03
Februari
2026
Selasa - : WIB

Program Desa Emas Dorong Pertumbuhan Ekononomi Desa Mandiri Melalui Kegiatan Golden Pitch – Demoday 2025

vritimes
vritimes
November 11, 2025 10:33 pm pada BISNIS
Demo Day Program Desa Emas

Jakarta, 8 November 2025 – Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK), berkolaborasi dengan Yayasan Indonesia Setara, menyelenggarakan puncak rangkaian Program Desa Ekonomi Maju dan Sejahtera (Desa Emas), yang bertujuan mendorong kemandirian ekonomi desa dengan mengoptimalkan potensi lokal, meningkatkan kapasitas pelaku usaha desa, serta menciptakan ekosistem wirausaha berkelanjutan.

Selama delapan bulan pelaksanaan program di empat wilayah, yaitu Kabupaten Karawang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Bogor-Sukabumi, berbagai kegiatan telah dilakukan. Kegiatan tersebut meliputi pelatihan kewirausahaan, pendampingan bisnis, fasilitasi akses pasar, branding, pendaftaran legalitas usaha, hingga penguatan kapasitas kelembagaan usaha desa kepada lebih dari 1.069 penerima manfaat di 38 desa, 136 diantaranya telah menerima fasilitasi legalitas, 43 kelompok usaha telah melakukan peneraparan teknologi hilirisasi, lebih dari 58 kelompok usaha/UMKM diberikan bantuan alat dan terciptanya lebih dari 100 lapangan kerja bagi masyarakat di tingkat daerah.

Sebagai puncak rangkaian kegiatan, berlangsung Demo Day Program Desa Emas yang menjadi ajang bagi pelaku usaha desa menampilkan hasil pengembangan produk unggulan, memperluas jejaring bisnis, serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak strategis. Salah satu kegiatan utama dalam Demoday adalah Business Matching yang bertujuan membuka akses pasar, meningkatkan pemahaman tren bisnis dan perdagangan, serta mendorong inovasi dalam berbisnis. Kegiatan ini melibatkan para mitra potensial dari sektor lembaga pembiayaan, jasa logistik, retail dan buyer. Potensi pembiayaan dan pemasaran yang terjadi mencapai Rp 2.865.000.000, sementara nilai penjualan selama tiga hari pameran mencapai Rp 33.948.000.

Puncak acara Demoday adalah Golden Pitch, sebuah sesi pitching bagi lima peserta terbaik dari UMKM dan kelompok usaha binaan di empat wilayah Program Desa Emas. Mereka dimentori langsung oleh Sandiaga Uno sebagai pendiri Yayasan Indonesia Setara dan Yayasan INOTEK, Angela H. Tanoesoedibjo selaku Ketua Umum MNC Peduli, serta Anggieta Harry Prasetyo yang merupakan Chief Marketing Officer PT. Berkah Melano Indonesia.

Dari kegiatan ini, terpilih 12 kelompok usaha atau UMKM paling berkembang dari empat wilayah Program Desa Emas, serta satu pemenang pitching terbaik. Melalui kegiatan ini, diharapkan kemandirian ekonomi desa tumbuh melalui pemanfaatan potensi lokal dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang kompeten, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di tingkat daerah.

About Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia
Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK)

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Disalin

Pos Terkait

Public (2) (34)
November 20, 2025 7:42 am
Tokoh Logistik Nasional Bongkar Penyebab Biaya Logistik Termahal di Asia TenggaraBiaya logistik Indonesia mencapai 14,9% dari PDB, yang mana tertinggi di Asia Tenggara, yang disebabkan oleh empat faktor utama yang menghambat daya saing, yaitu: proteksi industri truk dan oligopoli, mahalnya infrastruktur tol, fluktuasi nilai tukar Rupiah, serta kompleksitas regulasi dan birokrasi; namun, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), Daniel Budi Setiawan, menawarkan solusi strategis melalui digitalisasi logistik dengan aplikasi muatmuat yang bertujuan mengoptimalkan utilitas armada, meningkatkan transparansi pasar, dan menekan biaya suku cadang guna menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan kompetitif. JAKARTA – Biaya logistik Indonesia yang masih mencapai 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggi di Asia Tenggara dan jauh di atas rata-rata negara maju (8-9%) dinilai menjadi ancaman serius bagi daya saing ekonomi nasional. Menurut Ir. Daniel Budi Setiawan, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), tingginya biaya logistik mencerminkan masih rendahnya efisiensi rantai pasok nasional yang berimbas langsung pada harga produk dan daya beli masyarakat. “Angka 14,9% ini sangat membebani. Biaya tersebut akhirnya ditransfer ke harga jual produk, membuat barang-barang kita kurang kompetitif di pasar global,” ujar Daniel. Empat Faktor Penghambat Efisiensi Logistik Nasional Berdasarkan pengalaman Daniel selama puluhan tahun memimpin perusahaan logistik PT. Siba Surya yang punya aset ribuan truk dari yang awalnya hanya belasan, terdapat empat variabel utama yang berkontribusi terhadap tingginya biaya logistik Indonesia, di mana sebagian besar masih berada dalam kendali kebijakan pemerintah. 1. Proteksi Industri Truk (Kartel Pabrikan): Kebijakan proteksi yang sudah berjalan lebih dari lima dekade terhadap merek truk asal Jepang seperti Fuso, Hino, Isuzu, dan Nissan Diesel menyebabkan harga barang modal meningkat drastis. “Sampai saat ini, commercial vehicle masih dibebani bea masuk 35-45%. Empat merek besar itu berada dalam posisi oligopoli. Kalau mereka sepakat menaikkan harga, pasar tidak punya pilihan lain,” tegas Daniel. 2. Infrastruktur Tol yang Mahal: Tidak seperti di negara maju, di mana pajak kendaraan sudah mencakup hak menggunakan jalan bebas hambatan, Indonesia masih menerapkan sistem tol berbayar yang dianggap mahal bagi pelaku transportasi barang. Hal ini menambah biaya transportasi logistik di luar pajak kendaraan tahunan. 3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah: Ketergantungan terhadap suku cadang dan bahan bakar impor membuat biaya operasional sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah. Setiap perubahan kurs berpotensi menaikkan ongkos logistik secara signifikan. 4. Regulasi dan Birokrasi: Kompleksitas perizinan, pajak ganda (PPN, PPh, Bea Masuk, PKB, KIR), serta birokrasi antarinstansi memperpanjang proses dan meningkatkan biaya distribusi nasional. Peran Swasta: Mendorong Efisiensi dan Transparansi Meski tiga dari empat faktor tersebut bersifat makro, sektor swasta dinilai tetap memiliki ruang untuk mendorong efisiensi melalui inovasi dan digitalisasi logistik. Berbekal pengalaman puluhan tahun menghadapi kompleksitas industri logistik, Daniel menghadirkan muatmuat sebagai solusi strategis bagi pelaku logistik untuk memangkas biaya dan membuka efisiensi baru dalam rantai pasok Indonesia. Daniel mencontohkan langkah-langkah yang dapat diambil industri untuk mengurangi beban biaya, seperti: 1. Mengoptimalkan Utilisasi Armada: Mengurangi jumlah truk yang kembali kosong (empty return) dengan sistem pencocokan muatan digital di fitur Transport Market. 2. Meningkatkan Transparansi Pasar: Menghubungkan pengirim dan transporter secara langsung agar rantai distribusi lebih efisien dan biaya mark-up berkurang. 3. Digitalisasi Suku Cadang: di muatmuat juga tersedia Platform e-commerce bernama muatparts khusus logistik dapat menghadirkan harga suku cadang yang lebih kompetitif untuk menekan biaya operasional transportasi. “Kami percaya efisiensi pasar dapat dicapai lewat kolaborasi dan keterbukaan data. Semakin terhubung pelaku logistik nasional, semakin sehat pula industrinya,” tambah Daniel di podcast bersama Helmy Yahya. Aplikasi muatmuat, yang dikembangkan oleh Daniel Budi Setiawan dan kini telah dipercaya oleh puluhan ribu pelaku logistik nasional sejak mulai dipasarkan pada 2024, menjadi contoh nyata kontribusi sektor swasta dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien, transparan, dan berdaya saing. Karakter yang Dibutuhkan untuk Bertahan di Industri Logistik Bagi Daniel, industri logistik adalah arena yang menuntut ketahanan mental, disiplin, dan keberanian untuk terus bergerak. “Yang bisa survive di industri ini adalah mereka yang punya dedikasi penuh dan mental petarung,” ujarnya. Berhenti sejenak saja bisa tersingkir oleh mekanisme pasar, sehingga ekspansi dan adaptasi menjadi kunci untuk bertahan. Pengalaman panjang Daniel menghadapi kerasnya industri transportasi membentuk pemahaman bahwa banyak pelaku logistik sebenarnya mampu tumbuh, asal prosesnya dibuat lebih sederhana, efisien, dan terukur. Dari sinilah muatmuat lahir: sebagai perpanjangan dari semangat bertarung itu. Bukan sekadar platform, tetapi alat yang membantu pelaku industri meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya operasional, dan tetap kompetitif di tengah tantangan. Bagi Daniel, logistik memang keras, tapi selalu memberi ruang bagi mereka yang cukup kuat dan cukup berani untuk terus maju. Tentang muatmuat muatmuat hadir dengan visi menjadi produk yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat logistik di Indonesia. khususnya yang berdampak kepada : 1. Rendahnya daya beli masyarakat 2. Rendahnya kualitas atau nilai kompetitif sebuah produk/jasa, dan 3. Roda perekonomian di Indonesia Berbekal pengalaman nyata selama 4 generasi di bidang logistik serta teknologiyang handal, kami siap bersama pemangku kepentingan berkolaborasi mengemban misi dalam mendigitalisasi dan membangun industri logistik yang berkelanjutan. Kami turut mengajak masyarakat logistik untuk tergabung, saling terhubung dan jalan mudah bersama kami. Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU