{"id":72665,"date":"2026-10-19T11:52:04","date_gmt":"2026-10-19T04:52:04","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=72665"},"modified":"2026-10-19T11:52:04","modified_gmt":"2026-10-19T04:52:04","slug":"lydia-sosok-di-balik-rendang-gadih-inovasi-mulai-dari-kemasan-kecil-berkualitas-di-tengah-mahalnya-bahan-baku-tembus-pasar-ekspor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/10\/19\/lydia-sosok-di-balik-rendang-gadih-inovasi-mulai-dari-kemasan-kecil-berkualitas-di-tengah-mahalnya-bahan-baku-tembus-pasar-ekspor\/","title":{"rendered":"Lydia, Sosok di Balik Rendang Gadih: Inovasi Mulai dari Kemasan Kecil Berkualitas di Tengah Mahalnya Bahan Baku, Tembus Pasar Ekspor"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jakarta, Analisnews.co.id, <img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-72666\" src=\"https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989-300x225.jpg 300w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989-768x576.jpg 768w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989-150x113.jpg 150w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989-450x338.jpg 450w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989-1200x900.jpg 1200w, https:\/\/analisnews.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/motion_photo_7932145176619858989.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>eNama Rendang Gadih tak bisa dilepaskan dari sosok Brigita Lydia Syahniva S.T. Di tengah tantangan kenaikan harga bahan baku, perempuan yang akrab disapa Lydia ini memimpin Rendang Gadih, usaha kuliner asal Payakumbuh, Sumatera Barat, tetap bertahan dan menembus pasar ekspor. Rendang Gadih bukan sekadar produk rendang biasa. Merek ini lahir pada 2015 dari kebiasaan sederhana: oleh-oleh khas kampung halaman yang selalu diminta teman-teman sang suami, Dedy Syandera Putera.<\/p>\n<p>\u201cFounder-nya suami saya, Bapak Dedy Syandera Putera. Dulu beliau kerja. Waktu pulang kampung, teman-teman beliau selalu minta oleh-oleh rendang. Dari situ kami punya ide, kenapa tidak coba produksi rendang. Awalnya tidak dijual, hanya untuk teman-teman. Ternyata mereka suka. Jadi, dari situ awal mulanya,\u201d ujar Lydia di sela pameran Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Tangerang, belum lama ini.<\/p>\n<p>Meski banyak orang mengenal Sumatera Barat sebagai \u201cPadang\u201d, Lydia menegaskan Rendang Gadih berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. \u201cOrang bilang itu Padang, padahal Sumatera Barat itu luas. Kami dari Payakumbuh,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Perjalanan Rendang Gadih sejak 2015 tidak selalu mulus. Seperti usaha lain, ada masa naik dan turun. Tantangan terbesar datang dari kenaikan harga bahan baku yang berdampak langsung pada biaya produksi. \u201cBahan baku harganya sangat naik. Ini berdampak besar. Tapi kami harus tetap jalan,\u201d kata Lydia.<\/p>\n<p>Inovasi Kemasan agar Tetap Terjangkau<\/p>\n<p>Untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku, Rendang Gadih tidak serta-merta menaikkan harga atau menurunkan kualitas. Strategi yang dipilih adalah berinovasi pada kemasan. Perusahaan mengeluarkan produk dengan kemasan lebih kecil agar tetap terjangkau oleh pelanggan.<\/p>\n<p>\u201cKami keluarkan produk yang kemasannya lebih kecil. Kenapa? Biar masih terjangkau sama customer dan tidak terlalu memberatkan. Biasanya kami jual 250 gram dengan variasi harga Rp50.000 sampai Rp120.000. Karena kenaikan bahan baku, terpaksa kami sesuaikan. Tapi rasa tetap, kualitas tetap. Yang kami ubah hanya kemasannya,\u201d jelas Lydia.<\/p>\n<p>Rendang Gadih bahkan menghadirkan kemasan 50 gram sebagai solusi bagi konsumen yang ingin menikmati rendang dengan harga lebih ringan. \u201cAda kemasan 50 gram. Itu langsung diserbu pasar,\u201d ujarnya. Strategi ini dinilai tepat di tengah tekanan ekonomi, ketika daya beli masyarakat perlu dijaga tanpa mengorbankan identitas rasa.<\/p>\n<p>Bagi Lydia, kualitas rasa adalah harga mati. \u201cRasa kita tetap gurih. Kualitas tidak kami kurangi. Yang kami ubah hanya kemasan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Sertifikasi dan Ekspor<\/p>\n<p>Rendang Gadih tidak hanya mengandalkan pasar domestik. Sejak beberapa waktu lalu, produk ini telah menembus pasar ekspor ke beberapa negara secara rutin. \u201cKemarin kita sudah deal. Rekan-rekan buyer sudah ekspor ke beberapa negara yang rutin,\u201d kata Lydia.<\/p>\n<p>Untuk memperkuat penetrasi pasar global, Rendang Gadih telah memiliki sejumlah sertifikasi, antara lain halal dan P-IRT. Pada September lalu, Rendang Gadih juga mengikuti pameran di China. \u201cBulan September kemarin kita pameran ke China. Habis dari sini kita akan urus sertifikasi tambahan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kehadiran Rendang Gadih di TEI 2026 menjadi momentum untuk bertemu calon buyer baru. \u201cHarapannya tentu bertemu dengan calon-calon buyer,\u201d kata Lydia. Meski begitu, ia tidak memungkiri bahwa pasar rendang memiliki karakter tersendiri. Namun, pengalaman ekspor dan sertifikasi yang dimiliki menjadi modal penting.<\/p>\n<p>Rendang sebagai Identitas dan Peluang Bisnis<\/p>\n<p>Rendang telah lama diakui sebagai salah satu kuliner ikonik Indonesia. Bagi Lydia, rendang bukan hanya komoditas, tetapi juga cerita tentang kampung halaman, keluarga, dan kearifan lokal. \u201cRendang itu makanan yang sudah mendunia. Kami ingin membawa Rendang Gadih ke pasar yang lebih luas, tanpa meninggalkan rasa dan kualitas,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ke depan, Rendang Gadih berencana memperluas pasar dan memperkuat jaringan distribusi. Dengan inovasi kemasan, sertifikasi, dan partisipasi dalam pameran internasional, Lydia optimistis usaha yang dirintis suaminya pada 2015 itu dapat terus tumbuh. \u201cYang penting terus berinovasi dan menjaga kualitas. Tantangan pasti ada, tetapi peluangnya juga besar,\u201d kata Lydia.<\/p>\n<p>Di tengah gejolak harga bahan baku, Rendang Gadih membuktikan bahwa usaha kuliner lokal dapat bertahan dan bersaing. Kunci utamanya bukan sekadar menaikkan harga, melainkan kreativitas dalam mengemas produk agar tetap relevan dan terjangkau. Bagi Brigita Lydia Syahniva, rendang adalah warisan yang harus dijaga, sekaligus peluang bisnis yang terus diolah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Jakarta, Analisnews.co.id, eNama Rendang Gadih tak bisa dilepaskan dari sosok Brigita Lydia Syahniva S.T. Di tengah tantangan kenaikan harga bahan baku, perempuan yang akrab disapa Lydia ini memimpin Rendang Gadih, usaha kuliner asal Payakumbuh, Sumatera Barat, tetap bertahan dan menembus pasar ekspor. Rendang Gadih bukan sekadar produk rendang biasa. Merek ini lahir pada 2015<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-72665","post","type-post","status-publish","format-standard","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72665","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=72665"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72665\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72678,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72665\/revisions\/72678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=72665"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=72665"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=72665"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}