
Analisnews.co.id, JAKARTA – Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (NFA) resmi memulai program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung untuk membantu peternak rakyat, khususnya peternak unggas. Program ini dijalankan oleh Perum Bulog dengan menggunakan stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) sebanyak 52.400 ton, yang akan disalurkan dengan harga Rp5.500 per kilogram langsung ke peternak.
Pelaksanaan program SPHP jagung ini ditandai dengan launching di Kantor NFA, Jakarta, Rabu (24/9/2025). Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mengatakan, langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah hadir melindungi peternak lokal.
“Kabar baik bagi peternak unggas, mulai minggu ini pemerintah memulai SPHP jagung pakan dengan harga Rp5.500 per kg untuk peternak rakyat. Ini sesuai arahan Presiden agar peternak layer mandiri dan peternak kecil tetap terjaga,” ujar Arief.

Sasar 2.109 Peternak di 16 Provinsi
Berdasarkan hasil verifikasi bersama Kementerian Pertanian dan Perum Bulog, program SPHP jagung tahun ini menyasar 2.109 peternak di 16 provinsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 192 peternak mikro, 1.693 peternak kecil, dan 224 peternak menengah akan menerima manfaat program.
Adapun provinsi penerima antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Dorong Peternak Naik Kelas
Arief menegaskan bahwa SPHP jagung bukan hanya upaya menekan harga pakan, tetapi juga bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong peternak rakyat naik kelas. Apalagi, stok jagung yang digunakan tahun ini seluruhnya berasal dari produksi dalam negeri.
“Kita bersyukur kali ini tidak perlu impor. Semua jagung dari petani lokal. Jadi pemerintah menjaga keseimbangan, saat harga tinggi kita bantu peternak, saat harga rendah kita serap hasil petani,” jelasnya.

Redam Gejolak Harga Telur dan Daging Ayam
Berdasarkan catatan Panel Harga Pangan NFA, harga jagung di tingkat peternak per 23 September 2025 mencapai Rp6.736 per kg, atau 16,14 persen lebih tinggi dari Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan Rp5.800 per kg. Kenaikan harga jagung ini dikhawatirkan berdampak pada harga telur dan daging ayam.
Saat ini, harga telur ayam di tingkat konsumen mencapai Rp29.992 per kg, naik 1,43 persen dibanding bulan lalu. Sementara harga daging ayam menyentuh Rp38.339 per kg, melonjak 8,28 persen dari bulan sebelumnya.
“Jika harga jagung pakan tidak dijaga, lambat laun akan memengaruhi harga telur dan daging ayam. SPHP jagung ini diharapkan bisa menjaga stabilitas harga protein hewani agar tetap terjangkau masyarakat,” kata Arief.
Apresiasi dari Kementan dan Peternak
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda menyambut positif peluncuran program ini. Ia berharap SPHP jagung dapat terus berjalan di saat harga pakan melonjak.
Sementara itu, Suwardi, Ketua Umum Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kendal, menilai program ini datang pada momentum yang tepat.
“Ini tidak akan merugikan petani jagung. Justru menjadi solusi untuk menstabilkan kebutuhan peternak, sementara petani sudah terlindungi dengan adanya Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Jadi petani dan peternak sama-sama dijaga,” ujarnya.
Turut hadir dalam peluncuran program, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan NFA I Gusti Ketut Astawa, Direktur Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Rachmi Widiriani, Direktur Operasional Perum Bulog Mokhamad Suyamto, serta perwakilan koperasi dan asosiasi peternak unggas.
Reporter: Shanty Rd