, pemeriksaan penonton, teknologi keamanan hingga edukasi suporter.<\/p>\n<p>\u201cKalau cinta klub, jangan sampai perilaku kita justru membuat klub kehilangan uang,\u201d demikian garis besar pesannya.<\/p>\n<p>Klub Harus Bisa Hidup dari Bisnis<\/p>\n<p>Bagi Mbah Coco, persoalan suporter tidak bisa dilepaskan dari problem industri sepakbola Indonesia.<\/p>\n<p>Klub profesional harus memiliki model bisnis yang sehat dan sumber pendapatan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Investasi, akademi, stadion, sponsorship, tiket dan merchandise harus dikelola sebagai bagian dari ekosistem bisnis.<\/p>\n<p>Klub jangan terus bergantung pada pemodal yang datang untuk menutup kerugian setiap musim.<\/p>\n<p>\u201cKlub profesional harus belajar menghasilkan uang, bukan terus-menerus mencari orang yang mau menutup kerugian,\u201d ujar Mbah Coco.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Mbah Coco tetap menempatkan suporter sebagai bagian penting dari sepakbola.<\/p>\n<p>Stadion tanpa suporter kehilangan atmosfer. Klub tanpa komunitas kehilangan identitas.<\/p>\n<p>Tetapi setiap pihak memiliki peran.<\/p>\n<p>Manajemen mengelola klub. Pelatih mengatur strategi. Pemain bertanding. Suporter mendukung dan mengkritik.<\/p>\n<p>Suporter boleh bersuara. Boleh tidak membeli tiket. Boleh melakukan boikot secara damai.<\/p>\n<p>Namun, keputusan teknis klub tetap berada pada pihak yang memang diberi kewenangan.<\/p>\n<p>Sebab, kata Mbah Coco, menjadi suporter berarti ikut menjaga klub tetap hidup bukan mengambil alih pekerjaan orang-orang yang bertanggung jawab mengelolanya. (Dbyd)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Abalisnews.co.id | Jakarta &#8211; Suporter merupakan bagian penting dari sepakbola. Mereka menghidupkan stadion, memberi dukungan kepada tim, sekaligus memiliki hak untuk menyampaikan kritik. Namun, menurut Mbah Coco, ada batas yang perlu dijaga. Jurnalis yang telah lama mengikuti perkembangan sepakbola nasional itu menilai suporter boleh melakukan protes, termasuk boikot secara damai. Tetapi, protes jangan berubah menjadi<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":52422,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[247],"tags":[],"class_list":["post-52408","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-daerah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52408","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52408"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52408\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52423,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52408\/revisions\/52423"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52422"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52408"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52408"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52408"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}