13
Januari
2026
Selasa - : WIB

Wangi Bunga dan Cahaya Langit Iringi Misa Gunung Padang

hartonojkt
Januari 13, 2026 5:50 pm pada TERKINI

Jakarta, Analisnews.co.id,
Malam Selasa Kliwon, 12 Januari 2026, menjadi malam yang sulit dilupakan di Situs Megalitikum Gunung Padang. Sejak pagi hingga sore, hujan mengguyur kawasan ini tanpa jeda. Namun menjelang pukul 19.40 WIB, tepat ketika rombongan tiba di area parkir, hujan mendadak reda. Seolah alam membuka jalan, Misa Ekaristi Awal Tahun pun berlangsung di Teras 5, titik tertinggi yang dipercaya sarat nilai spiritual dan sejarah peradaban tua Nusantara.

Misa dipimpin Romo Yos Bintoro, Wakil Uskup untuk umat Katolik di lingkungan TNI-Polri. Perayaan ini tidak hanya menjadi doa awal tahun, tetapi juga dimaknai sebagai permohonan ampun atas dosa ekologis manusia, atas kelalaian dan kerusakan terhadap alam, gunung, air, dan bumi yang selama ribuan tahun setia menopang kehidupan.

Rombongan yang terdiri dari pengurus PWI Jaya dan PWI Pusat, di antaranya Bendahara PWI Jaya Dar Edi Yoga, Toni Bramantoro, Rio Winto, Rizal Fachrani, Rudolf Simbolon, Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat Raldy Doy, serta Brigjen TNI (Mar) F.J.H. Pardosi, dan praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo, Maria Brida Nova, didampingi Kepala Juru Pelihara Gunung Padang Nanang Sukmana dan juru pelihara Atma. Sebelum menapaki 378 anak tangga utama, rombongan mengikuti ritual budaya membasuh tangan, wajah, dan kepala, serta meneguk air dari mata air Gunung Padang sebagai simbol penyucian dan penghormatan kepada alam.

Sejak awal pendakian, suasana terasa berbeda. Di sepanjang tangga utama, beberapa peserta mencium wangi bunga yang tidak biasa, harum lembut yang tidak dapat dikenali jenisnya dan muncul tanpa sumber yang terlihat. Aroma serupa kembali tercium beberapa kali, termasuk saat misa berlangsung di Teras 5, menambah kesan sakral perjalanan malam itu.

Peristiwa tak biasa terjadi ketika rombongan tiba di teras pertama. Saat Romo Yos memanjatkan doa pembuka, tiba-tiba terasa percikan air yang mengenai beberapa peserta. Percikan itu datang entah dari mana, bukan dari hujan dan bukan pula dari dedaunan, mengingat langit saat itu mendung namun kering. Peristiwa ini disambut dalam keheningan, dimaknai sebagai bagian dari pengalaman batin yang sulit dijelaskan dengan nalar semata.

Puncak keheningan dan kekhusyukan terjadi di Teras 5 saat konsekrasi Ekaristi. Awan tebal yang sejak sore menutup langit tiba-tiba menyibak, membentuk celah besar menyerupai lubang cahaya. Langit berubah biru gelap, dan bintang-bintang tampak sangat terang. Beberapa rasi bintang terlihat jelas, sementara planet Venus muncul besar dan mencolok, fenomena yang jarang terlihat pada malam hari. Alam seolah ikut menyaksikan dan merespons doa-doa yang dipanjatkan.

Romo Yos Bintoro menyebut misa malam itu sebagai pengalaman iman yang sangat mendalam. “Kami berada di tempat yang sangat khusus, bersama para penjaga situs dan sahabat lintas iman. Ini adalah doa Nusantara, doa untuk Indonesia dan juga doa pertobatan atas dosa ekologis manusia terhadap ciptaan Tuhan,” ujarnya usai misa.

Nanang Sukmana mengungkapkan, dua malam sebelumnya hujan turun sangat keras tanpa henti. “Secara manusiawi saya khawatir kegiatan ini tidak bisa terlaksana. Tapi malam ini berbeda. Ketika doa berlangsung, langit terbuka dan bintang muncul sangat terang. Dalam perhitungan kami, Selasa Kliwon adalah malam cahaya. Padang berarti terang. Gunung Padang malam ini benar-benar menunjukkan maknanya,” tutur Nanang.

Brigjen TNI (Mar) F.J.H. Pardosi juga merasakan kedamaian batin yang kuat. “Ini adalah berkat luar biasa di awal tahun. Ada rasa tenang, lepas, dan damai yang sulit diungkapkan. Semoga doa-doa malam ini membawa berkat, kesehatan, keselamatan, serta kesadaran untuk menjaga alam dan bangsa Indonesia,” ucapnya.

Usai misa, awan gelap perlahan kembali menutup langit. Saat rombongan menuruni tangga dan tiba di bawah, hujan turun deras kembali, namun hanya sesaat, seakan tirai alam ditutup setelah sebuah peristiwa sakral selesai. Gunung Padang kembali sunyi, menyimpan doa, cahaya, dan isyarat malam Selasa Kliwon dalam batu-batu purbanya, menjadi pengingat bahwa manusia, alam, dan Sang Pencipta terhubung dalam satu harmoni yang sakral.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU