Close Menu
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Polda Babel Limpahkan Eks Ketua-Bendahara KONI Babar Ke Kejati Babel Terkait Korupsi Dana Hibah

KAI Bandara Layani 3,48 Juta Penumpang pada Semester I 2026

Wujudkan Asta Cita Presiden, Polres Gunung Mas Sukses Kelola Panen Jagung Bersama Petani Binaan

Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
Analis
Subscribe Now
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita
Analis
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita
You are at:Home»Terkini»Edukasi di Karangasem Soroti Dua Sisi Teknologi Jadi Alat Pemberdayaan, Disisi Lain Pudarnya Menyama Braya dan Tradisi Adiluhung Ancaman Nyata
Terkini

Edukasi di Karangasem Soroti Dua Sisi Teknologi Jadi Alat Pemberdayaan, Disisi Lain Pudarnya Menyama Braya dan Tradisi Adiluhung Ancaman Nyata

ranuBy ranu4 Juni 2026 11:51 PM0283 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Edukasi di Karangasem Soroti dua Sisi Teknologi jadi Alat Pemberdayaan, Disisi Lain Pudarnya Menyama Braya dan Tradisi Adiluhung Ancaman Nyata

 

Analisnews.co.id – KARANGASEM | Desa Adat Bebandem, Karangasem, Bali, tak bisa lepas dari gempuran digital. Kamis 4 Juni 2026, para yowana atau pemuda-pemudi Hindu setempat digembleng dalam edukasi bertema “Pengaruh Perkembangan Teknologi Terhadap Yowana Sebagai Generasi Penerus di Desa Adat.

Namun tujuannya satu, agar teknologi mejadi kawan, bukan sebaliknya penghancur adat.

Untuk itu, sebagai desa adat yang masih kokoh memegang tradisi ngayah dan nilai kultural, Bebandem menghadapi ujian zaman. Teknologi digital dan media sosial masuk deras, membawa peluang sekaligus tantangan.

Brigjen TNI Purn Ketut Budiastawa, S.Sos., M.Si., Ketua DPD PEPABRI Bali, ia juga sebagai anggota Sabha Nayaka sekaligus mewakili Bendesa Agung MDA Provinsi Bali, didaulat sebagai narasumber. Menariknya dalam kegiatan Brigjen TNI (purn) Ketut Budiastawa dinilai mampu memetakan dua sisi mata uang teknologi bagi yowana Bebandem.

Teknologi membuka ruang baru, Sekaa Truna Truni Bebandem kini bisa mendokumentasikan upacara piodalan, proses pembuatan ogoh-ogoh, hingga seni tari tradisi dalam bentuk arsip digital. Ini warisan penting untuk generasi berikutnya, ujarnya.

Ia tekankan, koordinasi juga jauh lebih cepat, Ngayah rapat sangkep, gotong royong kini cukup satu grup WhatsApp, Media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok berubah jadi etalase. Yowana bisa mengenalkan seni, budaya, dan keindahan alam Karangasem ke dunia.

Lebih dari itu, teknologi buka gerbang pengetahuan, dari wirausaha digital alias e-commerce sampai peningkatan skill akademis. Ujungnya, ekonomi keluarga, home industri yowana ikut naik kelas.

Tetapi tidak hanya sampai disitu, kemudahan tentu ada harganya. Jika tanpa filter, teknologi bisa mengikis esensi kehidupan desa adat.

Brigjen TNI (purn) Ketut Budiastawa kembali mengingatkan, kedekatan dengan gadget memangkas interaksi langsung, konsep menyama braya atau persaudaraan terancam pudar. Hiburan instan dari game online dan tren medsos mengalihkan fokus yowana dari kewajiban belajar sastra agama, menabuh, dan keterampilan adat lain.

Tak hanya itu, yang lebih berbahaya benturan nilai budaya luar dari internet masuk tanpa saring, dianggap lebih ” Modern” dari tradisi adiluhung Bebandem.

Ditambah lagi, yowana rentan terpapar hoaks dan isu sensitif di medsos yang bisa memicu konflik internal antar-banjar.

Agar teknologi tidak jadi lawan, Brigjen TNI (purn) Ketut Budiastawa mendorong pentingnya” Wiweka, “kemampuan membedakan baik dan buruk, yaitu pijakan utamanya, nilai Tri Hita Karana Bali.

Untuk itu, gunakan teknologi dengan bijak, batasi screen time dan tempatkan kewajiban adat-sosial di atas aktivitas dunia maya.

Yowana juga didorong menjadikan teknologi sebagai wadah kreativitas. Salah satu contohnya lomba desain ogoh-ogoh berbasis digital atau konten edukasi bahasa Bali.

Sementara itu, Prajuru Desa Adat Bebandem diminta merangkul STT(Seka Truna Truni) untuk lebih memberi ruang bagi pemuda menerapkan teknologi untuk kemajuan desa.

“Teknologi adalah sarana, sedangkan yowana adalah penggeraknya. Di Desa Adat Bebandem, teknologi tidak harus dijauhi, melainkan dikendalikan agar selaras dengan nafas adat dan agama Hindu,” tegas Brigjen TNI (purn) Ketut Budiastawa.(red)

 

#Yowana Bebandem, Teknologi dan Adat, Tri Hita Karana, Brigjen Ketut Budiastawa, Karangasem, Desa Adat Bali

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleUnit Lantas Polsek Cilegon dan Dishub urai kemacetan
Next Article Kapolres Kapuas Pimpin Penanaman Jagung Serentak Kuartal I Tahun 2026
ranu

Related Posts

Polda Babel Limpahkan Eks Ketua-Bendahara KONI Babar Ke Kejati Babel Terkait Korupsi Dana Hibah

9 Juli 2026 2:57 PM

KAI Bandara Layani 3,48 Juta Penumpang pada Semester I 2026

9 Juli 2026 2:55 PM

Wujudkan Asta Cita Presiden, Polres Gunung Mas Sukses Kelola Panen Jagung Bersama Petani Binaan

9 Juli 2026 2:45 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.