{"id":62347,"date":"2026-10-01T20:38:59","date_gmt":"2026-10-01T13:38:59","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=62347"},"modified":"2026-10-01T20:40:49","modified_gmt":"2026-10-01T13:40:49","slug":"rayakan-tiga-dekade-idf-2026-bawa-wajah-baru-tari-kontemporer-ke-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/10\/01\/rayakan-tiga-dekade-idf-2026-bawa-wajah-baru-tari-kontemporer-ke-jakarta\/","title":{"rendered":"Rayakan Tiga Dekade, IDF 2026 Bawa Wajah Baru Tari Kontemporer ke Jakarta"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong> | JAKARTA \u2013 Sebulan menjelang penyelenggaraan Indonesian Dance Festival (IDF) 2026, denyut tari kontemporer kembali terasa di Jakarta. Tim IDF menggelar pertemuan bersama awak media di MataWaktu, ITC Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (30\/9\/2026).<\/p>\n<p>Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menengok perjalanan IDF selama lebih dari tiga dekade, sekaligus membuka percakapan baru tentang bagaimana tari kontemporer dapat hadir lebih dekat dengan publik di tengah perubahan lanskap media dan perkembangan ekosistem kreatif.<\/p>\n<p>Sejak pertama kali digelar pada 1992, IDF tidak hanya berkembang sebagai panggung pertunjukan. Festival ini juga menjadi ruang penciptaan karya, pendidikan, riset, pengarsipan, serta pertukaran pengetahuan dan jejaring internasional bagi ekosistem tari kontemporer.<\/p>\n<p>Perjalanan panjang itu turut ditampilkan melalui arsip fisik berupa kliping pemberitaan, album foto, hingga katalog dari berbagai edisi IDF. Arsip tersebut menjadi penanda bagaimana festival tumbuh bersama media, komunitas, seniman, dan perubahan zaman.<\/p>\n<p>Direktur Indonesian Dance Festival, Ratri Anindyajati, mengatakan pertemuan dengan media menjadi momentum untuk kembali menyapa sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.<\/p>\n<p>\u201cSenang sekali bisa bertemu kembali dengan rekan-rekan media, menyapa, dan berkenalan lagi dengan berbagai perubahan yang terjadi hari ini. Pada penyelenggaraan 2024, IDF mendapat perhatian yang sangat baik, dan kami berharap tahun ini bisa kembali mendapat energi yang sama, bahkan lebih besar,\u201d ujar Ratri.<\/p>\n<p>Menurut dia, perubahan lanskap media dan audiens justru menjadi peluang bagi IDF untuk memperluas jangkauan dan membangun percakapan baru.<\/p>\n<p>\u201cKami menyadari banyak hal telah berubah, dan justru karena itu kami ingin membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>IDF 2026 akan mempertemukan seniman Indonesia dengan sejumlah seniman dari berbagai negara. Karya-karya yang dihadirkan membawa beragam cerita dan perspektif mengenai tubuh, identitas, budaya, sejarah, hingga hubungan manusia dengan lingkungan.<\/p>\n<p>Festival Manager IDF, Kathalizsa, mengatakan keberagaman seniman dan program menjadi bagian penting dari pengalaman yang ingin dibangun dalam penyelenggaraan tahun ini.<\/p>\n<p>\u201cTahun ini akan banyak penampil dan program seru selama IDF 2026 berlangsung. Tidak cuma dari dalam negeri, namun penari dari mancanegara membawa banyak cerita melalui karyanya di IDF 2026,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sejumlah karya yang akan hadir antara lain karya baru Hartati untuk pertunjukan pembuka, karya Team Chiipro dari Jepang, Fangas Nayaw dari Taiwan, serta karya Densiel Lebang.<\/p>\n<p>IDF 2026 juga menghadirkan KAMPANA, ruang pengembangan artistik yang memberikan kesempatan bagi karya untuk tumbuh melalui riset, eksperimen, percakapan, dan perjumpaan. Tahun ini, KAMPANA mempertemukan proses pengembangan artistik dari sejumlah platform di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.<\/p>\n<p>Di tengah upaya memperluas apresiasi terhadap tari kontemporer, IDF juga menyasar publik yang beragam, mulai dari pelajar dan mahasiswa, kaum muda, profesional, ekspatriat, praktisi seni, seniman dan budayawan, hingga masyarakat umum.<\/p>\n<p>Marketing Manager IDF, Kurnia Yaumil Fajar, mengatakan festival ingin memahami lebih jauh bagaimana publik menemukan dan berinteraksi dengan seni.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin banyak mendengar: bagaimana media melihat pembaca hari ini, bagaimana orang menemukan seni, dan apa yang membuat sebuah karya terasa dekat atau relevan bagi mereka,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurut Kurnia, percakapan tersebut penting agar festival tidak berhenti menjadi ruang pertunjukan, tetapi terus menemukan cara untuk bertemu dengan publik yang lebih luas.<\/p>\n<p>Semangat memperluas akses juga hadir melalui berbagai program IDF, termasuk workshop atau lokakarya yang memberi kesempatan kepada praktisi tari maupun masyarakat untuk mengalami tari kontemporer secara lebih dekat.<\/p>\n<p>IDF 2026 akan berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026 di Jakarta, dengan rangkaian pertunjukan, workshop, diskusi, dan program pengembangan seniman yang digelar di Taman Ismail Marzuki dan Komunitas Salihara.<\/p>\n<p>Setelah lebih dari tiga dekade hadir sejak 1992, IDF terus menempatkan tari sebagai ruang pertemuan\u2014antara seniman dan publik, tradisi dan masa kini, Indonesia dan dunia.<\/p>\n<p>Melalui IDF 2026, penonton tidak hanya diajak menyaksikan pertunjukan, tetapi juga menemukan berbagai kemungkinan baru: bagaimana tubuh bertemu ruang, bagaimana karya membaca zaman, dan bagaimana seni dapat membangun percakapan yang lebih luas di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>Red\/Phyd<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id | JAKARTA \u2013 Sebulan menjelang penyelenggaraan Indonesian Dance Festival (IDF) 2026, denyut tari kontemporer kembali terasa di Jakarta. Tim IDF menggelar pertemuan bersama awak media di MataWaktu, ITC Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (30\/9\/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menengok perjalanan IDF selama lebih dari tiga dekade, sekaligus membuka percakapan baru tentang bagaimana tari kontemporer<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":62348,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[688,1656,1655,1374,1657],"class_list":["post-62347","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-health-new","tag-budayaindonesia","tag-idf2026","tag-indonesiandancefestival","tag-senipertunjukan","tag-tarikontemporer"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62347","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62347"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62347\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":62352,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62347\/revisions\/62352"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62348"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62347"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62347"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62347"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}