
Oleh: Prof. Ismunandar, Ph.D
Analisnews.co.id,
Jakarta,
Pada Januari 2026, dunia arkeologi dikejutkan oleh temuan di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Saya teringat ini karena jumpa sahabat baru, yang ternyata sahabat keluarga istri saya, tokoh penting Bapak Laode M Syarif. Kami di acara yang sama di Papua Barat. Dan beliau dari Muna!
Kembali ke gambar cadas. Gambar cadas adalah galeri seni tertua di dunia, dan Indonesia merupakan salah satu “museum alam” terpenting di planet ini. Seni purba ini ditemukan luas di Nusantara, dari ujung barat Sumatra hingga timur Papua. Di wilayah barat seperti Sumatra dan Kalimantan, gambar cadas umumnya berada di gua-gua karst daratan. Sebaliknya, di Maluku dan Papua, lukisan prasejarah justru banyak menghiasi tebing-tebing pantai yang langsung menghadap laut lepas. Sulawesi menempati posisi unik karena memadukan keduanya, seni cadas ditemukan di gua daratan, gua pantai, hingga tebing karang terbuka.
Secara teknis, nenek moyang kita menggunakan dua metode utama, petrograf (lukisan yang dibuat dengan semprotan atau olesan pigmen) dan petroglif (pahatan atau ukiran). Di Indonesia, mayoritas gambar cadas adalah petrograf dengan warna-warna mencolok yang masih bertahan hingga puluhan ribu tahun. Motifnya sangat beragam, figur manusia (antropomorf), hewan seperti tapir, anoa, dan banteng, simbol geometris abstrak, hingga perahu yang mengisyaratkan kemampuan maritim yang sudah maju.
Penelitian tim kami, pigmen gambar cadas Indonesia mengungkap kejutan penting. Warna merah, ungu, bahkan hitam pada banyak lukisan ternyata sering berasal dari bahan yang sama: hematit (besi oksida, Fe₂O₃). Berbeda dari wilayah lain di dunia—di mana pigmen hitam biasanya berasal dari arang atau mangan oksida—di Indonesia perubahan warna ini dicapai melalui pemanasan oker merah, yang mengubah struktur kristal hematit. Ini menunjukkan bahwa para pembuat gambar cadas bukan sekadar seniman, melainkan juga “ahli kimia” awal yang memahami transformasi material melalui panas.
Rekor Dunia dari Sulawesi
Sebuah stensil tangan di situs ini memiliki usia minimum 67.800 tahun di atas, menjadikannya seni cadas tertua yang diketahui hingga kini. Rekor ini melampaui seni gua tertua sebelumnya di Spanyol—yang dikaitkan dengan Neanderthal—sekitar 1.100 tahun, dan bahkan 16.600 tahun lebih tua daripada lukisan terkenal Maros–Pangkep di Sulawesi Selatan.
Stensil tangan Muna memiliki ciri khas, salah satu ujung jarinya dibuat meruncing secara sengaja, sebuah gaya artistik yang sejauh ini hanya dikenal dari Sulawesi. Pada panel yang sama, peneliti juga menemukan bukti dua episode pembuatan seni yang terpisah sekitar 35.000 tahun, menandakan penggunaan lokasi yang sama oleh generasi manusia yang sangat berjauhan waktunya.
Siapa pembuatnya? Meskipun seni purba juga dibuat oleh spesies manusia lain—seperti
Homo erectus, Homo naledi, dan Neanderthal—kompleksitas teknik dan gaya seni di Sulawesi kuat mengarah pada Homo sapiens. Temuan ini memperkuat teori migrasi awal manusia menuju Sahul (Australia–Papua) sekitar 65.000 tahun lalu melalui Sulawesi, sekaligus menunjukkan kemampuan pelayaran jarak jauh yang telah dimiliki manusia purba.
Gambar cadas Indonesia bukan sekadar coretan di dinding batu. Ia adalah pesan lintas zaman—bukti bahwa jauh sebelum tulisan dan peradaban modern, manusia telah memiliki dorongan mendalam untuk mengekspresikan diri dan meninggalkan jejak keberadaannya: kami pernah ada di sini. Temuan dan tinggalan penting ini harus kita jaga bersama dengan baik.