12
April
2026
Minggu - : WIB

Peringati Hari Pangan Sedunia, Kementerian PU Pertegas Komitmen Dukung Swasembada Pangan Lewat Infrastruktur Irigasi

vritimes
Oktober 21, 2025 10:51 am pada BISNIS

Jakarta, 17 Oktober 2025 – Memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Komitmen ini diwujudkan melalui percepatan pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi yang andal di seluruh Indonesia. Upaya tersebut merupakan langkah konkret untuk menindaklanjuti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan.

Sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia tahun 2025, “Hand in Hand for Better Food and a Better Future” atau Bergandengan Tangan untuk Pangan yang Lebih Baik dan Masa Depan yang Lebih Baik, semangat kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Tema ini menjadi pengingat betapa pentingnya kerja bersama dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Sejalan dengan semangat tersebut, Kementerian PU menekankan bahwa air adalah elemen vital bagi ketahanan pangan, di mana sistem irigasi yang efisien berfungsi sebagai tulang punggung untuk mendongkrak produktivitas pertanian nasional.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi adalah langkah strategis untuk mewujudkan swasembada pangan, sebagaimana yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. “Air adalah fondasi utama pangan. Tanpa infrastruktur irigasi yang baik, sulit mencapai kemandirian pangan. Karena itu, kami mempercepat pelaksanaan Inpres No 2 Tahun 2025 untuk memastikan setiap tetes air memberi manfaat bagi petani dan produksi pangan nasional,” kata Menteri Dody.

Sebagai implementasi Tahap I Inpres No 2 Tahun 2025, Kementerian PU telah memberikan dukungan fasilitasi irigasi pada lokasi kegiatan Optimasi Lahan (Oplah) yang digagas Kementerian Pertanian. Dukungan ini menyasar Daerah Irigasi (DI) kewenangan daerah seluas 280.880 hektar. Bantuan teknis ini berperan sangat penting dalam mendukung peningkatan intensitas tanam serta memperkuat masa tanam kedua (MT II) maupun ketiga (MT III) bagi para petani di lapangan.

Selanjutnya, pada Tahap II, fokus Kementerian PU adalah pembangunan dan rehabilitasi daerah irigasi yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah, yang mencakup jaringan primer, sekunder, hingga tersier. Selain itu, program ini juga menyentuh pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Tidak ketinggalan, pembangunan dan rehabilitasi Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dengan teknologi pompanisasi juga digalakkan untuk mengangkat air dari dalam tanah, yang kemudian disalurkan ke sawah-sawah yang sebelumnya tidak terjangkau irigasi permukaan. Program ini secara keseluruhan memberikan layanan irigasi seluas 225.775 hektar dengan total anggaran Rp6,10 triliun.

Dukungan pembangunan dan rehabilitasi JIAT dalam Inpres No 2 Tahun 2025 Tahap II meliputi pembangunan 754 unit JIAT baru, rehabilitasi 76 unit sumur, serta pembangunan 3 embung. Sebagai bagian dari langkah terpadu untuk memperkuat sistem irigasi nasional berbasis air tanah, Kementerian PU juga memberikan dukungan tambahan melalui kegiatan reguler Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air. Dukungan ini mencakup pembangunan 579 unit JIAT dan rehabilitasi 1.226 unit sumur JIAT.

Di sisi lain, Kementerian PU pada tahun 2025 juga memberikan dukungan program ketahanan pangan melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dengan skema Padat Karya. Program ini punya keunikan karena melibatkan langsung masyarakat petani melalui kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Gabungan P3A (GP3A), atau Induk P3A (IP3A) dalam kegiatan pembangunan, peningkatan, maupun rehabilitasi jaringan irigasi secara swakelola.

Keterlibatan langsung petani ini diharapkan tidak hanya menghasilkan infrastruktur fisik yang berkualitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, mengurangi angka pengangguran, serta meningkatkan daya beli masyarakat di desa-desa sasaran. Hingga awal Oktober 2025, program P3-TGAI Tahap I yang tersebar di 8.000 lokasi di seluruh Indonesia telah mencapai progres fisik sebesar 54,98% dan berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 98.919 orang. Program P3-TGAI ini rencananya akan diperluas pada Tahap II dengan menyasar 1.597 lokasi tambahan.

