{"id":59427,"date":"2026-09-28T08:04:24","date_gmt":"2026-09-28T01:04:24","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=59427"},"modified":"2026-09-28T08:04:24","modified_gmt":"2026-09-28T01:04:24","slug":"dari-pesantren-untuk-presiden-santri-titipkan-gagasan-bagi-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/09\/28\/dari-pesantren-untuk-presiden-santri-titipkan-gagasan-bagi-indonesia\/","title":{"rendered":"Dari Pesantren untuk Presiden, Santri Titipkan Gagasan bagi Indonesia"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong> | JAKARTA \u2013 Ada banyak cara menyampaikan harapan untuk masa depan Indonesia. Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) memilih cara yang sederhana sekaligus sarat makna: mengajak para santri menulis surat langsung kepada Presiden Republik Indonesia.<\/p>\n<p>Melalui Sayembara \u201cSurat Santri untuk Presiden\u201d, para santri mendapat ruang untuk menuangkan gagasan, keresahan, harapan, hingga pandangan mereka mengenai masa depan bangsa. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026.<\/p>\n<p>Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said mengatakan, sayembara tersebut bukan sekadar kompetisi menulis. Menurut dia, kegiatan itu menjadi ruang bagi santri untuk menyampaikan suara mereka mengenai berbagai persoalan bangsa.<\/p>\n<p>\u201cSantri tidak hanya menjadi bagian dari sejarah bangsa, tetapi juga memiliki gagasan tentang Indonesia ke depan. Melalui surat ini, kami ingin memberikan ruang kepada santri untuk menyampaikan suara, harapan, dan gagasannya secara langsung kepada Presiden,\u201d ujar Basnang Said di Jakarta, Minggu (27\/9\/2026).<\/p>\n<p>Basnang menilai tradisi menulis memiliki tempat penting dalam kehidupan pesantren. Karena itu, budaya tersebut perlu terus dikembangkan agar santri terbiasa mengolah pemikiran sekaligus menyampaikannya secara tertulis.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin melihat bagaimana santri membaca zaman, melihat persoalan bangsa, sekaligus menawarkan harapan dan gagasan dari perspektif mereka,\u201d katanya.<\/p>\n<p><em><strong>Tiga Tema untuk Suara Santri<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Kasubdit Pendidikan Salafiyah dan Kajian Kitab Kuning, Yusi Damayanti, menjelaskan peserta dapat memilih salah satu dari tiga tema yang telah disiapkan.<\/p>\n<p>Ketiga tema tersebut adalah Aspirasi tentang Pendidikan, Kepedulian terhadap Lingkungan, serta Harapan untuk Kesejahteraan Rakyat.<\/p>\n<p>Peserta wajib menulis surat secara manual dengan tangan menggunakan pulpen berwarna hitam atau biru. Panjang tulisan maksimal 700 kata atau dua halaman kertas A4.<\/p>\n<p>Setelah selesai, surat dipindai dan dikirim dalam format PDF. Karya yang dikirim harus merupakan karya asli peserta, bukan hasil plagiasi, serta belum pernah menjadi juara dalam kompetisi lain.<\/p>\n<p>\u201cPengiriman karya dilakukan secara daring melalui email, harisantri2026@kemenag.go.id pada 25 September sampai 2 Oktober 2026,\u201d jelas Yusi.<\/p>\n<p>Peserta juga diminta melengkapi data diri, identitas pesantren, nomor WhatsApp peserta dan\/atau guru atau pembina santri, pilihan tema, naskah surat dalam format PDF, serta pernyataan keaslian karya.<\/p>\n<p><em><strong>Surat yang Bisa Sampai ke Istana<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Yang menarik, sayembara ini tidak berhenti pada aktivitas menulis di lingkungan pesantren. Para pemenang akan mendapatkan kesempatan hadir dalam \u201c<em>Malam Bhakti Santri untuk Neger<\/em>i\u201d, yang menjadi malam puncak peringatan Hari Santri 2026.<\/p>\n<p><em>Acara tersebut dijadwalkan mengundang Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.<\/em><\/p>\n<p>Dengan demikian, surat yang awalnya ditulis dengan tinta hitam atau biru di atas selembar kertas berpotensi menjadi jembatan komunikasi antara santri dan pemimpin negara.<\/p>\n<p>Di balik kompetisi itu, Kemenag ingin menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang memahami tradisi keilmuan keagamaan. Dari lingkungan pesantren juga tumbuh anak-anak muda yang membaca perubahan zaman, memikirkan persoalan masyarakat, dan memiliki gagasan tentang Indonesia yang mereka harapkan.<\/p>\n<p>Surat pun menjadi medium sederhana untuk menyampaikan suara tersebut.<\/p>\n<p>Dari meja belajar santri, gagasan tentang pendidikan, lingkungan, dan kesejahteraan rakyat itu ditulis tangan, dikirim, dan dipertemukan dengan momentum Hari Santri 2026.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id | JAKARTA \u2013 Ada banyak cara menyampaikan harapan untuk masa depan Indonesia. Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) memilih cara yang sederhana sekaligus sarat makna: mengajak para santri menulis surat langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Melalui Sayembara \u201cSurat Santri untuk Presiden\u201d, para santri mendapat ruang untuk menuangkan gagasan, keresahan, harapan, hingga pandangan mereka mengenai<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":59429,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1636,1635,1633,1638,1637,1634],"class_list":["post-59427","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-tak-berkategori","tag-basnang-said","tag-direktur-jenderal-pesantren-kemenag","tag-hari-santri-2026","tag-malam-bhakti-santri-untuk-negeri","tag-sayembara-bikin-surat","tag-surat-santri-untuk-presiden"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59427","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59427"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59427\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":59432,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59427\/revisions\/59432"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59429"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59427"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59427"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59427"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}