
Perumda MGS Badung Gandeng Food Station, Perluas Penyerapan Gabah dan Perkuat Pasok Beras Bali
Analisnews.co.id-BADUNG | Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung menjalin kerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta, PT Food Station Tjipinang Jaya.
Penandatanganan Kerja Sama (PKS) atau MoU Perumda MGS Badung dan Food Station Tjipinang Jaya dilakukan di Rice Milling Unit (RMU) Perumda MGS, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Kamis, 5 Pebruari 2026.
Istimewanya, MoU Kerja Sama dihadiri Bupati Badung Wayan Adi Arnawa dan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Badung Ponda Wirawan beserta sejumlah undangan lainnya.
Kolaborasi ini bertujuan memperluas pasar penyerapan gabah petani sekaligus memperkuat rantai pasok pangan di Bali. Pemerintah daerah mendorong sinergi antar-BUMD agar surplus produksi beras tetap terserap dan harga tetap stabil.
Data produksi menunjukkan sektor pertanian Badung menghasilkan sekitar 57.338 ton beras pada 2025, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat hanya sekitar 49.441 ton per tahun.
Kondisi surplus ini mendorong kerja sama distribusi agar hasil panen petani tidak terbuang dan memiliki pasar yang jelas.
Direktur Utama Perumda Pasar MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha, menegaskan kerja sama ini bukan untuk mengirim beras ke Jakarta, melainkan memenuhi kebutuhan pasar Food Station yang sudah ada di Bali.
“Jadi, bukan Badung mengirim beras ke Jakarta, jadi kebetulan food station punya market ada di Bali, kita mengisi marketnya itu. Jadi konteksnya, sementara market yang ada di Bali yang hampir sekitar Rp 1 miliar per bulan kita yang isi,” ujarnya.
Menurutnya, kapasitas produksi RMU Badung cukup besar. Jika beroperasi optimal selama 24 jam, produksi beras bisa mencapai ratusan ton setiap bulan.
“Kalau kami hitung, secara kasar, mungkin kalau beroperasi full, optimal 24 jam, itu kemungkinan bisa sampai 600 ton per bulan,” terangnya.
Pada tahap awal, penyerapan ditargetkan sekitar 500 ton per bulan, dengan kebutuhan pasokan gabah sekitar 1.000 ton per bulan dari petani Badung dan wilayah sekitarnya.
“Sementara mencukupi, karena sementara kita mau coba 500 ton per bulan, kebutuhannya 1000 ton gabah per bulan, itu kondisi memang surplus,” ucapnya.
Selain beras, kolaborasi antar-BUMD ini juga membuka peluang kerja sama komoditas pangan lain seperti minyak, gula, dan produk strategis lainnya sebagai bagian dari hilirisasi sektor pangan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Cipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, menilai Bali sebagai pasar potensial karena kebutuhan beras masih tinggi dan sebagian pasokan masih berasal dari luar daerah.
Menurutnya, Food Station memilih Badung, karena memiliki pasar besar dari sektor pariwisata, terutama hotel, restoran dan katering.
Selain itu, pemilihan Kabupaten Badung juga market Badung sangatlah besar, lantaran terdapat banyak hotel di tempat tersebut.
“Saat ini kan kita ada penjualan senilai kurang lebih 1 sampai 2 miliar per bulan itu bukan hanya beras tapi juga ada gula juga,” ujarnya.
Tri Widodo juga menambahkan, berdasarkan data kebutuhan pangan, Bali masih mengalami kekurangan pasokan beras.
“Kalau dari kebutuhan saya baca di BPS itu kan 500 ribu ton per tahun ya di Bali. Nah selama ini kan disuplai dari daerah luar dari Jawa Timur kemudian NTB,” paparnya.
“Kedepan, kami berharap kerja sama ini mampu menjaga stabilitas harga gabah, memperluas penyerapan hasil panen petani serta memastikan ketahanan pangan Bali tetap terjaga secara berkelanjutan,” harapnya. (ace).
Perumda MGS Badung, Food Station Cipinang Jaya, penyerapan gabah petani, ketahanan pangan Bali, produksi beras Badung, Kompiang Gede Pasek Wedha