{"id":82231,"date":"2026-10-31T17:28:41","date_gmt":"2026-10-31T10:28:41","guid":{"rendered":"https:\/\/analisnews.co.id\/?p=82231"},"modified":"2026-10-31T17:28:41","modified_gmt":"2026-10-31T10:28:41","slug":"meutya-hafid-dorong-generasi-muda-kuasai-ai-jadi-inovator-bukan-sekadar-pengguna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/2026\/10\/31\/meutya-hafid-dorong-generasi-muda-kuasai-ai-jadi-inovator-bukan-sekadar-pengguna\/","title":{"rendered":"Meutya Hafid Dorong Generasi Muda Kuasai AI, Jadi Inovator Bukan Sekadar Pengguna"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Analisnews.co.id<\/strong> | JAKARTA \u2013 Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak generasi muda Indonesia mengambil peran lebih besar dalam menentukan masa depan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Anak muda tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus berani menciptakan inovasi dan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Pesan tersebut disampaikan Meutya saat menjadi pembicara dalam Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (30\/10\/2026).<\/p>\n<p>Menurut Meutya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan digital dunia. Namun, peluang itu harus diikuti keberanian membangun teknologi, mengembangkan pengetahuan, serta melahirkan inovasi karya anak bangsa.<\/p>\n<p>\u201cDalam 20 tahun menuju Indonesia Emas 2045, kita juga perlu bertanya, apakah Indonesia akan menjadi bangsa pengguna teknologi yang diciptakan oleh bangsa lain, atau kita ingin bergerak menjadi bangsa yang ikut menciptakan teknologi, pengetahuan, dan juga solusi bagi dunia,\u201d ujar Meutya.<\/p>\n<p>Ia menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi digital. Saat ini, terdapat sekitar 260 juta pengguna internet di Indonesia, dengan kontribusi mencapai 30 persen dari total ekonomi digital ASEAN.<\/p>\n<p>Meski demikian, besarnya adopsi teknologi tidak boleh hanya diukur dari jumlah pengguna. Peningkatan produktivitas, kapasitas inovasi, serta perlindungan masyarakat harus menjadi bagian penting dari transformasi digital.<\/p>\n<p>Meutya menegaskan, pemerintah mendorong tiga agenda utama transformasi digital, yakni terhubung, bertumbuh, dan terjaga.<\/p>\n<p>Menurutnya, pertumbuhan ekonomi digital tidak boleh mengorbankan nilai kemanusiaan, terutama perlindungan anak dan masyarakat dari berbagai risiko ruang digital, seperti pornografi, judi online, hingga disinformasi yang berpotensi memecah belah bangsa.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada pertumbuhan ekonomi setinggi apa pun yang layak dikejar kalau nilai-nilai kemanusiaan kita menjadi hilang, diterabas oleh mesin-mesin ini,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>AI Mengubah Peta Pekerjaan<\/p>\n<p>Perkembangan AI juga membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Meutya memaparkan proyeksi bahwa pada 2030 sekitar 92 juta pekerjaan berpotensi tergantikan, tetapi pada saat bersamaan akan muncul 170 juta pekerjaan baru.<\/p>\n<p>Perubahan tersebut menuntut generasi muda membekali diri dengan keterampilan baru, terutama kemampuan teknologi dan kolaborasi dengan AI.<\/p>\n<p>Ia menyebutkan, sebanyak 62 persen perusahaan mencari tenaga kerja yang mampu bekerja dengan AI, sementara 77 persen perusahaan melakukan peningkatan dan pengembangan keterampilan pekerjanya.<\/p>\n<p>Pekerjaan rutin, repetitif, dan mudah distandardisasi menjadi kelompok yang paling rentan mengalami otomatisasi. Sebaliknya, kebutuhan tenaga kerja di bidang big data, fintech, kecerdasan artifisial, machine learning, dan pengembangan perangkat lunak diperkirakan terus meningkat.<\/p>\n<p>Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong penguatan pendidikan sains dan teknologi, riset, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, startup, dan investor.<\/p>\n<p>Salah satu upaya yang dikembangkan adalah Garuda Spark Innovation Hub. Program ini telah menghadirkan 10 Innovation Hub, menjangkau 15.700 talenta, membina 80 startup, serta mencatat investasi langsung senilai Rp429,5 miliar.<\/p>\n<p>Meutya mengatakan, pengembangan ekosistem AI membutuhkan dukungan infrastruktur digital dan komputasi, ketersediaan data berkualitas, talenta unggul, riset, inovasi, serta akses pembiayaan dan pasar.