{"id":72506,"date":"2026-10-19T10:04:49","date_gmt":"2026-10-19T03:04:49","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=72506"},"modified":"2026-10-19T10:04:49","modified_gmt":"2026-10-19T03:04:49","slug":"akademisi-unika-atma-jaya-dan-pegiat-literasi-digital-ingatkan-pentingnya-integritas-pemilih-di-tengah-perkembangan-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/10\/19\/akademisi-unika-atma-jaya-dan-pegiat-literasi-digital-ingatkan-pentingnya-integritas-pemilih-di-tengah-perkembangan-ai\/","title":{"rendered":"Akademisi Unika Atma Jaya dan Pegiat Literasi Digital Ingatkan Pentingnya Integritas Pemilih di Tengah Perkembangan AI"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-72507\" src=\"https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261019-WA0039-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261019-WA0039-300x225.jpg 300w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261019-WA0039-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261019-WA0039-768x576.jpg 768w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261019-WA0039-150x113.jpg 150w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261019-WA0039-450x338.jpg 450w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261019-WA0039-1200x900.jpg 1200w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261019-WA0039.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>BSD Tangerang , Analisnews.co.id,\u2013 Menjelang Pemilu 2029, masyarakat perlu bersiap menghadapi tantangan penyebaran hoaks yang semakin kompleks. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memungkinkan pembuatan konten sintetis yang semakin realistis, sementara teknologi otomatisasi dan strategi penyebaran yang lebih terarah berpotensi memperluas jangkauan informasi menyesatkan. Hal tersebut disampaikan Ir. Yanto, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., akademisi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Unika Atma Jaya) sekaligus pegiat literasi digital, dalam kegiatan KPU Goes to Campus, di Unika Atma Jaya Kampus 3 BSD, Tangerang.<\/p>\n<p>Menurut press release yang diterima media pada Minggu, 18 Oktober 2026, Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) bekerja sama dengan Unika Atma Jaya Jakarta ini menggelar acara KPU Goes to Campus dengan tema \u201cPemilih Berintegritas, Demokrasi Berkualitas: Membangun Generasi Muda yang Cerdas, Kritis, dan Bertanggung Jawab dalam Menggunakan Hak Pilih di Era Digital demi Terwujudnya Demokrasi Indonesia yang Berkualitas\u201d.<\/p>\n<p>Dalam paparannya, Yanto PhD mengingatkan bahwa menjelang Pemilu 2029, masyarakat akan menghadapi banjir informasi politik, terutama selama masa kampanye. Media sosial dan aplikasi percakapan akan menjadi saluran penting bagi masyarakat untuk memperoleh dan berbagi informasi.<\/p>\n<p>*Pemilih Berintegritas Menentukan Kualitas Demokrasi*<\/p>\n<p>Yanto menegaskan bahwa suara rakyat memiliki peran penting dalam menentukan arah kepemimpinan Indonesia. Karena itu, pemilih perlu menggunakan hak pilih secara sadar, jujur, berdasarkan fakta, dan bertanggung jawab. Integritas pemilih juga tercermin dari kemampuan menghormati perbedaan pilihan politik.<\/p>\n<p>&#8220;Tantangan utama pada era digital bukan sekadar banyaknya informasi, melainkan kemampuan masyarakat untuk membedakan fakta, opini, manipulasi, dan informasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan. Ada kecenderungan alami manusia lebih memberi perhatian pada Informasi negatif,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Yanto PhD juga menyoroti berbagai temuan penelitian mengenai perbedaan perhatian dan ingatan terhadap berita negatif berdasarkan gender, dimana Wanita menunjukkan perhatian lebih besar pada berita negatif, dan lebih mengingat berita yang negatif. Dengan berseloroh, Yanto, PhD menambahkan bahwa pemilih Perempuan nantinya berpotensi memainkan peran sangat penting dalam menentukan hasil Pemilu 2029.<\/p>\n<p>*Empat Kelompok yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Literasi Digital*<\/p>\n<p>Dalam paparannya, Yanto mengidentifikasi empat kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam penguatan literasi digital, yaitu masyarakat lanjut usia (elderly), generasi muda, masyarakat dengan tingkat pendidikan formal yang relatif rendah, serta individu dengan keterikatan partisan politik yang sangat kuat.<\/p>\n<p>Perhatian terhadap kelompok-kelompok tersebut bukan berarti seluruh anggotanya mudah terpengaruh hoaks. Sebaliknya, pendekatan literasi digital perlu mempertimbangkan perbedaan pengalaman menggunakan teknologi, kemampuan mengevaluasi informasi, akses terhadap pendidikan, dan kecenderungan menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi.<\/p>\n<p>Masyarakat lanjut usia dapat membutuhkan dukungan untuk mengenali konten digital yang dimanipulasi. Generasi muda menghadapi paparan informasi yang tinggi melalui berbagai platform digital. Masyarakat dengan keterbatasan pendidikan atau keterampilan evaluasi informasi dapat membutuhkan pendekatan edukasi yang lebih mudah diakses. Sementara itu, keterikatan politik yang sangat kuat dapat mendorong seseorang lebih mudah menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya dan mengabaikan informasi yang bertentangan. Menurut Yanto PhD, pendidikan literasi digital perlu menjangkau berbagai kelompok masyarakat dengan pendekatan yang sesuai.