Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Barantum Hadirkan Webinar untuk Bahas Strategi Bisnis Pasca 1 Oktober

DENGARKAN SUARA WARGA, POLSEK KAPUAS TIMUR TAMPUNG ASPIRASI MELALUI PROGRAM JUMAT CURHAT

Wargaku Keluargaku, Paradigma Baru Kapolsek Pasar Minggu Merawat Keamanan dari Hati ke Hati

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Yunifar Fadly, President Director BursaKopi.com: Hilirisasi Kopi Indonesia Masih Terkendala, Jangan Jual Green Bean Saja!
Terkini

Yunifar Fadly, President Director BursaKopi.com: Hilirisasi Kopi Indonesia Masih Terkendala, Jangan Jual Green Bean Saja!

hartonoBy hartono23 Oktober 2026 10:26 AM0611 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

 

JAKARTA, Analisnews.co.id, Di balik gemerlap kedai kopi yang tumbuh menjamur di sudut-sudut kota, tersimpan ironi yang jarang tersentuh. Ketika konsumen dengan mudah menikmati secangkir latte di ruang ber-AC, para petani di dataran tinggi Pangalengan masih bergulat dengan ketidakpastian cuaca yang kian ekstrem.

Potret buram itu menjadi latar belakang COMMIT 2026 (Coffeepreneur Summit) bertema “Akselerasi Pertumbuhan Usaha Kopi Indonesia”. Acara ini merupakan kolaborasi strategis antara PaPIKI, BursaKopi.com, dan Bank Mandiri yang digelar di Wisma Mandiri, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

COMMIT 2026 bukan sekadar ajang temu bisnis. Lebih dari itu, acara ini menjadi cermin bagi para coffeepreneur—dari petani hingga roaster—untuk melihat realitas lapangan secara jernih: membangun bisnis kopi bukan perkara mudah. Diperlukan adaptasi tanpa henti, inovasi teknologi, dan dukungan permodalan yang menyentuh seluruh rantai nilai.

Ada empat tujuan yang menjadi fondasi COMMIT 2026. Pertama, meningkatkan kapasitas usaha coffeepreneur melalui wawasan praktis mengenai pengembangan usaha, strategi pasar, pengelolaan modal, pemilihan teknologi, serta peluang pertumbuhan dalam ekosistem kopi Indonesia.

Kedua, membuka akses pembiayaan yang tepat dengan memperkenalkan solusi pembiayaan Bank Mandiri yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas usaha. Peserta juga diarahkan memahami persyaratan, simulasi, dan tahapan pengajuannya.

Ketiga, mendorong kolaborasi dan transaksi bisnis. COMMIT 2026 mempertemukan pelaku usaha kopi dengan penyedia bahan baku, mesin, kemasan, lembaga pembiayaan, calon pembeli, dan mitra strategis melalui business matching yang terarah. Keempat, memperkuat apresiasi terhadap kopi Indonesia dengan menghadirkan pengalaman mengenal, mencicipi, dan memahami keragaman kopi Indonesia, sekaligus mendukung promosi produk, inovasi, dan karya pelaku kopi lokal.

Peringatan soal hilirisasi

Di tengah semangat kolaborasi yang membara, Yunifar Fadly, President Director BursaKopi.com, melempar peringatan yang menyentak. Dengan nada tegas namun bersahaja, ia mengingatkan bahwa selama ini Indonesia telah lama terjebak dalam zona nyaman: menjual kopi dalam bentuk mentah, tanpa memberi nilai tambah yang berarti bagi bangsa sendiri.

“Tantangan kita adalah membranding kopi kita. Jangan hanya mengekspor mentah. Kita harus hilirisasi untuk meningkatkan nilai,” ujar Yunifar, Kamis (22/10/2026).

Baginya, hilirisasi bukan sekadar jargon ekonomi. Ia adalah soal harga diri bangsa. Selama puluhan tahun, Indonesia—salah satu produsen kopi terbesar dunia—telah rela melepas biji-biji kopi terbaiknya ke pasar internasional dengan harga murah, hanya untuk kemudian dibeli kembali dalam bentuk produk jadi dengan harga berlipat ganda.

“Melalui acara ini, kami melibatkan 15-16 perusahaan dan mengundang buyer potensial. Harapannya, kolaborasi dengan semua ekosistem, didukung kemudahan pemasaran dan pembiayaan dari Bank Mandiri, dapat membawa kopi Indonesia menuju pasar yang lebih luas,” pungkas Yunifar.

Namun, di balik pernyataan itu tersimpan visi yang jauh lebih besar. Yunifar tidak sekadar ingin meningkatkan volume ekspor atau nilai jual. Ia ingin mengubah cara dunia memandang kopi Indonesia. Kopi bukan sekadar komoditas yang diperdagangkan di bursa berjangka, melainkan cerminan budaya, identitas, dan kearifan lokal yang harus dikemas dengan bangga.

“Kopi bukan sekadar komoditas, melainkan cerminan budaya dan identitas bangsa yang harus dikemas dengan bangga. Dalam konteks inilah, branding menjadi kunci untuk memastikan bahwa kopi Indonesia tidak hanya dikenal karena kuantitasnya, tetapi juga karena kualitas dan cerita di baliknya,” tegasnya.

Bayangkan saja: satu kilogram green bean Indonesia dihargai sekitar 3-5 dollar AS di pasar internasional. Namun, setelah diolah menjadi kopi bubuk atau ready-to-drink di luar negeri, nilai jualnya bisa melonjak hingga 20-30 dollar AS per kilogram. Selisih itulah yang selama ini dinikmati oleh negara lain, sementara petani Indonesia hanya mendapat bagian kecil dari kue ekonomi kopi dunia.

Steve Ganiputra Hidayat: Kopi adalah Proses, Ilmu, dan Ekosistem

Di balik gelaran COMMIT 2026, ada sosok yang selama bertahun-tahun mencurahkan perhatian pada pembangunan ekosistem kopi Indonesia. Dialah Steve Ganiputra Hidayat, Ketua Umum Perkumpulan Profesional dan Inovator Kopi Indonesia (PAPIKI).

Menurut Steve, kopi bukan sekadar komoditas dagang. Kopi adalah proses, ilmu, dan membangun ekosistem yang kompleks. Dari ketertarikan itulah Steve menjelajahi industri kopi hingga akhirnya mendirikan PAPIKI.

Ketua Umum PAPIKI ini mulai mendalami ekosistem kopi sejak awal 2000-an—jauh sebelum gelombang kedai kopi modern melanda Indonesia. Baginya, kopi adalah perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak: petani di hulu yang berjuang melawan alam, roaster yang mengejar konsistensi rasa, hingga barista dan pemilik kedai yang menyajikan cerita di setiap cangkir.

Visi Steve tentang ekosistem kopi yang kompleks inilah yang menjadi fondasi filosofis COMMIT 2026. Acara ini bukan sekadar pameran produk atau temu bisnis, melainkan upaya nyata untuk menyatukan seluruh pemangku kepentingan—dari hulu ke hilir—dalam satu gerakan bersama. Steve meyakini bahwa tanpa kolaborasi lintas sektor, mimpi menjadikan kopi Indonesia berdaya saing global hanya akan menjadi wacana.

Pangalengan: Ketika Hujan Menjadi Berkah Sekaligus Kutukan

Cristian Candra, Direktur PT Nirmala Citra Agroindo, adalah saksi hidup bagaimana kerasnya medan menjadi guru terbaik. Sejak 2020, ia mulai menekuni bisnis kopi di Pangalengan, Jawa Barat—sebuah wilayah yang dikenal dengan curah hujan tinggi. Namun, apa yang ia hadapi jauh dari bayangan indah perkebunan kopi di iklan-iklan.

“Kami belajar dari nol. Tantangan terbesar bukan hanya soal teknis, tetapi adaptasi lingkungan. Di Pangalengan, curah hujan sangat tinggi, terkadang matahari tidak muncul selama 14 hari. Ini berdampak langsung pada penurunan produksi kopi dalam dua tahun terakhirov,” ujar Cristian dalam sesi diskusi panel.