Melalui berbagai langkah strategis tersebut, Kementerian PU terus mengambil peran aktif dalam memastikan ketersediaan air untuk pertanian, meningkatkan efisiensi jaringan irigasi, serta memperkuat fondasi sistem pangan nasional yang berkelanjutan. Momentum Hari Pangan Sedunia 2025 menjadi pengingat bahwa upaya mewujudkan swasembada pangan bukanlah tugas satu sektor saja, melainkan hasil kerja bersama lintas sektor, di mana infrastruktur Sumber Daya Air dari Kementerian PU menjadi salah satu penopang utamanya.

Program kerja ini merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam menjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.

#SigapMembangunNegeriUntukRakyat

#SetahunBerdampak

Tentang Biro Komunikasi Kementerian Pekerjaan Umum

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) merupakan kementerian negara dalam Kabinet Merah Putih di Pemerintah Republik Indonesia. Kementerian ini bertugas dalam urusan pekerjaan umum, yaitu: bertugas dan bertanggung jawab atas pembangunan dan pengelolaan infrastruktur di Indonesia, termasuk jalan raya, jembatan, pengelolaan air. Kementerian Pekerjaan Umum bertanggung jawab kepada Presiden. Sejak tanggal 21 Oktober 2024, kementerian dipimpin Dody Hanggodo.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Disalin

