{"id":68159,"date":"2026-10-12T16:53:10","date_gmt":"2026-10-12T09:53:10","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=68159"},"modified":"2026-10-12T16:53:10","modified_gmt":"2026-10-12T09:53:10","slug":"58-konsumen-gunakan-ai-untuk-riset-pembelian-brand-mulai-berebut-visibilitas-di-jawaban-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/10\/12\/58-konsumen-gunakan-ai-untuk-riset-pembelian-brand-mulai-berebut-visibilitas-di-jawaban-ai\/","title":{"rendered":"58% Konsumen Gunakan AI untuk Riset Pembelian, Brand Mulai Berebut Visibilitas di Jawaban AI"},"content":{"rendered":"<div class=\"article-container css-1i68010\">\n<div class=\"css-1yvie82\">\n<p>Cara konsumen mencari dan mempertimbangkan sebuah produk mulai berubah. Jika sebelumnya perjalanan pembelian banyak dimulai dari mesin pencari dan berlanjut ke berbagai situs, kini semakin banyak konsumen menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan riset sebelum membeli.<\/p>\n<p>Laporan <i>The B2C Buyer Experience Report 2026<\/i> dari Invoca menemukan bahwa 58% konsumen di Amerika Serikat menggunakan generative AI untuk meneliti pembelian berisiko tinggi pada 2026, meningkat dari 41% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, riset Boston Consulting Group (BCG) terhadap lebih dari 13.000 konsumen di 12 pasar menemukan bahwa 31% konsumen global sudah menggunakan AI setidaknya sesekali dalam perjalanan pembelian mereka.<\/p>\n<p>Perubahan tersebut membuat cara <i>brand<\/i> mendapatkan perhatian konsumen ikut bergeser. Konsumen tidak lagi selalu mencari daftar situs\u00a0untuk dibandingkan satu per satu. Mereka dapat langsung bertanya kepada AI mengenai produk, kategori, atau rekomendasi, lalu menggunakan jawaban tersebut sebagai titik awal untuk menentukan pilihan.<\/p>\n<p>Dampaknya terhadap <i>brand<\/i> cukup besar. <i>Data Net Conversion<\/i> pada 2026 menunjukkan bahwa 74% konsumen yang menggunakan AI untuk melakukan riset mengatakan bahwa rekomendasi AI memperluas jumlah <i>brand<\/i> yang mereka pertimbangkan. BCG juga menemukan bahwa AI memperkenalkan konsumen kepada <i>brand<\/i> yang sebelumnya tidak akan mereka pertimbangkan dalam sekitar 63% perjalanan pembelian yang dibantu AI.<\/p>\n<p>Artinya, AI bukan sekadar tempat untuk mencari informasi. Sistem AI fmulai berperan dalam menentukan <i>brand<\/i> mana yang masuk ke <i>consideration set<\/i> konsumen.<\/p>\n<h3>Dari Mendapatkan Klik ke Masuk dalam Jawaban<\/h3>\n<p>Perubahan ini terjadi bersamaan dengan menurunnya ketergantungan konsumen terhadap klik dari hasil pencarian tradisional. Analisis SparkToro menggunakan data Similarweb menunjukkan bahwa 68,01% pencarian Google di Amerika Serikat berakhir tanpa klik ke situs eksternal pada periode Januari hingga April 2026.<\/p>\n<p>Kemunculan AI-generated answers memperkuat perubahan tersebut. Ketika informasi yang dibutuhkan sudah dirangkum langsung di dalam halaman pencarian atau diberikan melalui chatbot, pengguna tidak selalu memiliki alasan untuk mengunjungi setiap sumber yang digunakan sistem.<\/p>\n<p>Bagi <i>brand<\/i>, kondisi ini menciptakan bentuk persoalan baru. Visibilitas tidak lagi hanya ditentukan oleh apakah sebuah halaman berhasil mendapatkan posisi tinggi di hasil pencarian, tetapi juga oleh apakah <i>brand<\/i> tersebut muncul ketika konsumen meminta jawaban atau rekomendasi dari AI.<\/p>\n<p>\u201cDulu kita bisa melihat visibility dengan cukup sederhana. <i>Brand<\/i> muncul di Google, orang klik, lalu kita bisa mengukur traffic-nya. Di AI, prosesnya berbeda. Konsumen bisa mendapatkan jawaban tanpa pernah mengunjungi situs kita,\u201d ujar Alexandro Wibowo, <i>Partner of <a href=\"https:\/\/www.avonetiq.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Avonetiq<\/a><\/i>.<\/p>\n<p>Menurut Alexandro, perubahan ini tidak berarti SEO menjadi tidak relevan. Situs dan fondasi pencarian tetap dibutuhkan, tetapi <i>brand<\/i> perlu memahami bahwa ada lapisan baru dalam perjalanan discovery yang tidak bisa diukur hanya dari <i>ranking<\/i> dan trafik organik.<\/p>\n<p>\u201cSekarang pertanyaannya bukan hanya apakah <i>brand<\/i> kita bisa ditemukan, tetapi apakah ketika seseorang bertanya kepada AI, <i>brand<\/i> kita menjadi bagian dari jawabannya,\u201d tambahnya.<\/p>\n<h3>Brand Perlu Memahami Apa yang AI Ketahui tentang Mereka<\/h3>\n<p>Pergeseran tersebut kemudian melahirkan kebutuhan baru bagi tim marketing. Mereka perlu mengetahui bukan hanya bagaimana <i>brand<\/i> tampil di search engine, tetapi juga bagaimana <i>brand<\/i> direpresentasikan dan direkomendasikan oleh berbagai sistem AI.<\/p>\n<p>Avonetiq menjawab kebutuhan tersebut melalui <a>AVO AI<\/a>, sebuah platform yang membantu bisnis mengukur dan meningkatkan cara <i>brand<\/i> mereka ditemukan, dipahami, dan direkomendasikan oleh berbagai platform AI.<\/p>\n<p>Melalui AVO AI, bisnis dapat mengukur Visibility Score <i>brand<\/i> di berbagai platform seperti ChatGPT, Perplexity, Google AI Overviews, Claude, Gemini, dan DeepSeek. Pengukuran ini dilakukan berdasarkan pertanyaan atau prompt yang relevan dengan kategori dan perjalanan konsumen, sehingga bisnis dapat melihat apakah <i>brand<\/i> mereka muncul ketika calon pelanggan mencari informasi atau rekomendasi menggunakan AI.<\/p>\n<p>AVO AI juga membantu bisnis memahami mengapa sebuah <i>brand<\/i> muncul atau tidak muncul dalam jawaban AI. Bisnis dapat menentukan fokus atau topik yang ingin diasosiasikan dengan <i>brand<\/i>, menyusun <i>Prompt Book<\/i> berdasarkan pertanyaan yang mungkin diajukan konsumen, lalu memantau bagaimana <i>brand<\/i> dan kompetitornya muncul dalam berbagai jawaban AI.<\/p>\n<p>Dari hasil tersebut, AVO AI dapat menunjukkan area yang masih perlu diperkuat, mulai dari visibilitas <i>brand<\/i> hingga aspek otoritas dan informasi yang mendukung bagaimana <i>brand<\/i> dipahami oleh AI. Dengan begitu, tim marketing tidak hanya mengetahui bahwa <i>brand<\/i> mereka belum muncul, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai apa yang perlu dioptimalkan.<\/p>\n<p>\u201cYang perlu dilihat bukan hanya berapa kali nama <i>brand<\/i> muncul. Kita perlu memahami apakah AI mengenali <i>brand<\/i> sesuai dengan positioning yang ingin dibangun, dalam pertanyaan yang relevan dengan perjalanan konsumen,\u201d jelas Alexandro.<\/p>\n<p>Dengan pendekatan tersebut, AVO AI membantu bisnis melihat perubahan discovery digital dari sisi yang sebelumnya sulit diukur: bukan hanya apakah konsumen bisa menemukan <i>brand<\/i> melalui search engine, tetapi apakah <i>brand<\/i> tersebut menjadi bagian dari jawaban ketika konsumen bertanya kepada AI.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<div>\n<h4 class=\"css-1fe22q1\">Tentang Avonetiq<\/h4>\n<div class=\"css-1d2nd6l\">Avonetiq adalah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas brand di era kecerdasan buatan (AI). Avonetiq membantu brand tetap terlihat dan relevan ketika konsumen beralih dari mesin pencari ke answer engine, seperti Google Gemini, ChatGPT, dan lainnya. Melalui Authority &amp; Visibility Optimization (AVO), Avonetiq membangun fondasi otoritas digital brand agar dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI sebagai sumber jawaban yang kredibel. Info selengkapnya kunjungi www.avonetiq.com.<\/div>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div><strong>Press Release ini juga sudah tayang di <a href=\"https:\/\/www.vritimes.com\/id\/articles\/5955d775-a9c9-4820-859d-315eee336fcb\/122bc2e2-6b54-4038-a879-04441dc81d12\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">VRITIMES<\/a><\/strong><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cara konsumen mencari dan mempertimbangkan sebuah produk mulai berubah. Jika sebelumnya perjalanan pembelian banyak dimulai dari mesin pencari dan berlanjut ke berbagai situs, kini semakin banyak konsumen menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan riset sebelum membeli. Laporan The B2C Buyer Experience Report 2026 dari Invoca menemukan bahwa 58% konsumen di Amerika Serikat menggunakan generative AI<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":68160,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-68159","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68159","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68159"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68159\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68162,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68159\/revisions\/68162"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68160"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68159"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68159"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68159"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}