Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Personel Piket Polsek Timpah Laksanakan Patroli Malam Hari ‎

Dog Training Tips di Rumah Agar Anjing Pintar

Kepala Cabang BRI Pondok Indah: Perbankan Siap Jadi Jembatan Kebijakan DHE dan Kebutuhan Industri

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Pendidikan Toleransi: Generasi Muda Belajar Merawat Perbedaan dari Ruang Kelas
Terkini

Pendidikan Toleransi: Generasi Muda Belajar Merawat Perbedaan dari Ruang Kelas

yadiBy yadi30 Juli 2026 7:59 AM043 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id   | Jakarta – Di sebuah aula sekolah di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, ratusan pelajar duduk berdampingan. Mereka datang dengan latar belakang keyakinan, budaya, dan pengalaman hidup yang berbeda. Namun, pagi itu, perbedaan bukan menjadi sekat, melainkan jembatan untuk saling mengenal.

Itulah semangat yang diusung Yayasan Peduli Anak Indonesia (YAPENA) melalui Konferensi Lintas Pemuda dan Pemudi bertajuk The Golden Rule yang digelar di MAN 13 Jakarta, Rabu (29/7). Di tengah derasnya arus informasi yang kerap memunculkan polarisasi, ruang-ruang dialog seperti ini menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang harus terus dirawat.

Ketua YAPENA, Erna Santoso, menjelaskan bahwa konferensi menghadirkan enam perwakilan agama dan kepercayaan yang hidup di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, serta penghayat kepercayaan yang kali ini diwakili komunitas Sunda Buhun. Kehadiran mereka bukan sekadar memperkenalkan ajaran masing-masing, melainkan membuka ruang percakapan yang hangat mengenai penghormatan, empati, dan kemanusiaan.

Para siswa tidak hanya mendengar paparan, tetapi juga menyaksikan bagaimana para tokoh agama saling berdialog dalam suasana penuh keakraban. Dari ruang sederhana itu, mereka belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan yang memperluas cara pandang.

“Seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Anak-anak dari berbagai latar belakang agama berbaur bersama para guru, tokoh agama, dan para ibu dari berbagai komunitas. Mereka belajar bahwa perbedaan adalah kekuatan yang harus dijaga,” ujar Erna.

Pesan itu kemudian diwujudkan dalam sebuah simbol yang sederhana, tetapi sarat makna. Bersama para tokoh lintas agama, para pelajar melepaskan burung-burung merpati ke langit. Sayap-sayap putih yang terbang bebas seakan membawa harapan bahwa benih-benih toleransi yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi budaya damai di masa depan.

Executive Director Visions of Peace Initiative, Princess Natasha Dematra, mengatakan konferensi lintas agama merupakan agenda tahunan yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Setelah sebelumnya digelar di Bali dan Solo, tahun ini MAN 13 Jakarta dipilih karena dinilai berhasil membangun lingkungan sekolah yang terbuka terhadap keberagaman serta konsisten menguatkan pendidikan karakter.

Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan serupa pada tahun sebelumnya menjadi alasan konferensi kembali digelar di sekolah tersebut. Bahkan, pihak sekolah berharap kolaborasi bersama YAPENA dapat terus berlanjut melalui berbagai program yang memperkuat nilai persaudaraan di kalangan pelajar.

Bagi YAPENA, The Golden Rule bukan sekadar tema kegiatan. Prinsip memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan diyakini sebagai nilai universal yang melampaui batas agama, suku, maupun budaya. Nilai itu menjadi fondasi penting bagi lahirnya generasi yang tidak mudah terpecah oleh perbedaan.

Di tengah masyarakat yang semakin majemuk, Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan seperti ini. Sebab, toleransi bukan hanya diajarkan melalui buku pelajaran, melainkan dibangun lewat pengalaman bertemu, mendengar, memahami, dan menghargai sesama.
Dari ruang kelas di Jagakarsa, sebuah pelajaran sederhana kembali ditegaskan: persatuan tidak lahir karena semua orang sama, tetapi karena setiap perbedaan diberi tempat untuk hidup berdampingan dengan penuh hormat. (PH)

#ModerasiBeragama KeberagamanIndonesia TheGoldenRule Toleransi YAPENA
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticlePEMERINTAH DAERAH BERSAMA POLRES HUMBAHAS TANDATANGANI NPHD PILKADES SERENTAK
Next Article Gugik.id Perkuat Posisi Sebagai Supplier Server Terpercaya di Indonesia
yadi

Related Posts

Personel Piket Polsek Timpah Laksanakan Patroli Malam Hari ‎

30 Juli 2026 9:47 AM

Kepala Cabang BRI Pondok Indah: Perbankan Siap Jadi Jembatan Kebijakan DHE dan Kebutuhan Industri

30 Juli 2026 9:24 AM

Wujud Dukungan Program Pemerintah, Sat Samapta Kawal Distribusi Makan Bergizi Gratis

30 Juli 2026 9:13 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.