
Analisnews.co.id – Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh pada akhir November 2026 lalu masih menyisakan duka bagi para warga terdampak.
Tak sedikit warga kehilangan rumah, bahkan kehilangan keluarga yang menjadi korban jiwa dalam bencana hidrometeorologi itu.
Di tengah kondisi pilu pascabanjir yang harus dihadapi oleh warga, masih ada sekelumit kisah mengharukan dan menginspirasi.
Salah satunya seperti yang diceritakan oleh seorang warga di Meunasah Geunteng, Kabupaten Pidie Jaya bernama Aisyah.
Baru Saja Beli Kulkas untuk Menyimpan Susu Kucing Sebelum Banjir Datang
Usai diterjang banjir bandang dan tanah longsor, rumah Aisyah kini tertimbun lumpur hampir setengah tinggi dari bangunannya.
Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram relawan @atika_cahyaa, tampak sebuah kulkas yang penuh dengan lumpur mengering, tapi punya kisah di baliknya.
“Dulu kan ada kucing yang baru melahirkan, mamaknya udah mati. Kan harus kasih minum, kasih susu, nggak ada tempat simpan. Beli lah kulkas, tapi habis itu banjir,” ucap Aisyah, dikutip dari unggahan video pada Kamis, 22 Januari 2026.
“Nggak bisa pakai lagi kan setelah itu,” tambahnya.
Aisyah kemudian melanjutkan ceritanya ketika banjir mulai datang ke area rumahnya pada November lalu.
“Malam itu sebelum jam 12, udah tidur. Lalu, adik sepupu ketuk-ketuk pintu, pas bangun, buka pintu, udah masuk airnya ke dalam. Nggak sempat kami ambil apa-apa,” lanjutnya.
Ia mengatakan saat itu hanya bisa membawa baju yang sedang dipakai saja dan tak sempat menyelamatkan barang-barang lainnya.
“Ibu udah kayak gini, merinding, gemetar, ketakutan sampai ke Meunasah diberi tahu airnya naik lagi. Lalu ke masjid lah, yang paling parah memang ini,” terangnya.
Video tersebut lantas menunjukkan kondisi di dalam rumah yang kini dipenuhi lumpur dan genangan air sisa banjir.
Ikut Membantu di Posko Dapur Umum
Lebih lanjut, kondisi rumah yang belum memungkinkan untuk ditempati membuatnya harus tinggal di tenda.
Meski kondisi kekurangan, Aisyah menjadi salah satu warga yang ikut memasak di dapur umum, bahkan sejak hari-hari pertama pascabanjir.
“Memang dari hari pertama, udah dua bulan. Kayak mana ya, karena kan orang kadang pulang sempat bersih-bersih rumah kan, kami kan rasa iba sama saudara kalau nggak ada yang masak,” ucap Aisyah.
“Ikhlaskan, biar Allah yang balas. Kalau kita banyak ujian kan disayang Allah, Alhamdulillah kami sangat senang, terima kasih bantu dapur kami, mengangkat beban kami,” tuturnya.
sementara itu, Kabupaten Pidie Jaya sampai saat ini masih berstatus tanggap darurat bencana yang berlaku hingga 28 Januari 2026.
Keputusan tersebut diambil untuk menjamin kelancaran penanganan korban terdampak serta pemulihan infrastruktur di kabupaten tersebut.***