Close Menu
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Lima Dekade Bersama: Kisah Cinta Bhakti dan Dharma, Ida Bagus Djodhi dan Sumarwati

Kapolsek Warunggunung Pimpin Giat Rutin Apel Pagi Berikan Arahan dan Atensi Pimpinan

Personil Polsek Cimarga Polres Melaksanakan Giat Patroli Malam Hari

Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
Analis
Subscribe Now
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita
Analis
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita
You are at:Home»Daerah»Cegah Stunting Butuh Gerakan Bersama, Komunitas dan Ormas Dinilai Jadi Kunci Literasi Gizi Keluarga
Daerah

Cegah Stunting Butuh Gerakan Bersama, Komunitas dan Ormas Dinilai Jadi Kunci Literasi Gizi Keluarga

yadiBy yadi29 Juni 2026 7:09 PM073 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id  | Jakarta — Upaya menekan angka stunting di Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Di balik intervensi seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi gizi yang berkelanjutan menjadi fondasi penting untuk menciptakan generasi yang lebih sehat.

Sosiolog Universitas Indonesia, Nadia Yovanni, menilai organisasi masyarakat, komunitas, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan kehidupan warga. Kedekatan tersebut memungkinkan pesan-pesan mengenai gizi seimbang lebih mudah diterima sekaligus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Peran organisasi masyarakat itu besar untuk mengedukasi tentang gizi pada masyarakat,” ujar Nadia, Minggu(28/6)

Namun, ia mengingatkan bahwa efektivitas edukasi sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang menjadi penggeraknya. Para kader organisasi harus terlebih dahulu memiliki pemahaman gizi yang benar agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Menurut Nadia, persoalan gizi bukan semata menyangkut ketersediaan makanan, tetapi juga dipengaruhi tingkat literasi keluarga. Keluarga menjadi ruang pertama tempat anak mengenal pola makan dan kebiasaan hidup sehat.

“Jika keluarga memiliki literasi gizi yang baik, maka perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi juga akan berubah ke arah yang lebih sehat,” katanya.

Salah satu contoh gerakan berbasis masyarakat datang dari PP Aisyiyah dan Muslimat NU yang selama ini aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang. Melalui jaringan kader hingga tingkat desa, kedua organisasi tersebut juga berupaya meluruskan persepsi yang masih keliru mengenai konsumsi kental manis.

Masih banyak keluarga yang menganggap kental manis sebagai susu atau bahkan menjadikannya pengganti susu pertumbuhan bagi balita. Padahal, berdasarkan berbagai kajian, produk tersebut mengandung gula dalam jumlah tinggi dan tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak selama masa pertumbuhan.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Warsiti, mengatakan perhatian terhadap isu gizi merupakan bagian dari komitmen organisasinya dalam pemberdayaan perempuan dan anak.

“Pemenuhan gizi harus menjadi perhatian kita bersama. Karena itu, kader Aisyiyah terus bekerja hingga ke akar rumput untuk memperkuat peran keluarga, komunitas, dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci,” ujarnya.

Selain organisasi keagamaan, sejumlah komunitas seperti Boss Mama, Rangkul Foundation, dan Komunitas Relawan Samadua juga aktif mendampingi ibu dan balita, termasuk di wilayah terdampak bencana. Mereka tidak hanya menyalurkan bantuan pangan, tetapi juga melakukan edukasi, pendampingan, serta melatih kader lokal agar mampu mengenali persoalan gizi sejak dini.

Pendekatan berbasis komunitas tersebut dinilai melengkapi berbagai program pemerintah karena menyentuh aspek perubahan perilaku masyarakat secara langsung. Dengan jaringan yang kuat hingga tingkat desa, organisasi masyarakat mampu menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata keluarga di lapangan.

Kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, komunitas, akademisi, dan keluarga diyakini menjadi kunci untuk membangun budaya sadar gizi yang berkelanjutan. Sebab, pencegahan stunting bukan sekadar menyediakan makanan bergizi, melainkan juga membangun pengetahuan yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

#Aisyiyah #GiziAnak #IndonesiaSehat #KesehatanAnak #LiterasiGizi #MakanBergiziGratis #MuslimatNU #Stunting
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleCegah Gangguan Kamtibmas Polsek Bojongmanik Polres Lebak Laksanakan Patroli Malam
Next Article BHABINKAMTIBMAS POLSEK MUNCANG SAMBANG WARGA DESA BINAAN SAMPAIKAN PESAN KAMTIBMAS
yadi

Related Posts

194 Kelurahan di Jakarta Berstatus ODF Komitmen, Sanitasi Layak Terus Diperluas

29 Juni 2026 2:23 PM

Rundy Hadiyanto Juarai Turnamen Biliar Antarwartawan SIWO PWI DKI Jakarta 2026

29 Juni 2026 2:18 PM

Nikah Fest 2026: Menggapai Keluarga Sakinah Melalui Proses Ta’aruf di Golek Garwo

28 Juni 2026 7:55 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.