Close Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BRI Region 6 Gelar Pendidikan Leadership & Managerial Skill Bertema “Data Analysis Using Data For Better Individual Decision”

MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN POLSEK KAPUAS HULU LAKUKAN IMBAU ILLEGAL LOGGING

MENCEGAH KERUSAKAN ALAM KARENA AKTIVITAS ILLEGAL MINING POLSEK KAPUAS HULU LAKUKAN IMBAUAN

Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
Analis
Subscribe Now
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita
Analis
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita
You are at:Home»Terkini»Dr. Somvir Dorong Selesaikan ICCB Renon Mangkrak 22 Tahun Kenang Peran Besar Biju Patnaik Selamatkan Tokoh RI dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Terkini

Dr. Somvir Dorong Selesaikan ICCB Renon Mangkrak 22 Tahun Kenang Peran Besar Biju Patnaik Selamatkan Tokoh RI dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

ranuBy ranu21 Juni 2026 10:25 AM058 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Dr. Somvir Dorong Selesaikan ICCB Renon Mangkrak 22 Tahun Kenang Peran Besar Biju Patnaik Selamatkan Tokoh RI dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

 

 

Analisnews.co.id — DENPASAR | Rencana pembangunan India Cultural Centre Bali (ICCB) di kawasan Renon, Denpasar kembali menjadi perhatian publik, setelah aset tanah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali disebut belum terealisasi selama 22 tahun.

Tokoh Masyarakat Bali, Dr. Somvir mengingatkan pentingnya penyelesaian proyek tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan historis Indonesia dan India.

Dr. Somvir mengungkapkan hubungan Indonesia dan India tidak hanya dibangun melalui kerja sama diplomatik modern, tetapi memiliki akar sejarah panjang yang lahir dari persahabatan para tokoh besar kedua negara sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sorotan atas ICCB mangkrak muncul, setelah keberadaan aset tanah Pemprov Bali di Jalan Tantular, Renon, Denpasar yang sebelumnya direncanakan sebagai lokasi Pusat Kebudayaan India kembali menjadi pembahasan publik.

Bahkan, lokasi tersebut sudah memiliki plang nama setelah rencana pembangunan sempat diresmikan oleh Gubernur Bali periode 1998-2008, Dewa Beratha bersama Dubes India Hemant Krishan Singh dan DG ICCR Rakesh Kumar.

Menurut Dr. Somvir, keberadaan ICCB memiliki nilai strategis, karena menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia dan India yang telah terjalin sejak era kemerdekaan.

Dr. Somvir juga mengingatkan kembali sosok Bijayananda “Biju” Patnaik sebagai tokoh kemerdekaan India sekaligus pilot legendaris yang memiliki peran besar membantu perjuangan Republik Indonesia menghadapi tekanan kolonial Belanda.

Menurutnya, Biju Patnaik sebagai pilot dan politikus India yang ditugaskan PM India Jawaharlal Nehru untuk membantu Indonesia, guna menembus blokade udara Belanda, pada Juni 1947.

Dimana, Belanda sempat mengancam akan menembak jatuh pesawat tersebut jika berani memasuki wilayah udara Indonesia. Menanggapi ancaman itu, Biju dengan berani menyatakan bahwa India tidak mengakui kedaulatan Belanda atas rakyat Indonesia dan siap menanggung risiko penembakan.

Kemudian, Biju Patnaik menerbangkan pesawat Douglas C-47 Dakota ke Yogyakarta untuk menjemput dan menyelamatkan tokoh-tokoh penting Republik Indonesia, terutama Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir demi mengamankan kepemimpinan Indonesia.

Penerbangan itu memastikan kepemimpinan Indonesia tidak ditangkap atau dibunuh oleh Belanda, serta membuka jalan bagi dukungan diplomatik India di forum Internasional (PBB).

Biju menerbangkan Sutan Sjahrir ke India tepat sehari setelah Agresi Militer Belanda I. Misi itu berhasil menjemput Mohammad Hatta dari Yogyakarta menuju India untuk menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi.

Atas jasa-jasanya, Biju Patnaik dianugerahi gelar “Bhoomi Putra” (Putra Daerah) oleh pemerintah Indonesiabpada tahun 1950, sebuah penghormatan warga negara asing tertinggi pada masa itu.

Penghargaan prestisius ini diberikan sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas jasanya yang luar biasa dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Aksi heroik ini berbuah persahabatan erat dengan Bung Karno, bahkan berkat kedekatan mereka, Patnaik mendapat kehormatan untuk memberikan nama “Megawati” kepada putri Sang Proklamator.

Lebih lanjut, nama Megawati memiliki cerita historis, karena diberikan oleh Biju Patnaik saat berada di Yogyakarta.

Waktu itu Yogyakarta dilanda angin ribut, dan Soekarno bertanya kepada Patnaik terkait nama anaknya dan dijawab nama Megawati artinya Dewi Awan yang berasal dari bahasa Sanskerta.

Selain turut membantu Indonesia mempertahankan kemerdekaan, Biju Patnaik juga seorang guru dari tiga pahlawan nasional Indonesia, yakni penerbangan pertama Indonesia Adisucipto, Iswahyudi, dan Abdulrahman Saleh. Biju Patnaik disebut sempat mengajarkan ketiganya ilmu penerbangan.

Kemudian, hubungan istimewa Indonesia dan India berlanjut pada dasa warsa 1950-an dan 1960-an.

Hal itu diungkapkan, pasca Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty bertemu dengan Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Keduanya membahas kedekatan hubungan India dan Indonesia sejak era Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru.

Pertemuan digelar di kediaman Megawati, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).

Pada saat itu, Soekarno sejak muda mengakui sejumlah intelektual India sebagai “guru” politiknya, seperti Cri Aurobindo dan Mahatma Gandhi.

Soekarno muda juga pembaca tekun Bhagavadgita yang diterjemah-tafsirkan oleh Aurobindo.

Pilihan politiknya untuk mengabdi total buat negeri, perjuangan tanpa pamrih, seperti diakui Soekarno berasal dari Bhagavadgita Aurobindo.

Strategi politiknya yang memilih jalan diplomasi, strategi politik berdikari seperti pengakuan Soekarno memperoleh inspirasi dari cara berpolitik Gandhi.

Hubungannya yang sangat dekat secara personal dengan Perdana Menteri Nehru, sehingga Wisma Indonesia yang ada di New Delhi, di kawasan elite, merupakan hadiah  dari Nehru kepada Soekarno.

“Kunjungan PM Nehru yang disambut sangat meriah saat berkunjung ke Indonesia, kunjungan relatif lama seorang kepala negara,” paparnya.

Untuk itu, ke depan, relasi Indonesia dan India semestinya dipulihkan kembali seperti di waktu sebelumnya.

Dalam konteks sekarang, peningkatan kerja sama kebudayaan, IPTEK, dimana India banyak mempunyai keunggulan.

Apalagi, India pembeli CPO Indonesia cukup besar, yang di masa depan perlu lebih ditingkatkan.

India berhasil dalam teknologi pangan, Indonesia semestinya banyak belajar dari India.

Karena kedekatan hubungan historis, semestinya kalau dilakukan manajemen industri pariwisata yang tepat, wisatawan India bisa berkunjung lebih banyak ke Bali.

Pertemuan Dubes Sandeep dengan Megawati memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan India tidak dibangun semata oleh kepentingan diplomatik modern, melainkan berakar pada persahabatan ideologis yang telah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan.

Megawati membuka percakapan dengan mengenang pengalaman pribadinya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok (GNB) di Beograd, Yugoslavia, pada 1 hingga 6 September 1961. Saat itu, Megawati masih berusia 14 tahun, tetapi telah ikut dalam delegasi Indonesia dan bertemu langsung dengan sejumlah tokoh besar dunia.

Ia mengingat bagaimana dirinya duduk bersama para pendiri Gerakan Non-Blok, termasuk Jawaharlal Nehru. Momen tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membekas dalam hidupnya.

“Saya saat itu memakai kebaya,” kata Megawati sambil menunjukkan foto lama pertemuannya dengan Nehru.

Megawati juga memperlihatkan sejumlah dokumentasi bersejarah lain, termasuk foto ketika Nehru berbincang dengan Presiden Soekarno di Istana Merdeka pada 8 Juni 1950.

Dalam foto itu terlihat Guntur Soekarnoputra tengah bermain sepeda sambil membonceng Megawati kecil.

Cerita-cerita tersebut menggambarkan bagaimana hubungan Indonesia dan India kala itu bukan hanya berlangsung di tingkat kenegaraan, tetapi juga terasa dekat secara personal di antara keluarga para pemimpin.

Sementara itu, Duta Besar India Sandeep Chakravorty menilai hubungan yang dibangun Soekarno dan Nehru telah menjadi warisan diplomatik penting bagi kedua negara. Menurutnya, kedekatan dua tokoh tersebut masih terasa dalam hubungan bilateral Indonesia dan India hingga saat ini.

“Hubungan baik kedua negara sampai saat ini terjalin dan dibangun oleh kedua Bapak Bangsa, Presiden Soekarno dan PM Nehru,” ujar Sandeep.

Ia juga mengungkapkan bahwa jejak sejarah keluarga Soekarno masih mendapat tempat khusus di India. Saat berkunjung ke Museum Nehru di New Delhi, Sandeep mengaku melihat foto Megawati bersama Soekarno dipajang di sana.

“Saya juga melihat foto Ibu Megawati dan Soekarno dipajang di Museum Nehru di New Delhi,” katanya.

Sandeep sendiri bukan sosok baru bagi Megawati. Ia mengaku pernah bertemu Megawati di Korea Utara pada 2011 dan kembali berjumpa saat Gala Dinner KTT G20 di Bali pada 2022. Pertemuan di Menteng kali ini menurutnya terasa sangat personal karena dipenuhi kenangan sejarah dan refleksi hubungan kedua negara.

