{"id":73476,"date":"2026-10-20T13:01:06","date_gmt":"2026-10-20T06:01:06","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=73476"},"modified":"2026-10-20T13:01:06","modified_gmt":"2026-10-20T06:01:06","slug":"100-tahun-sambas-mangundikarta-brigita-dukung-sang-legenda-mendapat-penghargaan-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/10\/20\/100-tahun-sambas-mangundikarta-brigita-dukung-sang-legenda-mendapat-penghargaan-negara\/","title":{"rendered":"100 Tahun Sambas Mangundikarta, Brigita Dukung Sang Legenda Mendapat Penghargaan Negara"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong> | JAKARTA \u2013 Suara bariton yang tegas, tenang, dan penuh eksplorasi. Bagi Brigita Isworo Laksmi, mantan wartawan Kompas, suara Sambas Mangundikarta bukan sekadar suara penyiar olahraga, melainkan kekuatan yang mampu membawa pendengar seolah berada langsung di tengah arena pertandingan.<\/p>\n<p>Kenangan dan kekaguman itu disampaikan Brigita dalam acara <b><i>100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar \u2013 Tribute to Sambas Mangundikarta<\/i><\/b> di Auditorium Yusuf M. Ronodipuro, RRI Jakarta, Senin (19\/10\/2026).<\/p>\n<p>Meski mengaku tidak terlalu lama berinteraksi langsung dengan Sambas, Brigita menyimpan kesan personal yang mendalam terhadap sosok legenda penyiaran Indonesia tersebut. Baginya, Sambas bukan hanya figur profesional yang dikagumi, melainkan juga sosok yang terasa dekat seperti paman sendiri.<\/p>\n<p>\u201cTerus terang, kalau berhubungan langsung memang tidak lama. Tetapi, bagi saya, kesannya mendalam. Saya merasa beliau seperti pakde atau om saya sendiri,\u201d ujar Brigita.<\/p>\n<p>Salah satu kenangan yang paling membekas terjadi pada 1996, ketika Brigita bertugas meliput bulu tangkis di Hong Kong. Suatu pagi, saat sedang sarapan, ia melihat Sambas terjatuh dari kursinya.<\/p>\n<p>Brigita yang melihat kejadian itu sempat bergegas menghampiri. Namun, Sambas justru menanggapinya dengan santai dan berseloroh bahwa kursinya yang bandel.<\/p>\n<p>Pengalaman sederhana itu meninggalkan kesan kuat bagi Brigita. Di tengah reputasi besar dan pengalamannya sebagai penyiar olahraga, Sambas tetap tampil bersahaja dan rendah hati.<\/p>\n<p>\u201cBagi saya, kesan pertama itu menunjukkan bahwa beliau sangat rendah hati,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p><b><i>Suara yang Menyatukan Generasi<\/i><\/b><\/p>\n<p>Jauh sebelum bertemu langsung dengan Sambas, Brigita telah mengenal suaranya sejak kecil. Ia mengenang masa ketika televisi masih menjadi tontonan istimewa bagi keluarga dan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.<\/p>\n<p>Saat itu, televisi yang menggunakan aki menjadi pusat perhatian. Keluarga dan teman-teman berkumpul, menikmati tayangan bersama, ditemani kacang rebus. Dari momen sederhana itulah suara Sambas mulai melekat dalam ingatannya.<\/p>\n<p>Ketika Sambas tampil di TVRI, suaranya memiliki daya tarik tersendiri. Karakter baritonnya yang mantap, tegas, dan tenang berpadu dengan kemampuannya mengeksplorasi cerita secara detail.<\/p>\n<p>\u201cSuara itu tidak ada yang menandingi. Beliau bisa membuat kita merasa seolah-olah berada di lapangan dan ikut berjuang,\u201d kata Brigita.<\/p>\n<p>Menurut dia, kekuatan Sambas tidak berhenti pada teknik vokal. Sang penyiar mampu menghadirkan suasana pertandingan, membangun emosi pendengar, sekaligus menyampaikan wawasan yang luas. Olahraga yang disampaikan melalui suaranya menjadi pengalaman yang hidup, bukan sekadar laporan tentang siapa menang dan siapa kalah.<\/p>\n<p><b><i>Olahraga dan Penanaman Karakter Bangsa<\/i><\/b><\/p>\n<p>Brigita juga menyoroti dimensi yang lebih luas dari kiprah Sambas, yakni peran olahraga dalam membangun karakter dan menumbuhkan rasa kebangsaan.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan bahwa olahraga memiliki hubungan erat dengan dinamika politik dan geopolitik dunia. Pada masa Perang Dingin, misalnya, persaingan Amerika Serikat, Uni Soviet, dan China dalam berbagai ajang olahraga turut menjadi panggung untuk menunjukkan kekuatan dan prestise negara.<\/p>\n<p>Namun, di balik persaingan tersebut, olahraga juga membawa nilai-nilai universal yang penting bagi kehidupan berbangsa, seperti sportivitas, kerja keras, dedikasi, dan integritas.<\/p>\n<p>Nilai-nilai itulah yang, menurut Brigita, turut dihadirkan Sambas melalui setiap reportasenya. Dengan gaya penyampaian yang informatif dan menggugah, Sambas tidak hanya memperkenalkan pertandingan kepada masyarakat, tetapi juga membantu menanamkan pemahaman tentang arti perjuangan dan karakter.<\/p>\n<p>\u201cKalau kita ingin menjadi bangsa yang kuat, dasar-dasar karakter itu bisa digali dan ditularkan melalui olahraga. Pak Sambas membawa nilai-nilai itu dalam seluruh reportasenya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Brigita menilai kemampuan Sambas memadukan informasi, pengetahuan, dan semangat kebangsaan merupakan warisan penting bagi dunia penyiaran Indonesia. Ia mampu menjadikan olahraga sebagai ruang pembelajaran yang menjangkau masyarakat luas, lintas generasi.<\/p>\n<p><b><i>Mengusulkan Penghargaan bagi Sang Legenda<\/i><\/b><\/p>\n<p>Dalam kesempatan tersebut, Brigita juga menyatakan dukungannya terhadap usulan pemberian penghargaan negara kepada Sambas Mangundikarta. Ia menilai dedikasi dan kontribusi sang legenda layak mendapatkan pengakuan yang lebih tinggi.<\/p>\n<p>Brigita mendukung usulan agar penghargaan tersebut diajukan kepada Presiden Prabowo Subianto, baik berupa Bintang Mahaputera Utama maupun penghargaan lain yang sesuai dengan jasa dan pengabdian Sambas.<\/p>\n<p>Baginya, penghormatan terhadap Sambas tidak semestinya berhenti pada kegiatan mengenang masa lalu. Pengakuan terhadap tokoh yang telah membangun tradisi penyiaran olahraga juga menjadi cara untuk menjaga standar profesionalisme dan menginspirasi generasi penerus.<\/p>\n<p>Sambas Mangundikarta lahir di Bandung pada 21 September 1926 dan mengawali kariernya sebagai penyiar RRI pada 1952. Ia kemudian dikenal luas melalui kiprahnya sebagai penyiar dan pewarta olahraga, termasuk saat meliput berbagai kejuaraan bulu tangkis internasional.<\/p>\n<p>Suara khasnya juga mengiringi berbagai peristiwa olahraga yang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Dedikasinya di dunia penyiaran mendapat pengakuan melalui *Lifetime Achievement Award* dari Komisi Penyiaran Indonesia pada 2022.<\/p>\n<p>Sambas meninggal dunia pada 30 Maret 1999 dalam usia 72 tahun. Meski telah tiada, pengaruhnya tetap terasa melalui kenangan para pendengar, rekan seprofesi, dan generasi penyiar yang tumbuh dengan menyimak reportasenya.<\/p>\n<p>Melalui peringatan 100 tahun kelahirannya, sosok Sambas kembali dihadirkan bukan semata sebagai legenda yang dikenang, melainkan sebagai teladan tentang bagaimana suara, pengetahuan, dan integritas dapat membangun kedekatan dengan masyarakat.<\/p>\n<p>Bagi Brigita Isworo Laksmi, warisan terbesar Sambas adalah kemampuannya menghadirkan olahraga dengan penuh penghayatan sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Sebuah warisan yang tetap relevan bagi dunia jurnalistik dan penyiaran Indonesia hingga hari ini.(red\/py).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id | JAKARTA \u2013 Suara bariton yang tegas, tenang, dan penuh eksplorasi. Bagi Brigita Isworo Laksmi, mantan wartawan Kompas, suara Sambas Mangundikarta bukan sekadar suara penyiar olahraga, melainkan kekuatan yang mampu membawa pendengar seolah berada langsung di tengah arena pertandingan. Kenangan dan kekaguman itu disampaikan Brigita dalam acara 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar \u2013 Tribute<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":73477,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1976,1975,1980,1978,1979,1982,1974,1983,1977,1981],"class_list":["post-73476","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-tak-berkategori","tag-100tahunsambas","tag-brigitaisworolaksmi","tag-jurnalismeolahraga","tag-legendapenyiarindonesia","tag-penyiaranindonesia","tag-rri","tag-sambasmangundikarta","tag-sejarahpenyiaran","tag-tributetosambas","tag-tvri"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73476","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=73476"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73476\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73478,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73476\/revisions\/73478"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/73477"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=73476"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=73476"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=73476"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}