{"id":57441,"date":"2026-09-25T07:50:00","date_gmt":"2026-09-25T00:50:00","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=57441"},"modified":"2026-09-25T07:50:00","modified_gmt":"2026-09-25T00:50:00","slug":"teras-kebinekaan-kebudayaan-sebagai-fondasi-moral-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/09\/25\/teras-kebinekaan-kebudayaan-sebagai-fondasi-moral-bangsa\/","title":{"rendered":"Teras Kebinekaan: Kebudayaan sebagai Fondasi Moral Bangsa"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong> | BOGOR \u2014 Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau pembangunan infrastruktur fisik. Di balik semua itu, ada fondasi lain yang tak kalah penting: kebudayaan.<\/p>\n<p>Gagasan tersebut mengemuka dalam silaturahmi kebudayaan antara penggagas Teras Kebinekaan, Moh. Shofan, dan wartawan senior sekaligus Owner Radio Bola, Erwiyantoro alias Mbah Coco, di Rumah Teras Kebinekaan, Parung, Bogor, Kamis (24\/9\/2026).<\/p>\n<p>Pertemuan itu menjadi ruang bertukar gagasan mengenai peran kebudayaan dalam menjaga Indonesia tetap terhubung di tengah keberagaman suku, agama, bahasa dan tradisi.<\/p>\n<p>Menurut Shofan, kebinekaan tidak semata-mata menggambarkan keberagaman Indonesia. Lebih dari itu, kebinekaan merupakan fondasi moral yang memungkinkan masyarakat hidup sebagai satu bangsa.<\/p>\n<p>\u00ab&#8221;Kebinekaan harus menjadi infrastruktur moral. Walaupun berbeda keyakinan, suku, budaya dan bahasa, kita berada di bawah payung kultural yang sama, yaitu bangsa Indonesia,&#8221; ujar Shofan.\u00bb<\/p>\n<p>Shofan dikenal sebagai penulis buku Rhoma Irama: Politik Dakwah dalam Nada yang diterbitkan Imania pada 2014.<\/p>\n<p>Ia mengatakan kebudayaan memiliki kemampuan menjangkau masyarakat secara luas karena dekat dengan kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Bahasa, seni, musik, sastra, tradisi hingga kearifan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun percakapan lintas generasi dan kelompok masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Budaya itu lentur. Strategi kebudayaan adalah salah satu jalan yang sangat mungkin untuk terkoneksi dengan anak-anak bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Teras sebagai Ruang Bertemu<\/p>\n<p>Shofan menjelaskan, gagasan Teras Kebinekaan berangkat dari filosofi teras sebagai ruang terbuka untuk bertemu.<\/p>\n<p>Teras bukan ruang eksklusif. Siapa pun dapat datang, duduk, berbicara dan mendengarkan.<\/p>\n<p>Filosofi sederhana itu kemudian dikembangkan menjadi gagasan gerakan kebudayaan yang tidak dibatasi latar belakang agama, suku maupun kelompok.<\/p>\n<p>Menurut Shofan, perjalanan kebudayaan Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari kearifan lokal yang diwariskan masyarakat Nusantara dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p>Nilai-nilai tersebut, kata dia, tetap memiliki relevansi meski masyarakat memasuki kehidupan modern yang semakin kompleks.<\/p>\n<p>Karena itu, Teras Kebinekaan dibayangkan dapat berkembang menjadi ruang yang melahirkan berbagai program kebudayaan.<\/p>\n<p>Mulai dari forum pemikiran, pertunjukan seni, festival Nusantara hingga ruang kreatif bagi generasi muda.<\/p>\n<p>Mbah Coco: Kebudayaan Harus Menjadi Gerakan Nasional<\/p>\n<p>Sementara itu, Mbah Coco melihat kekayaan budaya Indonesia membutuhkan wadah yang mampu menghubungkan berbagai potensi dari daerah.<\/p>\n<p>Setiap wilayah, menurut dia, memiliki kekuatan budaya yang dapat menjadi bagian dari identitas Indonesia di mata dunia.<\/p>\n<p>Karena itu, para pelaku budaya dari berbagai daerah perlu diberi ruang untuk bertemu, berdiskusi dan membangun kolaborasi.<\/p>\n<p>Salah satu gagasan yang muncul adalah pengembangan festival kebudayaan Nusantara sebagai ruang pertemuan lintas komunitas.<\/p>\n<p>&#8220;Bukan hanya menampilkan kesenian, tetapi juga mempertemukan pemikir, seniman, komunitas, generasi muda dan berbagai elemen masyarakat untuk membicarakan arah kebudayaan Indonesia,&#8221; kata Mbah Coco, wartawan senior yang juga dikenal sebagai cucu tokoh nasional J. Kasimo.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, kebudayaan Indonesia semestinya tidak hanya menjadi konsumsi domestik.<\/p>\n<p>&#8220;Kita harus berani membawa kebudayaan Indonesia berbicara kepada dunia,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Dari Kebinekaan Menuju Indonesia Masa Depan<\/p>\n<p>Pertemuan Shofan dan Mbah Coco memperlihatkan gagasan bahwa kebudayaan dapat menjadi titik temu di tengah perbedaan.<\/p>\n<p>Ketika ruang publik kerap dipenuhi perdebatan mengenai identitas, kebudayaan menawarkan ruang yang lebih cair.<\/p>\n<p>Musik dapat mempertemukan orang dengan latar belakang berbeda. Seni dapat melampaui batas daerah. Sastra dapat membuka percakapan mengenai kemanusiaan.<\/p>\n<p>Pada titik itulah kebudayaan tidak lagi sekadar berbicara tentang masa lalu.<\/p>\n<p>Kebudayaan dapat menjadi investasi sosial untuk masa depan.<\/p>\n<p>Teras Kebinekaan diarahkan menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan gagasan tersebut.<\/p>\n<p>Dari sebuah teras, percakapan tentang Indonesia diharapkan bergerak lebih jauh, menjangkau komunitas, daerah, generasi muda hingga panggung dunia.<\/p>\n<p>Sebab, Indonesia masa depan bukan hanya tentang seberapa maju teknologi yang dimiliki.<\/p>\n<p>Lebih dari itu, masa depan Indonesia juga ditentukan oleh seberapa kuat bangsa ini mampu tetap terhubung sebagai satu keluarga besar.<\/p>\n<p>Berbeda bukan alasan untuk berjarak. Kebudayaan bisa menjadi jalan untuk kembali bertemu.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Red\/Phyd<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id | BOGOR \u2014 Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau pembangunan infrastruktur fisik. Di balik semua itu, ada fondasi lain yang tak kalah penting: kebudayaan. Gagasan tersebut mengemuka dalam silaturahmi kebudayaan antara penggagas Teras Kebinekaan, Moh. Shofan, dan wartawan senior sekaligus Owner Radio Bola, Erwiyantoro alias Mbah Coco, di<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":57445,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[247],"tags":[1626,1627,1625,1624,1623,1622,1621],"class_list":["post-57441","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-daerah","tag-budayanusantara","tag-indonesiamasadepan","tag-kebinekaan","tag-kebudayaanindonesia","tag-mbahcoco","tag-mohshofan","tag-teraskebinekaan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57441","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57441"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57441\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57448,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57441\/revisions\/57448"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57445"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57441"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57441"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57441"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}