FGD Hilirisasi Riset: Sekolah Lansia Jadi Kunci Hadapi Aging Population di Bali
Analisnews.co.id — DENPASAR | Universitas Warmadewa bersama Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Provinsi Bali menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Model Prediktor Partisipasi dan Kualitas Hidup Lansia’ di Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026 yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
FGD dibuka oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS. Hadir pula Ketua Tim Peneliti Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningsih, S.IP., M.AP., anggota tim Prof. Dr. I Wayan Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Rhesa Anggara Utama, S.IP., S.H.,M.Si., serta jajaran BKKBN Bali dan mahasiswa Universitas Warmadewa.
Forum ini menghimpun pengalaman lapangan, pandangan kelembagaan, dan masukan akademik untuk menyempurnakan model yang memetakan faktor penentu partisipasi dan kualitas hidup lansia. Model tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan program yang tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan di tengah peningkatan jumlah penduduk lanjut usia atau aging population.
“Sekolah Lansia bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang untuk membantu lansia tetap sehat, aktif, mandiri, produktif, dihargai, dan terutama menjalani masa tua dengan bahagia serta bermakna,” ujar Ni Luh Gede Sukardiasih.
Pembahasan menempatkan Sekolah Lansia sebagai instrumen penting peningkatan kesejahteraan lansia. Kurikulumnya mengacu pada tujuh dimensi Lansia Tangguh, yaitu: spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional/hobi, dan lingkungan.
Ketujuh dimensi ini membentuk pendekatan menyeluruh, mulai dari kesehatan dan ketenangan batin hingga kesempatan terus belajar, berkarya, dan berperan di masyarakat.
Setiap desa dapat membentuk Sekolah Lansia sebagai sarana pembelajaran dan pemberdayaan. Pelaksanaannya perlu mengacu pada kebijakan dan dibangun melalui kolaborasi pemerintah desa, BKKBN, perangkat daerah, layanan kesehatan, kader, keluarga, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat.
Di Ubud, salah satu Sekolah Lansia telah melibatkan 87 peserta didik, yang menunjukkan tingginya kebutuhan lansia terhadap ruang belajar dan interaksi sosial.
Kepala Perwakilan BKKBN Bali menekankan keberhasilan program ditentukan oleh keberlanjutan, komitmen kepala desa, kejelasan peran mitra, serta dukungan kebijakan dan pembiayaan. Program yang berjalan perlu dievaluasi agar model yang disusun tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga realistis diterapkan di desa.
“Hilirisasi riset harus menghasilkan model yang dapat dipakai pemerintah dan masyarakat. Karena itu, kami memerlukan masukan langsung dari pemangku kepentingan agar faktor partisipasi lansia, dukungan keluarga, kelembagaan, dan keberlanjutan program dapat dipetakan secara utuh,” kata Ketua Tim Peneliti, Anak Agung Putu Sugiantiningsih.
Selain Sekolah Lansia, penguatan kualitas hidup juga membutuhkan peran keluarga melalui Kelompok Bina Keluarga Lansia. Edukasi mencakup kesehatan, gizi, perawatan, dukungan psikososial, pencegahan ketergantungan, serta upaya menjaga kemandirian dan produktivitas lansia.
Tim peneliti juga mendorong keterlibatan mahasiswa melalui semangat Mahasiswa Berdampak. Mahasiswa lintas disiplin dapat berkontribusi pada edukasi kesehatan, aktivitas fisik, literasi digital, dukungan psikososial, hingga pendampingan kegiatan sosial.
FGD menghasilkan penguatan arah model prediktor yang menempatkan partisipasi sosial, kesehatan fisik dan mental, dukungan keluarga, lingkungan, kemandirian, spiritualitas, dan kesinambungan kelembagaan sebagai unsur penting kualitas hidup lansia.
Tahap berikutnya adalah penyempurnaan model dan prototipe agar dapat diuji dan direkomendasikan sebagai dasar pengembangan program kelanjutusiaan di tingkat daerah dan desa. (ranu)
