{"id":79668,"date":"2026-10-28T16:11:14","date_gmt":"2026-10-28T09:11:14","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=79668"},"modified":"2026-10-28T16:11:14","modified_gmt":"2026-10-28T09:11:14","slug":"jakarta-film-week-2026-boyong-8-film-italia-sajikan-luka-sejarah-dan-dilema-moral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/10\/28\/jakarta-film-week-2026-boyong-8-film-italia-sajikan-luka-sejarah-dan-dilema-moral\/","title":{"rendered":"Jakarta Film Week 2026 Boyong 8 Film Italia: Sajikan Luka Sejarah dan Dilema Moral"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong>\u00a0 | JAKARTA \u2014 Identitas, ingatan kelam sejarah, kebebasan berkesenian, hingga pergulatan moral menjadi benang merah delapan film Italia yang hadir dalam program <b><i>Italian Screens<\/i><\/b> di Jakarta Film Week 2026. Melalui beragam genre dan pendekatan sinematik, program ini mengajak penonton Indonesia menyelami pengalaman manusia dari perspektif sinema Italia kontemporer.<\/p>\n<p>Delapan film yang dipilih adalah <b><i>A Year of School<\/i><\/b> karya Laura Samani, <b><i>Back to Buenos Aires<\/i><\/b> garapan Marco Bechis, <b><i>Duse <\/i><\/b>karya Pietro Marcello, <b><i>La Grazia <\/i><\/b>arahan Paolo Sorrentino, <b><i>The Forbidden City<\/i><\/b> karya Gabriele Mainetti, <b><i>The Girl with the Leica<\/i><\/b> garapan Alina Marazzi, <b><i>The Tasters<\/i><\/b> karya Silvio Soldini, dan <b><i>Trick<\/i><\/b> besutan Mario Martone.<\/p>\n<p>Kehadiran program ini menjadi bagian dari upaya Jakarta Film Week memperluas kerja sama dengan institusi kebudayaan lokal maupun internasional. Di sisi lain, <b><i>Italian Screens<\/i><\/b> membawa misi memperkenalkan karya-karya sinema Italia kepada khalayak yang lebih luas sekaligus membuka ruang pertukaran budaya melalui film.<\/p>\n<p>Program tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Luar Negeri Italia (MAECI), Kedutaan Besar Italia di Jakarta, Istituto Italiano di Cultura Jakarta, Kementerian Kebudayaan Italia (MiC-DGCA), dan Cinecitt\u00e0.<\/p>\n<p>Film-film yang terpilih merupakan karya yang diputar di Italia maupun di tingkat internasional dalam dua tahun terakhir dan memperoleh pengakuan di dalam serta luar negeri. Keberagaman genre dan gaya penceritaan menjadi gambaran dinamika perfilman Italia yang terus berkembang.<\/p>\n<p><b>Identitas, kekuasaan, dan ingatan masa lalu<\/b><\/p>\n<p>Dalam <b><i>A Year of School<\/i><\/b>, Laura Samani mengangkat pergulatan identitas melalui kisah Fred, remaja perempuan yang pindah ke Trieste dan menjadi satu-satunya perempuan di kelas yang seluruh siswanya laki-laki. Kehadirannya mengubah hubungan pertemanan di lingkungan sekolah, sekaligus menguji batas penerimaan dan cara seseorang menemukan tempatnya di tengah kelompok.<\/p>\n<p>Persoalan yang lebih gelap hadir dalam <b><i>Back to Buenos Aires<\/i><\/b> karya Marco Bechis. Film ini mengikuti Mariano, seorang dokter yang kembali ke Buenos Aires untuk memberikan kesaksian tentang kejahatan pada masa kediktatoran Argentina yang pernah melibatkan dirinya. Kepulangan tersebut memaksanya berhadapan dengan ingatan, rasa bersalah, dan tanggung jawab atas keputusan masa lalu.<\/p>\n<p>Sementara itu, <b><i>Duse<\/i><\/b> karya Pietro Marcello menyoroti kehidupan Eleonora Duse, aktris teater legendaris Italia. Berlatar antara Perang Dunia I dan kebangkitan fasisme, film ini menggambarkan perjuangan Duse untuk kembali ke panggung dan mempertahankan kemandiriannya di tengah perubahan sosial-politik.<\/p>\n<p>Kisah tersebut tidak semata-mata berbicara tentang seorang seniman dan panggungnya. Di dalamnya, terselip pertanyaan mengenai posisi seni ketika berhadapan dengan kekuasaan, serta sejauh mana seorang seniman dapat mempertahankan kebebasannya di tengah tekanan zaman.<\/p>\n<p>Persoalan moral dan kekuasaan kembali menjadi perhatian dalam <b><i>La Grazia<\/i><\/b>, film Paolo Sorrentino yang dibintangi Toni Servillo. Karya terbaru sutradara yang dikenal luas di kancah internasional ini masuk program <b><i>Currents<\/i><\/b>, salah satu program khusus Jakarta Film Week yang menampilkan film-film terkini dengan rekognisi dan pemutaran di festival film prestisius dunia.<\/p>\n<p>Film tersebut mengikuti Mariano De Santis, Presiden Italia fiktif yang menghadapi sejumlah keputusan sulit menjelang akhir masa jabatannya. Salah satunya adalah permohonan pengampunan yang menempatkannya dalam persimpangan antara hukum, moralitas, dan keyakinan pribadi.<\/p>\n<p>Melalui tokoh seorang presiden, Sorrentino membawa persoalan pengambilan keputusan ke wilayah yang lebih personal: bagaimana seseorang menentukan pilihan ketika kewenangan, tanggung jawab, dan suara hati tidak selalu berjalan searah.<\/p>\n<p><b>Dari konflik kriminal hingga perempuan di medan perang<\/b><\/p>\n<p>Keberagaman sinema Italia juga terlihat dalam <b><i>The Forbidden City<\/i><\/b> karya Gabriele Mainetti. Film aksi dan drama kriminal ini mempertemukan dunia kuliner Tiongkok di Roma dengan konflik antarkelompok dan persoalan keluarga.<\/p>\n<p>Ceritanya mengikuti seorang perempuan muda asal Tiongkok yang datang ke Roma untuk mencari ayahnya yang hilang. Pencarian itu membawanya bertemu dengan seorang pria Italia yang juga tengah menghadapi persoalan keluarganya. Pertemuan dua latar kehidupan tersebut berkembang menjadi kisah yang memadukan pencarian, konflik, dan hubungan antarmanusia.<\/p>\n<p>Adapun <b><i>The Girl with the Leica <\/i><\/b>garapan Alina Marazzi mengangkat sosok Gerda Taro, fotografer perang perempuan yang dikenal melalui keberanian dan dokumentasi konflik. Berlatar Paris pada 1937, film ini menelusuri perjalanan Taro dari aktivitas politik dan pengasingan hingga fotografi menjadi medium ekspresi, perlawanan, dan kebebasan.<\/p>\n<p>Melalui kisah Taro, fotografi tidak hanya hadir sebagai alat untuk merekam peristiwa, tetapi juga sebagai cara seseorang mengambil sikap terhadap dunia yang sedang dilanda konflik.<\/p>\n<p>Sudut pandang personal terhadap sejarah menjadi kekuatan <b><i>The Tasters<\/i><\/b> karya Silvio Soldini. Diadaptasi dari novel <b><i>At the Wolf\u2019s Table<\/i><\/b> karya Rosella Postorino yang terinspirasi oleh kisah Margot W\u00f6lk, film ini mengikuti Rosa Sauer, perempuan muda yang dipaksa bergabung dengan kelompok pencicip makanan untuk pemimpin Nazi demi memastikan hidangan tersebut tidak mengandung racun.<\/p>\n<p>Di bawah bayang-bayang Perang Dunia II, para perempuan itu hidup dalam ancaman yang terus membayangi keseharian mereka. Ketakutan, persahabatan, dan hubungan antarmanusia menjadi bagian penting dari cerita yang memperlihatkan bagaimana individu bertahan dalam situasi yang tidak memberi banyak pilihan.<\/p>\n<p>Fajri, salah seorang penonton <b><i>The Tasters<\/i><\/b>, mengapresiasi pendekatan film tersebut dalam memandang peristiwa sejarah melalui pengalaman personal para karakternya.<\/p>\n<p>\u201cFilm ini memberi perspektif berbeda tentang Perang Dunia II. Saya tertarik melihat bagaimana pengalaman dan hubungan antarkarakter menjadi bagian penting dari cerita, sehingga penonton bisa memahami situasi tersebut dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia,\u201d ujar Fajri.<\/p>\n<p><b>Imajinasi anak dan kegelisahan seorang seniman<\/b><\/p>\n<p>Melengkapi delapan film pilihan tersebut, <b>Trick <\/b>karya Mario Martone membawa penonton ke ranah hubungan keluarga dan pergulatan kreatif.<\/p>\n<p>Film ini mengikuti Daniele Mallarico, ilustrator sukses yang kembali ke Naples untuk menjaga cucunya yang berusia empat tahun. Waktu yang mereka habiskan bersama berkembang menjadi pertemuan tak terduga antara imajinasi seorang anak dan kegelisahan seorang seniman yang mulai berhadapan dengan usia serta perubahan dalam kreativitasnya.<\/p>\n<p>Melalui hubungan lintas generasi itu, <b>Trick <\/b>mengeksplorasi cara manusia memandang dunia secara berbeda, sekaligus mempertemukan spontanitas masa kanak-kanak dengan pengalaman dan kegelisahan orang dewasa.<\/p>\n<p>Kehadiran delapan film Italia dalam Jakarta Film Week 2026 memperlihatkan bahwa sinema dapat menjadi ruang untuk membaca sejarah sekaligus memahami pengalaman manusia yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari pencarian identitas hingga trauma politik, dari kebebasan seni hingga keputusan moral, setiap film menawarkan perspektif berbeda tentang individu yang berhadapan dengan lingkungan dan zamannya.<\/p>\n<p>Melalui <b>Italian Screens<\/b>, Jakarta Film Week tidak hanya memperkenalkan karya-karya sinema Italia kontemporer, tetapi juga membuka kesempatan bagi penonton Indonesia untuk berdialog dengan kebudayaan lain melalui cerita, karakter, dan pengalaman yang melampaui batas negara.(red\/py).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id\u00a0 | JAKARTA \u2014 Identitas, ingatan kelam sejarah, kebebasan berkesenian, hingga pergulatan moral menjadi benang merah delapan film Italia yang hadir dalam program Italian Screens di Jakarta Film Week 2026. Melalui beragam genre dan pendekatan sinematik, program ini mengajak penonton Indonesia menyelami pengalaman manusia dari perspektif sinema Italia kontemporer. Delapan film yang dipilih adalah A<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":79669,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[1615,2096,2094,1612,2095],"class_list":["post-79668","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-example-1","tag-festivalfilm","tag-filminternasional","tag-italianscreens","tag-jakartafilmweek2026","tag-sinemaitalia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79668","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79668"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79668\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":79672,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79668\/revisions\/79672"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79669"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79668"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79668"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79668"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}