Turun Langsung ke Lapangan, Tim FGD II Lihat Manfaat Sekolah Lansia Bagi Kesehatan dan Sosial
Analisnews.co.id — DENPASAR | Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) II Sekolah Lansia (SL) dilaksanakan dengan turun langsung ke lokasi pada Jumat (21/8/2026). Tujuan kegiatan ini untuk melihat langsung jalannya Sekolah Lansia serta mendengar pengalaman para lansia yang mengikutinya.
FGD dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan enam orang lansia.
Keenam informan menjadi narasumber dalam kegiatan ini yaitu I Gusti Agung Made Inten, Anak Agung Sri Juniarti, I Made Karsa Sarjika, S.H., I Nyoman Ludra, Ni Nyoman Sri, dan Ni Gusti Putu Sekar. Wawancara dilakukan secara langsung dengan suasana santai agar para lansia dapat menyampaikan pengalaman dan pendapatnya dengan nyaman.
Dari hasil wawancara, para lansia memberikan tanggapan positif terhadap keberadaan Sekolah Lansia. Mereka merasa kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan tentang kesehatan, tetapi juga menjadi wadah untuk berkumpul dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Kegiatan seperti senam dan pemeriksaan kesehatan dasar menjadi aktivitas yang paling dirasakan manfaatnya. Di lokasi juga tersedia alat kesehatan dasar seperti tensimeter dan alat cek gula darah, sehingga lansia dapat mengetahui kondisi kesehatannya secara langsung.
Selain itu, tim juga mengamati interaksi sosial para lansia. Mereka terlihat saling berbincang, bercanda, dan mengikuti kegiatan bersama. Hal ini menunjukkan bahwa Sekolah Lansia memiliki manfaat sosial sebagai ruang bagi lansia untuk tetap berkomunikasi dan bersosialisasi.
Meski demikian, masih terdapat kendala. Tidak semua lansia dapat hadir secara rutin karena faktor kesehatan, keterbatasan transportasi, dan kesibukan keluarga. Sebagian lansia masih membutuhkan bantuan keluarga untuk mengantar dan menjemput.
Dari hasil pengamatan, kondisi tempat kegiatan cukup mendukung. Ruangan nyaman dan dapat digunakan untuk kegiatan bersama. Pendekatan kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti doa bersama dan kebiasaan banjar, membuat suasana lebih akrab dan mudah diterima lansia.
Dalam pelaksanaan, kader memiliki peran penting dalam mendampingi lansia. Namun masih diperlukan pembinaan berkala, materi pembelajaran yang lebih terarah, serta monitoring rutin dari pihak terkait agar kendala dapat segera ditangani.
Melalui FGD II ini terlihat bahwa Sekolah Lansia tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan kesehatan, tetapi juga memberikan ruang bagi lansia untuk tetap aktif secara sosial.
Ke depan, diharapkan ada kerja sama yang lebih baik antara kader, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Dengan dukungan tersebut, Sekolah Lansia diharapkan dapat berjalan lebih rutin dan memberikan manfaat lebih besar bagi kesehatan serta kehidupan sosial para lansia.(ranu)