“Kehormatan besar dapat bertemu dengan Ibu Megawati Sukarnoputri, mantan Presiden Indonesia dan putri dari Presiden Sukarno. Beliau adalah simbol hidup dari eratnya hubungan kedua negara kita dan pertemuan kami terasa sangat hangat dengan cerita-cerita kenangan masa lalu,” kata Sandeep.

Dalam pertemuan itu, Megawati juga menceritakan bagaimana Presiden Soekarno dahulu memilih lokasi kedutaan India di Indonesia. Sebagai balasan, Nehru kemudian membantu mencarikan lokasi kedutaan Indonesia di New Delhi yang berada dekat dengan kediaman Perdana Menteri India saat itu.

Cerita tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi pada masa awal kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama formal, tetapi juga melalui simbol kedekatan dan penghormatan personal antar pemimpin negara.

India sendiri dikenal sebagai salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah hubungan bilateral kedua negara, terutama di tengah dinamika politik global pasca-Perang Dunia II dan lahirnya negara-negara baru di Asia.

Hingga kini, hubungan Indonesia dan India terus berkembang dalam berbagai sektor, mulai dari perdagangan, teknologi, pendidikan hingga kerjasama strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Selain nostalgia sejarah, pembahasan dalam pertemuan itu juga menyentuh isu-isu global yang lebih luas.

Dalam konteks global yang terus berubah, kedua negara dinilai memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam percaturan dunia.

Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan pertukaran cenderamata. Sandeep menyerahkan miniatur Taj Mahal sebagai simbol India, sementara Megawati memberikan miniatur kapal Pinisi dan kemeja tenun endek sebagai representasi budaya Indonesia.

“Momen itu menjadi simbol kecil dari hubungan panjang dua negara yang dibangun bukan hanya oleh kepentingan politik, tetapi juga oleh memori sejarah, penghormatan budaya, dan persahabatan lintas generasi,” kata Dr. Somvir yang juga Ketua Fraksi NasDem-Demokrat DPRD Provinsi Bali.

Dengan demikian, Dr. Somvir yang juga Ketua Fraksi Demokrat – NasDem DPRD Bali mengharapkan Pemprov. Bali segera mengurus aset tersebut demi menjaga dan menghormati hubungan baik Indonesia dan India.

Apalagi rencana kedatangan PM India Narendra Modi ke Indonesia, Pemerintah Provinsi Bali sudah seyogyanya memastikan target penyelesaikan gedung Indian Cultural Centre Bali (ICCB) yang telah disepakati 22 tahun lalu saat kepemimpinan Gubernur Drs. Dewa Made Beratha.

“Biju Patnaik sudah pernaha menyelamatkan tokoh-tokoh penting Republik Indonesia, terutama Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir demi mengamankan kepemimpinan Indonesia. Semestinya penyelesaikan ICCB Renon bisa segera dituntaskan,” ungkap Somvir yang juga Pengajar Yoga di Denpasar, di Jumat, 19 Juni 2026.

Pada kesempatan itu pula, Dr. Somvir mengucapkan Selamat Hari Yoga Internasional atau International Yoga Day (IYD) 2026 yang jatuh pada Minggu, 21 Juni 2026.

Hari Yoga Internasional sendiri ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi 69/131 tahun 2014, atas usulan Perdana Menteri India Narendra Modi. Tanggal 21 Juni dipilih karena bertepatan dengan titik balik matahari musim panas, yang dimaknai sebagai simbol cahaya dan kesadaran.

Dalam peringatan itu pula, Konsulat Jenderal India dan Pusat Kebudayaan Swami Vivekananda (SVCC) Bali bekerja sama dengan ITDC The Nusa Dua menyelenggarakan perayaaan Hari Yoga Internasional ke-12 pada hari Minggu, 21 Juni 2026 bertempat di Peninsula Island, Kawasan The Nusa Dua – ITDC, Badung, Bali pukul 17.00 WITA hingga selesai. (ace/ranu).

 

Dr. Somvir, ICCB Bali, Hubungan Indonesia India, Biju Patnaik, India Cultural Centre Bali

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleANGGOTA POLSEK PULAU PETAK LAKSANAKAN PATROLI MALAM, GUNA MEWUJUDKAN KAMTIBMAS KONDUSIF DI WILAYAH KECAMATAN PULAU PETAK
Next Article POLSEK PULAU PETAK LAKSANAKAN SIAGA MAKO PAGI
ranu

Related Posts

MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN POLSEK KAPUAS HULU LAKUKAN IMBAU ILLEGAL LOGGING

21 Juni 2026 2:06 PM

MENCEGAH KERUSAKAN ALAM KARENA AKTIVITAS ILLEGAL MINING POLSEK KAPUAS HULU LAKUKAN IMBAUAN

21 Juni 2026 1:49 PM

POLSEK KAPUAS HULU LAKUKAN IMBAUAN CEGAH RUSAKNYA LINGKUNGAN AKIBAT ILLEGAL MINING

21 Juni 2026 1:46 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.