04
Februari
2026
Rabu - : WIB

Mengenang Kekejaman dan Penghianatan PKI ” Goresan Mendalam Akan Peristiwa G30S/PKI”

ranugito
ranugito
September 30, 2025 6:45 am pada TERKINI
Screenshot 20250930 073626 Google

Mengenang Kekejaman dan Penghianatan PKI
“Goresan Luka Mendalam Akan Peristiwa G30S/PKI”

 

Analisnews.co.id – DENPASAR | Sejarah pernah berdarah. “Kini giliran kamu menjaga agar darah itu tak terulang.”
Buka Mata Malam yang Merenggut Cahaya
Bayangkan dirimu berjalan sendiri di malam gelap. Tanpa tahu, langkahmu membawamu ke sebuah jurang sunyi. Di dalamnya ada suara lirih rintihan, kain-kain koyak, dan bisikan dendam yang membeku dalam diam.

Dalam sejarah, malam 30 September 1965 adalah malam seperti itu bukan mimpi buruk yang cepat hilang waktu pagi, melainkan luka yang terus berdengung dalam ingatan bangsa.

Empat sampai enam jenderal diculik dan dibuang ke lubang Buaya. Kekerasan bukan hanya alat intimidasi, tetapi ritual penghancuran merobek harga manusia, jiwa, dan harapan. (Lihat catatan “Kilas Balik Kekejaman G30S/PKI”
Saksi yang Tak Bisa Dibungkam: Sukitman, Polisi Muda yang Selamat
Di tengah malam penghianatan, seorang polisi muda bernama Sukitman ikut diculik saat patroli.

Ia dibawa ke Lubang Buaya. Namun, dalam kondisi genting ia berhasil melarikan diri dan kemudian menjadi saksi kunci untuk mengungkap lokasi penguburan jenazah para jenderal.

Dalam kesaksiannya, ia menyebut bahwa pada 3 Oktober 1965 ditemukan timbunan tanah dan sampah di kebun karet Lubang Buaya yang diyakini sebagai tempat jenazah dikubur.

Bayangkan, kengerian itu tidak hanya dalam cerita buku, tapi disaksikan oleh seseorang yang pernah berada di balik tirai malam tragedi.

Sukitman bukan superhero dalam cerita fiksi ia manusia biasa yang dalam kesedihan malam menjadi saksi hidup bahwa kejahatan itu pernah nyata.

Bukan Sekadar Angka Ribuan Kuburan, Ratusan Ribuan Korban
Kalau kau berpikir tragedi itu “hanya cerita lama,” lihatlah fakta berikut:

(a) Peneliti sepakat bahwa korban dalam pembantaian pasca-G30S mencapai sekitar 500.000 orang (setengah juta jiwa),

(b) Dalam temuan lapangan oleh Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP), tercatat 346 kuburan masal yang berisi ribuan jasad di berbagai wilayah: Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali.

(c) Pembantaian massif itu meluas dari kota ke desa, dari Jawa ke luar pulau, melibatkan milisi lokal, warga sipil, serta aparat yang punya kekuatan negara.

Korban tidak hanya pejabat, tapi petani, buruh, siswa, guru orang biasa yang tiba-tiba dianggap “musuh ideologi.”
Bila kau kehilangan satu nyawa, itu tragedi. Bila kau kehilangan ratusan ribu, itu neraka kolektif bangsa.

Teori Memori Kolektif & Politik Ingatan: Mengapa Kita Harus Ingat?
a) Memori Kolektif Penopang Identitas, menurut teori memori kolektif, suatu bangsa hidup bukan hanya dari masa kini, tapi dari cara ia mengingat masa lalu. Jika kenangan kelam dihapus atau dibungkam, maka identitas moral bangsa rapuh.

Monumen, museum, peringatan tahunan semua adalah “tali ingatan” agar bangsa tak melupakan luka. Lubang Buaya kini menjadi museum bukan sekadar lokasi fisik, tapi simbol memori kolektif agar setiap generasi tahu betapa dalam pengkhianatan pernah coba mencabik tubuh negara.

b.Politik Memori Siapa yang Menulis Sejarah?, narasi resmi seringkali memilih sisi yang menang. Pada rezim Orde Baru, narasi tunggal sangat dominan: PKI sebagai musuh terbesar bangsa.

Pembicaraan lain tentang kelalaian negara, peran milisi lokal, trauma psikologis sering ditekan atau dibisu. Generasi muda harus kritis menanyakan: siapa yang menulis buku sejarah? Apakah hanya versi satu pihak yang didengar? Tanpa kecermatan, kita bisa menerima versi yang menutupi atau memutar balik korban.

c. Identitas Sosial dan Agent Moral, teori identitas sosial menyebut bahwa kita memilih identitas kelompok keluarga, sekolah, komunitas yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Bila nilai-nilai seperti toleransi, nasionalisme, keadilan, kesadaran sejarah ditanam dalam lingkunganmu maka benih mental pengkhianat akan sulit tumbuh.
Pesan Tegas untuk Generasi Muda: 5 Pita yang Harus Kuat dalam Jiwamu
PITA
ARTI
CARA MENGUATKANNYA

Pita Cinta Tanah Air
Rasa memiliki terhadap NKRI
Pahami perjuangan pahlawan; hadirkan diskusi kebangsaan di kampus/sekolah

Pita Kesetiaan pada Konsensus Dasar
Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI
Perkenalkan makna dalam praktik, bukan jargon kosong

Pita Keberanian Berpikir Kritis
Menolak “narasi tunggal”
Baca berbagai sudut pandang sejarah; berdiskusi secara terbuka

Pita Empati pada Korban
Menghargai korban sebagai manusia, bukan angka
Ikuti pelajaran sejarah lokal, kunjungi situs peringatan, dengar kisah keluarga korban

Pita Kewaspadaan Ideologi Merusak
Tidak mudah terbujuk ajakan ekstrem
Pelajari cara propaganda bekerja; kenali teknik manipulasi ideologi

 

Akhir yang Bersuara: Janji pada Tempurung Waktu
Media kampus, media pelajar, media komunitas kamu punya ruang strategis untuk menumbuhkan kesadaran.

Tulis cerita lokal korban, wawancara generasi tua yang menyaksikan tragedi, hingga gelar diskusi “Mengapa G30S Tak Boleh Dilupakan.”
Jangan biarkan darah pengkhianat mengalir dalam tubuh nasional kita lewat kealpaan, lewat sejarah yang dibiarkan mati, lewat generasi muda yang tak lagi punya lagu kebangsaan di hatinya.

Generasi muda, ingatlah: kemerdekaan ini diperjuangkan bukan dengan ratapan, bukan dengan permintaan tetapi dengan kegigihan, pengorbanan, dan penegakan kebenaran. Jadilah kamu yang menjaga agar merah-putih tak pernah pudar dalam nadi bangsa. (ranu)

Oleh DR.Anak Agung Putu Sugiantiningih S.IP.,M.AP

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU