
Analisnews.co.id, Jakarta – Musik Indonesia kehilangan satu penulis perasaan yang paling sabar. Ryan Kyoto, musisi dan pencipta lagu yang karya-karyanya pernah menjadi penanda zaman, telah berpulang pada Rabu, 28 Januari 2026, di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia pergi tanpa gaduh—seperti lagu-lagunya yang sejak awal memilih berbicara dengan suara pelan.
Pada era 1980-an, nama Ryan Kyoto dikenal luas sebagai pencipta lagu yang peka membaca luka batin manusia. Karyanya hidup melalui suara orang lain—Ermy Kullit, Chrisye, Novia Kolopaking, hingga Sheila Majid—dan justru dari sanalah ia menemukan keabadian. Pasrah, Biarlah, dan Sendiri Lagi menjelma lagu-lagu yang tak lekang oleh waktu, karena Ryan tidak pernah memaksa pendengarnya untuk segera sembuh.
Ryan memahami bahwa cinta tidak selalu menang. Dalam Cinta Jangan Kau Pergi, yang dipopulerkan Sheila Majid, ia menulis doa yang terlambat: sebuah permohonan agar kepergian dapat ditunda, meski hanya sebentar. Lagu itu menyeberangi batas negara, menempatkan namanya di antara sedikit pencipta lagu Indonesia yang karyanya diterima luas di Malaysia.
Selain sebagai pencipta, Ryan juga memilih sesekali berbicara dengan suaranya sendiri. Album solo Nita menjadi ruang pengakuan yang jujur. Digarap bersama para musisi dan penata musik terkemuka seperti Youngky Soewarno, Ireng Maulana, dan Erwin Gutawa, album ini memperlihatkan sisi lain Ryan Kyoto: seorang penyanyi yang tidak ingin mendominasi, melainkan menyampaikan.
Lagu Nita yang bernuansa bossa nova mengalir ringan, seolah cinta masih mungkin dirawat. Namun Emosi dan Emosi justru menjadi simpul utama album itu—sebuah lagu tentang pergulatan batin yang tak selesai, tentang perasaan yang berulang tanpa jalan keluar. Lagu ini, seperti banyak karya Ryan lainnya, kini terasa sebagai firasat yang tak disengaja.
Di balik karya-karya besarnya, Ryan Kyoto pernah menyampaikan kekecewaan dengan nada lirih. Ia merasa profesi pencipta lagu di Indonesia belum sepenuhnya dimuliakan. Ia mengaku justru merasa lebih dihargai ketika berada di Malaysia, tempat karya diperlakukan sebagai sumber kehidupan yang layak, bukan sekadar pelengkap industri.
Pernyataan itu hari ini terdengar seperti pesan terakhir—bukan tuntutan, melainkan pengingat.
Kepergian Ryan Kyoto menambah daftar panjang musisi Indonesia yang wafat dengan meninggalkan karya jauh lebih besar daripada pengakuan yang diterimanya semasa hidup. Namun musik bekerja dengan caranya sendiri. Ia tidak tunduk pada waktu dan tidak bergantung pada penghargaan.
Ryan Kyoto telah pergi. Tetapi lagu-lagunya tetap tinggal—di radio yang diputar pelan, di kenangan cinta yang gagal, di sunyi yang tiba-tiba terasa akrab. Ia tidak lagi menulis lagu baru, tetapi karya-karyanya akan terus menulis kita.
Selamat jalan, Ryan Kyoto.
Terima kasih telah mengajarkan bahwa duka bisa dinyanyikan dengan tenang, dan cinta tak selalu harus menang untuk dikenang.