Pos Terkait

November 20, 2025 7:42 am
Tokoh Logistik Nasional Bongkar Penyebab Biaya Logistik Termahal di Asia TenggaraBiaya logistik Indonesia mencapai 14,9% dari PDB, yang mana tertinggi di Asia Tenggara, yang disebabkan oleh empat faktor utama yang menghambat daya saing, yaitu: proteksi industri truk dan oligopoli, mahalnya infrastruktur tol, fluktuasi nilai tukar Rupiah, serta kompleksitas regulasi dan birokrasi; namun, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), Daniel Budi Setiawan, menawarkan solusi strategis melalui digitalisasi logistik dengan aplikasi muatmuat yang bertujuan mengoptimalkan utilitas armada, meningkatkan transparansi pasar, dan menekan biaya suku cadang guna menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan kompetitif. JAKARTA – Biaya logistik Indonesia yang masih mencapai 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggi di Asia Tenggara dan jauh di atas rata-rata negara maju (8-9%) dinilai menjadi ancaman serius bagi daya saing ekonomi nasional. Menurut Ir. Daniel Budi Setiawan, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), tingginya biaya logistik mencerminkan masih rendahnya efisiensi rantai pasok nasional yang berimbas langsung pada harga produk dan daya beli masyarakat. “Angka 14,9% ini sangat membebani. Biaya tersebut akhirnya ditransfer ke harga jual produk, membuat barang-barang kita kurang kompetitif di pasar global,” ujar Daniel. Empat Faktor Penghambat Efisiensi Logistik Nasional Berdasarkan pengalaman Daniel selama puluhan tahun memimpin perusahaan logistik PT. Siba Surya yang punya aset ribuan truk dari yang awalnya hanya belasan, terdapat empat variabel utama yang berkontribusi terhadap tingginya biaya logistik Indonesia, di mana sebagian besar masih berada dalam kendali kebijakan pemerintah. 1. Proteksi Industri Truk (Kartel Pabrikan): Kebijakan proteksi yang sudah berjalan lebih dari lima dekade terhadap merek truk asal Jepang seperti Fuso, Hino, Isuzu, dan Nissan Diesel menyebabkan harga barang modal meningkat drastis. “Sampai saat ini, commercial vehicle masih dibebani bea masuk 35-45%. Empat merek besar itu berada dalam posisi oligopoli. Kalau mereka sepakat menaikkan harga, pasar tidak punya pilihan lain,” tegas Daniel. 2. Infrastruktur Tol yang Mahal: Tidak seperti di negara maju, di mana pajak kendaraan sudah mencakup hak menggunakan jalan bebas hambatan, Indonesia masih menerapkan sistem tol berbayar yang dianggap mahal bagi pelaku transportasi barang. Hal ini menambah biaya transportasi logistik di luar pajak kendaraan tahunan. 3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah: Ketergantungan terhadap suku cadang dan bahan bakar impor membuat biaya operasional sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah. Setiap perubahan kurs berpotensi menaikkan ongkos logistik secara signifikan. 4. Regulasi dan Birokrasi: Kompleksitas perizinan, pajak ganda (PPN, PPh, Bea Masuk, PKB, KIR), serta birokrasi antarinstansi memperpanjang proses dan meningkatkan biaya distribusi nasional. Peran Swasta: Mendorong Efisiensi dan Transparansi Meski tiga dari empat faktor tersebut bersifat makro, sektor swasta dinilai tetap memiliki ruang untuk mendorong efisiensi melalui inovasi dan digitalisasi logistik. Berbekal pengalaman puluhan tahun menghadapi kompleksitas industri logistik, Daniel menghadirkan muatmuat sebagai solusi strategis bagi pelaku logistik untuk memangkas biaya dan membuka efisiensi baru dalam rantai pasok Indonesia. Daniel mencontohkan langkah-langkah yang dapat diambil industri untuk mengurangi beban biaya, seperti: 1. Mengoptimalkan Utilisasi Armada: Mengurangi jumlah truk yang kembali kosong (empty return) dengan sistem pencocokan muatan digital di fitur Transport Market. 2. Meningkatkan Transparansi Pasar: Menghubungkan pengirim dan transporter secara langsung agar rantai distribusi lebih efisien dan biaya mark-up berkurang. 3. Digitalisasi Suku Cadang: di muatmuat juga tersedia Platform e-commerce bernama muatparts khusus logistik dapat menghadirkan harga suku cadang yang lebih kompetitif untuk menekan biaya operasional transportasi. “Kami percaya efisiensi pasar dapat dicapai lewat kolaborasi dan keterbukaan data. Semakin terhubung pelaku logistik nasional, semakin sehat pula industrinya,” tambah Daniel di podcast bersama Helmy Yahya. Aplikasi muatmuat, yang dikembangkan oleh Daniel Budi Setiawan dan kini telah dipercaya oleh puluhan ribu pelaku logistik nasional sejak mulai dipasarkan pada 2024, menjadi contoh nyata kontribusi sektor swasta dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien, transparan, dan berdaya saing. Karakter yang Dibutuhkan untuk Bertahan di Industri Logistik Bagi Daniel, industri logistik adalah arena yang menuntut ketahanan mental, disiplin, dan keberanian untuk terus bergerak. “Yang bisa survive di industri ini adalah mereka yang punya dedikasi penuh dan mental petarung,” ujarnya. Berhenti sejenak saja bisa tersingkir oleh mekanisme pasar, sehingga ekspansi dan adaptasi menjadi kunci untuk bertahan. Pengalaman panjang Daniel menghadapi kerasnya industri transportasi membentuk pemahaman bahwa banyak pelaku logistik sebenarnya mampu tumbuh, asal prosesnya dibuat lebih sederhana, efisien, dan terukur. Dari sinilah muatmuat lahir: sebagai perpanjangan dari semangat bertarung itu. Bukan sekadar platform, tetapi alat yang membantu pelaku industri meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya operasional, dan tetap kompetitif di tengah tantangan. Bagi Daniel, logistik memang keras, tapi selalu memberi ruang bagi mereka yang cukup kuat dan cukup berani untuk terus maju. Tentang muatmuat muatmuat hadir dengan visi menjadi produk yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat logistik di Indonesia. khususnya yang berdampak kepada : 1. Rendahnya daya beli masyarakat 2. Rendahnya kualitas atau nilai kompetitif sebuah produk/jasa, dan 3. Roda perekonomian di Indonesia Berbekal pengalaman nyata selama 4 generasi di bidang logistik serta teknologiyang handal, kami siap bersama pemangku kepentingan berkolaborasi mengemban misi dalam mendigitalisasi dan membangun industri logistik yang berkelanjutan. Kami turut mengajak masyarakat logistik untuk tergabung, saling terhubung dan jalan mudah bersama kami. Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU