03
Februari
2026
Selasa - : WIB

Menbud Fadli Zon: Pentingnya Kajian Sejarah Proklamasi yang Harus Digali Kembali

yadisuryadi
yadisuryadi
September 20, 2025 1:12 pm pada Inspirasi, JAKARTA
IMG 20250920

Analisnews.co.id | Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menerima audiensi dari Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Bondan Kanumoyoso dan Ketua Yayasan Lembaga Kajian Heritage Indonesia (YLKHI), Teddy Ichsan Arifin di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.

Pertemuan ini menarik perhatian kedua belah pihak dalam upaya pelestarian sejarah proklamasi bangsa melalui instrumen film.

Berangkat dari pentingnya pemahaman dan apresiasi generasi muda terkait sejarah, mendorong Yayasan Lembaga Kajian Heritage Indonesia (YLKHI) untuk menghidupkan semangat proklamasi melalui film pendek.

Dikemas ke dalam Lomba Naskah Film Rumah Proklamasi, daya tarik visual film dianggap lebih menarik bagi generasi muda untuk menyampaikan pesan sejarah secara lebih emosional dan mendalam.

“Kami ingin mendorong anak muda dalam menuangkan idenya. Kita wadahi, kita berikan fasilitas, dan kita berikan pelatihan agar gagasan gagasan-gagasan tersebut memiliki wadahnya,” jelas Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Bondan Kanumoyoso, mengawali diskusi.

Menanganggapi hal tersebut, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan pentingnya kajian sejarah proklamasi yang harus digali kembali. Terdapat catatan sejarah dari berbagai sisi tokoh kebangsaan seperti Soekarno dan Hatta yang masih dapat dieksplorasi lebih dalam melalui skenario yang lebih inovatif.

“Banyak cerita yang bisa diangkat seputar sejarah proklamasi bangsa, misalnya tokoh pahlawan, kerajaan, peristiwa sejarah,” tutur Menbud Fadli Zon.

Menbud juga menuturkan pentingnya pembentukan sumber daya manusia yang mahir dalam penulisan skenario. “Harus ada mata kuliah penulisan skenario, pasti peminatnya banyak,” sambut Menbud antusias.

Melalui Lomba Naskah Film Rumah Proklamasi yang diinisiasi oleh YLKHI, Teddy Ichsan Arifin memetakan setidaknya ada empat tujuan utama.

Pertama, kembangkan bakat penulisan skenario; meningkatkan kualitas skenario bertema sejarah; melibatkan masyarakat dalam pelestarian sejarah; dan mendorong kolaborasi antarpenulis skenario, pelatih ahli, hingga komunitas perfilman.

Masih dilandasi oleh semangat yang sama, Menbud Fadli Zon membagikan pengalamannya saat menghadiri diskusi bertajuk Ngobrol Film sebelum memulai audiensi.

Dalam momentum yang menghadirkan sejumlah sineas perfilman ternama tanah air tersebut, Menbud Fadli Zon menekankan film sebagai bagian penting dalam ekspresi budaya Indonesia.

“Saya baru saja menghadiri LSMFI (Ngobrol Film), kami akan membuat lomba penulisan skenario film panjang dan membuka ruang juga agar profesional bisa ikut,” jelasnya.

Menanganggapi Lomba Naskah Film Rumah Proklamasi yang diinisiasi oleh YLKHI, Menbud Fadli Zon dorong pelibatan Dana Indonesia dalam merealisasikan giat tersebut. “Kita memiliki Dana Indonesiana, pastikan sudah terdaftar ke dalam program tersebut untuk dapat ditindaklanjuti.”

Mengusung tema pemajuan kebudayaan yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan, Kementerian Kebudayaan melalui program Dana Indonesia ingin mewujudkan ekosistem budaya yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia. Dengan berbagai kategori penerima manfaat, penyediaan Dana Indonesia berupaya mendukung upaya tersebut.

Menutup diskusi, Menbud Fadli Zon juga menyinggung sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari museum peran para edukator. Mereka hadir sebagai jembatan penting yang menghubungkan pengetahuan masa lampau dengan generasi masa kini, sehingga nilai-nilai sejarah dapat dipahami, dihayati, dan diwariskan secara berkelanjutan.

Menurutnya, diperlukan museum edukator yang fasih berbahasa asing dan tidak hanya memahami runtutan sejarah tetapi mampu mengembangkannya menjadi sebuah cerita.

Turut mendampingi Menbud Fadli Zon dalam audiensi ini yakni Staf Ahli Menteri bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; Staf Khusus Menteri bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana; dan sejumlah anggota Yayasan Lembaga Kajian Heritage Indonesia.

Melalui kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan sejarawan diharapkan upaya pelestarian sejarah bangsa dapat terus hidup di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.

Film menjadi medium strategi yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat jati diri bangsa, menumbuhkan apresiasi terhadap nilai-nilai sejarah, serta membuka ruang kreasi yang lebih luas bagi insan kreatif Indonesia.

Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesia juga berkomitmen untuk terus mendorong raksasa kreatif seni dan budaya untuk pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan.

Red/Timdy

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU