Analisnews.co.id | Jakarta — Kabar duka datang dari dunia militer dan pertahanan Indonesia. Mantan Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Kepergian purnawirawan jenderal TNI itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar TNI, para sahabat, serta masyarakat yang mengenalnya sebagai sosok prajurit tegas dan konsisten dalam menjaga kedaulatan negara.
Ryamizard merupakan tokoh militer yang memiliki perjalanan karier panjang di lingkungan TNI Angkatan Darat. Sebelum dipercaya menjadi Menteri Pertahanan pada periode 2014–2019 di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
Selama menjabat Menteri Pertahanan, Ryamizard dikenal aktif menggaungkan program bela negara. Program tersebut sempat menjadi perbincangan publik karena memunculkan beragam pandangan. Namun, Ryamizard berulang kali menegaskan bahwa konsep bela negara memiliki dasar hukum yang kuat dan telah lama menjadi bagian dari sistem pertahanan nasional.
Salah satu momen yang paling diingat adalah ketika dirinya dipanggil Presiden Jokowi untuk memberikan penjelasan mengenai program tersebut. Dengan lugas, Ryamizard menjelaskan bahwa bela negara telah memiliki landasan konstitusional dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan bukan merupakan gagasan baru.
Sejak muda, Ryamizard memang telah menunjukkan ketertarikan besar terhadap dunia kemiliteran. Dalam biografinya yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, ia disebut terinspirasi oleh sosok Mahapatih Gajah Mada yang berhasil mempersatukan Nusantara. Semangat itu semakin kuat karena pengaruh sang ayah yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Lulusan SMA Negeri 7 Jakarta tersebut kemudian menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dan lulus pada tahun 1974. Sejak saat itu, karier militernya terus menanjak hingga menduduki berbagai posisi strategis.
Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya antara lain Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad pada 1998, Kepala Staf Kostrad, Pangdam V/Brawijaya, Pangdam Jaya/Jayakarta, Pangkostrad, hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat pada periode 2002–2005.
Bagi banyak kalangan, Ryamizard bukan hanya seorang prajurit, tetapi juga figur yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pertahanan negara. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang jenderal yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk bangsa dan negara.
