
Analisnews.co.id
Jakarta – Penguatan mental dan moral prajurit dinilai menjadi fondasi utama dalam mewujudkan TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang profesional, disiplin, dan berkarakter kuat di tengah tantangan era digital. Hal ini disampaikan Kepala Pembinaan Mental Akademi Angkatan Udara (AAU), Letkol Sus Giyanto, dalam tulisannya bertajuk Mental Tangguh Menuju TNI AU Ampuh.
Menurutnya, moral dan mental prajurit sejak lama menjadi perhatian serius karena berperan sebagai barometer sikap hidup prajurit, mulai dari dedikasi, loyalitas, disiplin, tanggung jawab, hingga kemampuan menjaga keharmonisan keluarga di tengah tuntutan tugas, baik dalam masa damai maupun operasi militer.
Letkol Sus Giyanto menilai perkembangan teknologi digital tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas moral. Justru, di era digital masih ditemukan berbagai pelanggaran disiplin prajurit, perilaku menyimpang dari nilai agama, serta tindakan yang bertentangan dengan hukum.
“Mental tangguh merupakan syarat mutlak bagi prajurit TNI dalam melaksanakan tugas pokok. Namun faktanya, pelanggaran disiplin masih terjadi dan perlu disikapi secara serius,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa tantangan moral dan mental prajurit saat ini dipengaruhi oleh budaya global dan derasnya arus informasi. Dampaknya bersifat ganda, di satu sisi membawa kemajuan, namun di sisi lain berpotensi merusak nilai dan mentalitas prajurit. Tekanan tugas, lingkungan kerja, serta godaan pelanggaran turut memperparah kondisi tersebut.
Sejumlah pelanggaran berat yang dikenal sebagai “tujuh dosa besar prajurit TNI” masih menjadi ancaman, mulai dari penyalahgunaan senjata api, narkotika, asusila, desersi, hingga tindak kriminal. Di era digital, tantangan tersebut bertambah dengan maraknya kecanduan judi online, pinjaman online, game online, dan perilaku menyimpang lainnya yang berdampak serius pada kesehatan mental dan kualitas hidup prajurit.
Menghadapi kondisi tersebut, pembinaan mental dinilai tidak bisa hanya dibebankan kepada perwira pembina mental. Seluruh unsur pimpinan, terutama komandan satuan, memiliki peran strategis dalam pembinaan mental melalui fungsi komando.
“Jika pembinaan mental melekat pada kepemimpinan sehari-hari, maka proses pembentukan karakter prajurit akan berjalan lebih optimal,” jelasnya.
Ia menawarkan sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan. Pertama, membangun kepemimpinan yang berintegritas, efektif, dan proaktif. Pemimpin harus menjadi teladan, peka terhadap potensi pelanggaran, serta mampu memberikan dukungan moral dan emosional kepada prajurit.
Kedua, memperkuat pendidikan dan penguatan karakter sejak pendidikan dasar militer, baik di AAU, pendidikan bintara, maupun tamtama. Pendekatan berbasis nilai agama dan karakter dinilai efektif sebagai benteng menghadapi tantangan moral di era digital.
Ketiga, memperkuat kerja sama lintas kementerian dan lembaga, termasuk TNI dan Polri, dalam upaya preventif dan solutif terhadap pelanggaran disiplin. Dukungan sosial dan hubungan interpersonal yang kuat di lingkungan satuan juga dinilai mampu menjaga stabilitas moral prajurit.
Sebagai penutup, Letkol Sus Giyanto menegaskan bahwa penguatan karakter dan moral prajurit harus menjadi prioritas jangka panjang dalam pembinaan mental TNI AU. Program yang strategis, berkelanjutan, dan terintegrasi diyakini mampu mendukung keberhasilan tugas pokok TNI serta menjaga kehormatan institusi.