<\/p>\n<p><b>Regulasi AI Bukan untuk Menghambat Inovasi<\/b><\/p>\n<p>Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat tata kelola kecerdasan artifisial melalui pengajuan Peraturan Presiden tentang Etika AI dan Peta Jalan AI.<\/p>\n<p>Regulasi tersebut diperlukan agar perkembangan teknologi berlangsung secara aman, bertanggung jawab, dan tetap memberikan perlindungan kepada masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cBukan untuk menghambat inovasi, tapi untuk membuat sebuah inovasi itu aman dan secure, karena pemerintah juga tugasnya adalah melakukan perlindungan bagi rakyatnya dalam hal apa pun,\u201d jelas Meutya.<\/p>\n<p>Ia juga mengingatkan generasi muda agar memiliki tiga kemampuan utama dalam menghadapi perkembangan AI, yakni berpikir kritis dan berani bertanya, berani menciptakan inovasi, serta bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.<\/p>\n<p>Menurutnya, kemudahan mengakses AI jangan sampai membuat anak muda terlena menjadi konsumen teknologi. Justru teknologi harus dimanfaatkan untuk melahirkan karya yang menjawab persoalan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cMenjadi pengguna itu memang nyaman sekali, teman-teman. Saking nyamannya, kita cenderung akan memilih menjadi pengguna saja,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Meutya mencontohkan pemanfaatan AI dan Internet of Things (IoT) yang sudah mulai memberikan dampak di berbagai daerah.<\/p>\n<p>Teknologi tersebut antara lain digunakan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lumbung padi di Sragen, membantu petambak ikan nila di Sukabumi menghemat penggunaan listrik, serta mendukung pelaku UMKM membaca data pelanggan.<\/p>\n<p>Ia menekankan pentingnya keberagaman data dalam pengembangan AI. Tanpa data yang representatif, teknologi berisiko menghasilkan bias dan tidak mampu menggambarkan kebutuhan masyarakat Indonesia secara utuh.<\/p>\n<p>\u201cAI baru menjadi bisa dipertanggungjawabkan ketika dia mengoleksi data yang beragam. Selama belum, maka dia menjadi teknologi yang sangat bias,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p><b>Manusia Harus Tetap Memegang Kendali<\/b><\/p>\n<p>Menutup paparannya, Meutya mengingatkan bahwa secanggih apa pun perkembangan AI, manusia harus tetap menjadi pemegang kendali, terutama dalam menentukan keputusan.<\/p>\n<p>Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028, ia mengajak generasi muda menyatukan pengetahuan, keberanian berinovasi, dan pemanfaatan teknologi untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berdaya saing.<\/p>\n<p>Namun, kemajuan tersebut harus tetap berlandaskan nilai kemanusiaan, empati, dan kecintaan terhadap tanah air.<\/p>\n<p>\u201cMeskipun teknologi sudah bisa seperti itu, keputusan akhir harus ada di manusia. Kita harus jadi pemimpin dari AI itu sendiri. Ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan, ada empati, dan juga terakhir yang paling utama, cinta tanah air, karena AI tidak punya tanah air,\u201d pungkas Meutya.(red\/py).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Analisnews.co.id | JAKARTA \u2013 Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak generasi muda Indonesia mengambil peran lebih besar dalam menentukan masa depan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Anak muda tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus berani menciptakan inovasi dan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan Meutya saat<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":82239,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[595,712,280,2145,1801,2146,2147,1034],"class_list":["post-82231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-example-4","tag-indonesiaemas2045","tag-indonesiayouthsummit2026","tag-meutyahafid","tag-aiindonesia","tag-artificialintelligence","tag-generasidigital","tag-inovasiteknologi","tag-komdigi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82231"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82241,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82231\/revisions\/82241"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82239"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/analisnews.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}