Fenomena El Nino dan perubahan pola cuaca yang tidak menentu menjadi ancaman serius. “Saat ini pohonasi baru berbunga, namun kami tidak tahu seberapa lama bunga itu akan bertahan. Ini ketidakpastian yang harus dihadapi petani,” tambahnya.

Namun, ber Cristian bukan tipe pengusaha yang menyerah pada keadaan. Ia menekankan pentingnya inkelanjutan, seperti penggunaan pupuk organik cair dan kolaborasi dengan para ahli untuk efisiensi tanam. “Kami juga belajar dari petani Aceh soal penanaman pagar dan efisiensi jumlah pohon. Intinya, sebagai pengusaha, kita harus terus belajar dan beradaptasi,” imbuhnya.

Kisah Cristian menjadi pengingat bahwa di balik setiap cangkir kopi yang tersaji, ada perjuangan panjang yang jarang terlihat. Para coffeepreneur di sektor hulu adalah ujung tombak yang menghadapi langsung amukan alam, sementara pasar hilir terus menuntut kualitas dan konsistensi. Di sinilah letak paradoks industri kopi Indonesia: permintaan terus meningkat, tetapi pasokan di hulu menghadapi tantangan yang kian kompleks.

Teknologi dan AI: Solusi di Tengah Keterbatasan SDM

Dari sisi teknologi, Muhammad Lutfihadi, Chief of Business Strategy Qohua by Qimtronics Creative Technologies, melihat peluang besar dalam adopsi Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi produksi kopi. Menurutnya, saat ini bisnis kopi sedang hype dan harga semakin mahal, sehingga petani dan pelaku usaha perlu dibekali dengan alat yang tepat agar mampu naik kelas.

“Kami mengembangkan teknologi yang bisa membantu proses roasting kopi. Melalui perpaduan sensor dan kamera, mesin dapat mendeteksi tahap perkembangan biji kopi secara presisi. Tujuannya adalah agar orang awam pun bisa melakukan roasting dengan hasil yang konsisten dan rasa yang sesuai parameter yang diinginkan,” papar Luthfi.

Teknologi yang dimaksud bukanlah konsep di atas kertas. Di ajang COMMIT 2026, Qohua memamerkan Roastrix 400 PRO—sebuah smart coffee roaster dengan mode manual dan otomatis untuk hasil roasting yang presisi dan konsisten. Dengan tagline “Roasting never been this easy!”, mesin berkapasitas 400 gram ini dirancang untuk kebutuhan roaster profesional, micro roastery, coffee shop, workshop, home roasters, maupun pemula yang ingin serius menekuni dunia roasting.

Mesin ini dilengkapi bean monitoring untuk mengintip perkembangan biji kopi secara real-time, drop door untuk mengeluarkan biji yang telah matang, chaff container sebagai penampung kulit ari, smoke filter agar tidak mengepul di dalam kedai, funnel sebagai corong masuknya green bean, knob encoder untuk memutar kontrol profil, interface display touchscreen untuk pengaturan, dan cooling tray sebagai nampan pendingin cepat di bawah. Tersedia pula mobile apps yang terhubung ke HP atau tablet, lengkap dengan grafik roast curve yang memungkinkan pengguna melacak suhu secara real-time.

Menariknya, Roastrix 400 PRO menawarkan dua mode: Manual Mode bagi roaster yang ingin bereksperimen dengan profil rasa mereka sendiri, dan Auto Mode untuk memastikan konsistensi saat pesanan meningkat. Mode manual membiarkan roaster tetap belajar “rasa” dan cerita di balik setiap biji kopi—entah itu Gayo, Toraja, atau Flores. Sementara mode otomatis memastikan hasil yang konsisten ketika permintaan pasar melonjak, sehingga tidak ada lagi cerita “hari ini enak, besok gosong”.

“Harapan kami, tercipta wadah dari hulu ke hilir dengan mesin yang diciptakan sendiri untuk mendukung kemandirian industri kopi nasional,” imbuhnya.

Dengan demikian, adopsi AI bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga upaya mendemokratisasi pengetahuan roasting. Jika dulu keahlian menyangrai kopi hanya dimiliki segelintir orang, kini teknologi membuka pintu bagi lebih banyak coffeepreneur untuk menghasilkan produk berkualitas. Mesin 400 gram ini bukan untuk produksi ton-tonan, melainkan untuk research and development (R&D) dan menjaga konsistensi rasa—sehingga “meja kopi” tetap punya cerita, bukan sekadar estetika.

Sinergi Perbankan: Menjangkau Seluruh Rantai Nilai

Dukungan permodalan menjadi kunci penting agar ekosistem ini berputar. Ferdinan L. Hariandja, Area Head Bank Mandiri Jakarta Tamrin, menegaskan komitmen perusahaannya untuk memfasilitasi kebutuhan para pelaku usaha kopi, mulai dari petani, pengumpul, roastery, hingga retailer.

“Kami melihat ada banyak potensi yang masih bisa digarap. Melalui business matching dalam acara ini, kami berupaya mendengarkan kendala di lapangan dan menyediakan produk yang sesuai. Kami tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga solusi transaksional dan digital,” jelas Ferdinan.

Bank Mandiri menawarkan berbagai skema pembiayaan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan suku bunga kompetitif 6-9 persen untuk UMKM, hingga kredit segmen menengah (SME). Selain itu, melalui platform Kopra, Bank Mandiri mendukung digitalisasi transaksi perusahaan agar lebih efisien dan transparan.

“Kami ingin memastikan UMKM kopi melek digital dan dapat tumbuh bersama. Ini sejalan dengan semangat kewirausahaan yang kami dukung,” tambahnya.

Dukungan perbankan yang menyentuh seluruh rantai nilai ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan pembiayaan yang selama ini menjadi hambatan utama para pelaku usaha kopi. Tanpa akses modal yang memadai, mimpi untuk naik kelas hanya akan menjadi wacana. Di sinilah peran perbankan sebagai katalisator ekosistem menjadi sangat krusial—bukan sekadar pemberi pinjaman, tetapi mitra strategis yang memahami kompleksitas bisnis kopi dari hulu ke hilir.

Rangkaian acara

COMMIT 2026 berlangsung pukul 13.00-17.00 WIB. Rangkaian acara dimulai dengan registrasi dan coffee break oleh Tim Registrasi dan Usher pada pukul 13.00-13.30, dilanjutkan opening dan welcome speech oleh MC pada pukul 13.30-13.35.

Sesi sambutan dari Pimpinan BursaKopi.com dan Bank Mandiri berlangsung pukul 13.35-13.45, lalu sambutan VIP Guest dari Bapak Umar Hadi, Ibu Romi, Bapak Miftah, dan Ibu Ratu pada pukul 13.45-14.05.

Agenda utama berlanjut dengan Talkshow COMMIT 2026 bertema “Akselerasi Pertumbuhan Usaha Kopi Indonesia” pada pukul 14.05-14.30. Sesi ini juga diisi presentasi pengenalan produk dan pengelolaan bisnis dari PT Nomina Cipta Boga, Qhuswa Indonesia, Kopi Jawa Indonesia, dan Bank Mandiri. Setelah itu, peserta mengikuti Sesi 2 bersama Tim Pemateri Bank Mandiri pada pukul 14.30-15.00, lalu Sesi 3 berupa Q&A bersama MC, audiens, dan speaker pada pukul 15.00-15.30.

Memasuki sore, COMMIT 2026 beralih ke Business Matching dan Networking yang berlangsung pukul 15.30-16.55 bersama Tim Sales dan Consultant. Agenda ini menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha kopi dan mitra strategis untuk menjajaki kerja sama serta peluang transaksi. Acara kemudian ditutup dengan summary oleh MC pada pukul 16.55-17.00.

Kolaborasi sebagai Kunci

Event COMMIT 2026 ini diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan usaha kopi Indonesia. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, nilai filosofis dan cerita di balik secangkir kopi Indonesia harus tetap terjaga.

