
Dari barak ke sawah, merawat pangan merawat Indonesia: Kisah I Ketut Berata Yasa
Analisnews.co.id- Kata orang bijak pensiun adalah garis akhir pengabdian, namun tidak bagi I Ketut Berata Yasa.
Seragam loreng telah ia tanggalkan, senjata telah ia letakkan namun jiwa prajuritnya tidak pernah padam. Kini, medan juangnya berganti: dari barak ke pematang, dari peluru ke benih.
Dulu, langkahnya adalah derap sepatu lars di barak. Kini, langkahnya adalah jejak di lumpur sawah.
I Ketut Berata Yasa, purnawirawan TNI Angkatan Darat, memilih jalan sunyi seorang petani. Bukan karena tak ada pilihan, namun karena panggilan hati.
Hamparan sawah Tabanan yang belum tergarap maksimal, baginya, adalah medan juang baru, namanya ketahanan pangan.
“Tekad saya kuat, berdayakan petani, ini bagian dari bela negara di bidang pangan. Kalau sawah tidak kita garap, kita mau makan apa, katanya.
Jiwa pengabdiannya tak pernah ia letakkan. Ia masih aktif sebagai anggota Dewan Pimpinan Daerah Forum Bela Negara RI Tabanan. Juga bagian dari DPC Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat, PPAD Kabupaten Tabanan.
Hanya saja, wujud bela negaranya kini bergeser, dari menjaga kedaulatan wilayah, menjadi menjaga kedaulatan pangan.
“Kalau bukan yang sudah tua-tua ini siapa yang mau terjun ke sawah, Anak muda dunia mereka lain tidak mau turun jadi petani, tandasnya.
Tangan tua penuh lumpur menanam bibit, Tetes keringat jatuh ke tanah:
Kalimat itu bukan keluhan, ia adalah alarm sunyi. Tentang masa depan pangan kita, tentang generasi yang semakin jauh dari tanahnya.
Bagi Ketut Berata, lumpur di kaki sama mulianya dengan debu di sepatu lars, keringat di sawah sama artinya dengan peluh di medan latihan.
Semua demi satu tujuan, agar Indonesia tidak pernah kelaparan.
Di Tabanan, I Ketut Berata Yasa mengajarkan satu hal kepada kita semua.
Bahwa pensiun hanya berlaku untuk jabatan, tidak untuk pengabdian. Bela negara tak selalu harus dengan senjata, kadang, ia cukup dengan cangkul, benih, dan tekad yang tak pernah padam.
Karena bagi seorang prajurit sejati, Ibu Pertiwi selalu memanggil, sekalipun panggilan itu datang dari sunyinya sawah.
Dari Bali, untuk Indonesia.