<\/p>\n<p>*Dari Hoaks Berbasis Foto dan Teks Menuju Konten Sintetis*<\/p>\n<p>Sebagai akademisi dan pegiat literasi digital yang mengikuti perkembangan teknologi serta perilaku manusia dalam berinteraksi dengan informasi, Yanto, PhD juga membahas perubahan pola penyebaran hoaks dari pemilu ke pemilu.<\/p>\n<p>Pada Pemilu 2014 dan 2019, foto, gambar, dan teks menjadi bentuk penting dalam penyebaran informasi menyesatkan. Pada Pemilu 2024, video semakin menonjol, termasuk konten yang dipotong dari konteks aslinya atau dimanipulasi untuk membentuk persepsi tertentu.<\/p>\n<p>Untuk Pemilu 2029, Yanto memproyeksikan tiga pola yang perlu diantisipasi. Pertama, konten sintetis yang semakin realistis. Teknologi AI memungkinkan pembuatan gambar, video, suara, dan teks yang menyerupai konten autentik. Deepfake, misalnya, dapat membuat seseorang seolah-olah mengucapkan pernyataan yang sebenarnya tidak pernah disampaikan. Konten semacam ini berpotensi menyesatkan masyarakat apabila disebarkan tanpa konteks dan verifikasi.<\/p>\n<p>Kedua, distribusi informasi secara otomatis. Bot, perangkat lunak, dan sistem otomatis lainnya dapat mempercepat penyebaran konten dalam skala besar. Jika disalahgunakan, teknologi ini dapat menyebarkan klaim palsu melalui banyak akun dan menciptakan kesan bahwa suatu narasi memperoleh dukungan luas.<\/p>\n<p>Ketiga, manipulasi yang lebih terarah. Penyebar informasi dapat menyesuaikan konten, pesan, dan sasaran berdasarkan profil audiens, minat, perilaku, atau karakteristik tertentu. Pendekatan ini dapat membuat informasi menyesatkan terasa lebih relevan bagi penerimanya dan meningkatkan kemungkinan munculnya respons emosional.<\/p>\n<p>Yanto, PhD menekankan bahwa ketiga pola tersebut merupakan proyeksi tantangan yang perlu diantisipasi, bukan kepastian bahwa seluruh penyebaran hoaks pada Pemilu 2029 akan mengikuti pola tersebut. Kecepatan perkembangan teknologi menuntut masyarakat untuk terus meningkatkan kemampuan dalam memeriksa keaslian dan kredibilitas informasi.<\/p>\n<p>*Media Sosial dan Aplikasi Percakapan Perlu Diwaspadai*<\/p>\n<p>Yanto, PhD juga menyoroti peran media sosial dan aplikasi percakapan sebagai saluran penyebaran informasi politik. Melalui media sosial, konten menyesatkan dapat memperoleh perhatian melalui judul provokatif, video pendek, atau unggahan yang memancing emosi. Sementara itu, aplikasi percakapan memungkinkan pesan berantai menyebar melalui grup keluarga, komunitas, dan jaringan pertemanan.<\/p>\n<p>Informasi yang diterima dari orang yang dikenal sering kali lebih mudah dipercaya. Namun, kedekatan dengan pengirim tidak menjamin bahwa informasi tersebut benar. Dalam menghadapi konten berbasis AI, masyarakat juga perlu memahami bahwa tampilan visual yang meyakinkan bukan bukti keaslian. Gambar, video, rekaman suara, dan tangkapan layar perlu diperiksa melalui sumber pembanding yang kredibel.<\/p>\n<p>*Rekam Jejak Akademik dan Kiprah Pengelolaan Pendidikan*<\/p>\n<p>Ir. Yanto, ST. MSc. PhD. IPU. ASEAN Eng. merupakan akademisi Unika Atma Jaya yang memiliki pengalaman 24 tahun sebagai akademisi, pengelolaan pendidikan tinggi serta aktif menjadi narasumber berbagai kegiatan seminar, diskusi publik, dan pelatihan, serta sangat produktif menghasilkan buku. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Program Studi Teknik Industri, Wakil Dekan Fakultas Teknik, Wakil Dekan 1 Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi. Saat ini, Yanto, PhD menjabat sebagai Direktur Eksekutif YZUxAJCUI Collaboration Center, sebuah pusat kolaborasi internasional yang didukung hibah internasional dari Yuan Ze University (YZU), Taiwan. Disamping itu, Yanto, PhD.juga menjabat sebagai Direktur SMA Futuhiyyah Semarang yang bertanggung jawab atas perencanaan dan kebijakan strategis organisasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BSD Tangerang , Analisnews.co.id,\u2013 Menjelang Pemilu 2029, masyarakat perlu bersiap menghadapi tantangan penyebaran hoaks yang semakin kompleks. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memungkinkan pembuatan konten sintetis yang semakin realistis, sementara teknologi otomatisasi dan strategi penyebaran yang lebih terarah berpotensi memperluas jangkauan informasi menyesatkan. Hal tersebut disampaikan Ir. Yanto, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., akademisi Universitas<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-72506","post","type-post","status-publish","format-standard","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72506","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=72506"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72506\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72509,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72506\/revisions\/72509"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=72506"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=72506"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=72506"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}