Kolaborasi lintas sektor—dari petani hingga perbankan, dari teknologi hingga pasar—menjadi kunci untuk memastikan bahwa kopi Indonesia tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga simbol kewirausahaan yang berdaya saing global. Sebab, pada akhirnya, secangkir kopi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang perjuangan, adaptasi, dan semangat pantang menyerah para coffeepreneur yang menggelutinya.

Steve Ganiputra Hidayat, melalui PAPIKI, telah menanamkan fondasi bahwa kopi adalah proses, ilmu, dan ekosistem yang kompleks. Yunifar Fadly, melalui BursaKopi.com, telah menyalakan semangat hilirisasi dan branding. Cristian Candra, melalui PT Nirmala Citra Agroindo, telah menunjukkan bahwa adaptasi adalah kunci bertahan di sektor hulu. Muhammad Lutfihadi, melalui Qohua, telah membuktikan bahwa teknologi dapat mendemokratisasi pengetahuan roasting. Dan Ferdinan L. Hariandja, melalui Bank Mandiri, telah memastikan bahwa permodalan bukan lagi hambatan.

Kini, dengan kolaborasi yang semakin erat antara pemerintah, perbankan, teknologi, dan pelaku usaha, mimpi besar itu perlahan menjadi kenyataan. Kopi Indonesia bukan hanya tentang rasa di lidah, tetapi tentang cerita, identitas, dan masa depan yang lebih baik bagi semua yang terlibat di dalamnya.

Informasi Acara

COMMIT 2026—Coffeepreneur Summit—”Akselerasi Pertumbuhan Usaha Kopi Indonesia” berlangsung Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 13.00-17.00 WIB, di Wisma Mandiri 1, Lobby Utama 1. Acara ini gratis dan pendaftaran dapat dilakukan melalui http://tinyurl.com/BankMandiridanBursaKopi.

Kehadiran kehormatan dalam acara ini adalah Bapak Umar Hadi, Dewan Penasehat PaPIKI dan Duta Besar RI untuk PBB. Sambutan disampaikan oleh Ibu Elisabeth Ratu Rente Allo, Kepala Dinas PPUKM Jakarta; Ibu Romi Astuti, Direktur Kuliner Kemenparekraf; dan Bapak Miftah Farid, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag.

Acara ini menghadirkan wawasan usaha, konsultasi pembiayaan untuk modal usaha dan pembiayaan investasi, networking, serta showcase kopi. Solusi bisnis yang diangkat mencakup peningkatan kapasitas usaha, akses pembiayaan, dorongan kolaborasi bisnis, dan apresiasi kopi Indonesia. Aktivitas yang tersedia meliputi coffee machines, coffee tasting, coffee discovery, coffee community, dan mini bazar.

Tentang PaPIKI

Perkumpulan Profesional dan Inovator Kopi Indonesia (PAPIKI) adalah organisasi yang mewadahi para profesional dan inovator di industri kopi Indonesia. Didirikan oleh Steve Ganiputra Hidayat, PAPIKI berkomitmen untuk membangun ekosistem kopi yang kompleks dan berkelanjutan melalui kolaborasi, edukasi, dan inovasi.

Tentang BursaKopi.com

BursaKopi.com adalah platform yang menghubungkan pelaku usaha kopi dari hulu ke hilir untuk mempermudah transaksi dan kolaborasi.

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleUntuk Menampung Aspirasi Masyarakat Polsek Basarang Melaksanakan Giat Jum’at Curhat Di Desa Basarang Jaya
Next Article Menggunakan Spanduk Anggota Polsek Basarang Melaksanakan Sosialisasi Stop Ilegal Logging
hartono

Related Posts

DENGARKAN SUARA WARGA, POLSEK KAPUAS TIMUR TAMPUNG ASPIRASI MELALUI PROGRAM JUMAT CURHAT

23 Oktober 2026 12:01 PM

Wargaku Keluargaku, Paradigma Baru Kapolsek Pasar Minggu Merawat Keamanan dari Hati ke Hati

23 Oktober 2026 11:57 AM

KAI Logistik Distribusikan 122 Ribu Unit Sepeda Motor hingga Triwulan III 2026

23 Oktober 2026 11:21 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.