07
Februari
2026
Sabtu - : WIB

Jejak Demak-Mataram hingga Kolonial, Klampok Diusulkan Jadi Cagar Budaya

hartonojkt
hartonojkt
Februari 7, 2026 1:44 pm pada TERKINI
IMG 20260207 WA0038

Analisnews.co.id,
Jakarta,
Upaya pelestarian sejarah kembali mengarah ke Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Kawasan ini dinilai menyimpan simpul penting perjalanan peradaban Jawa, mulai dari jejak awal Demak, Pajang, Mataram, hingga peninggalan kolonial yang masih berdiri dan digunakan hingga kini.

Informasi tersebut disampaikan R. Ngt Arini, Ketua DPW Banyumas Raya Paguyuban Mataram Binangun Nuswantoro (PMBN), pada Jumat (6/2).

Menurut Arini, penguatan status Klampok sebagai kawasan bersejarah mengacu pada hasil kajian lapangan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara yang dilakukan dalam beberapa tahapan. Salah satu penelusuran penting TACB dilakukan pada Jumat (31/1/2026).

“Berdasarkan kajian lapangan TACB Banjarnegara, Klampok menunjukkan lapisan sejarah yang saling berkelindan dan masih terbaca secara utuh hingga kini. Temuan ini menjadi dasar pengajuan Klampok sebagai kawasan cagar budaya,” kata Arini.

Makam Wargo Hutomo Jadi Simpul Sejarah Wirasaba

Arini menjelaskan, hasil penelusuran TACB pada 31 Januari 2026 mengungkap adanya keterhubungan kuat antara situs-situs peninggalan kolonial dengan jejak Kadipaten Wirasaba.

Salah satu simpul penting dalam jaringan sejarah tersebut adalah Makam Wargo Hutomo, tokoh yang dikenal sebagai adipati terakhir Wirasaba sebelum wilayah kekuasaannya dimekarkan menjadi beberapa kadipaten.

Wargo Hutomo disebut sebagai figur sentral dalam sejarah Banyumas Raya. Jejak perannya tidak hanya tercatat dalam sumber tertulis, tetapi juga terus hidup dalam tradisi lisan masyarakat serta praktik ziarah hingga hari ini.

Kantor Pos hingga Polsek Klampok Masuk Kajian

Selain makam tokoh sejarah, kajian TACB juga mencakup sejumlah bangunan kolonial yang masih difungsikan, di antaranya: Kantor Pos Klampok, Kantor Kecamatan Purwareja Klampok, Polsek Klampok, dan Kompleks makam Belanda.

Seluruh objek tersebut direncanakan untuk diusulkan kepada Bupati Banjarnegara agar ditetapkan sebagai bagian dari cagar budaya.

Makam Raden Ngabehi Mertadiwangsa Juga Diusulkan

Arini menambahkan, pengusulan cagar budaya di Klampok tidak hanya berhenti pada Wargo Hutomo. Pihaknya juga mendorong agar Makam Raden Ngabehi Mertadiwangsa masuk dalam daftar cagar budaya.

Raden Ngabehi Mertadiwangsa dikenal sebagai putra dari Danurejo I, Patih Kasultanan Yogyakarta pertama. Ia disebut memiliki garis keturunan yang kuat dan berlapis.

“Dari jalur Wargo Hutomo, ia tercatat berada pada grade delapan. Dari ibundanya, Bra(y) Killen, ia berada pada grade tujuh keturunan Sunan Kalijaga,” ujar Arini.

Lebih lanjut, dari alur Yudanegara I sebagai kakeknya, mengalir garis keturunan Kiai Pawelutan dan Sunan Gripit. Sementara dari jalur neneknya, Padmi Yudanegara II, ia memperoleh garis keturunan dari Pangeran Haryo Damar.

Jaringan genealogis tersebut, menurut Arini, semakin memperkuat posisi Klampok sebagai kawasan penting dalam sejarah Jawa.

Dorong Wisata Religi dan Ekonomi Budaya

Keberadaan makam-makam bersejarah di Klampok saat ini juga berkembang sebagai tujuan wisata religi. Karena itu, pengajuan kawasan Klampok sebagai cagar budaya diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung sejarah, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis budaya dan pariwisata.

Namun Arini menegaskan, pengembangan itu harus dibarengi pengelolaan yang serius, terarah, dan berkelanjutan.

“Harapannya, Klampok bisa menjadi kawasan sejarah yang terlindungi, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat melalui pariwisata budaya,” pungkas Arini.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU