Close Menu
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

KAI Sesuaikan Jadwal LRT Jabodebek di Pagi Hari, Distribusi Pengguna di Jam Sibuk Lebih Merata

MENJAGA LINGKUNGAN TETAP LESTARI POLSEK KAPUAS HULU RUTIN LAKUKAN IMBAUAN LARANGAN TAMBANG LIAR

Aice Got You! Panggung Crispymu! Season 2 Resmi Dimulai di Tangerang

Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
Analis
Subscribe Now
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita
Analis
  • Beranda
  • Warga Menilai
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
  • Tulis Berita
You are at:Home»Terkini»Lovina untuk Slow Traveler: Hot Springs, Vihara, dan Alasan Orang Tidak Mau Buru-Buru Pulang
Terkini

Lovina untuk Slow Traveler: Hot Springs, Vihara, dan Alasan Orang Tidak Mau Buru-Buru Pulang

vritimesBy vritimes2 Juli 2026 1:08 PM024 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Inilah yang Lovina tawarkan di luar tur lumba-lumba, dan kenapa pelancong slow travel mulai menaruh perhatian pada bagian Bali ini.

Tanya kebanyakan wisatawan yang pertama kali ke Lovina kenapa mereka datang, dan jawabannya biasanya lumba-lumba. Perjalanan perahu di pagi buta, air yang tenang, melihat lumba-lumba bergerak di teluk saat matahari terbit, itu adalah pengalaman yang benar-benar bagus dan daya tarik paling dikenal di kawasan ini.

Tapi sesuatu terjadi pada banyak pengunjung setelah perahu-perahu itu kembali. Sisa hari terbuka begitu saja, ritme Lovina mulai terasa, dan jenis perjalanan yang berbeda pun menjadi mungkin.

Tidak ada beach club di sini, tidak ada kemacetan lalu lintas, tidak ada tekanan untuk mengisi setiap jam. Ritme Bali Utara berbeda dari selatan, dan perbedaan itulah yang sebenarnya membuat orang memilih untuk tinggal lebih lama.

Inilah yang Lovina tawarkan di luar tur lumba-lumba, dan kenapa pelancong slow travel mulai menaruh perhatian pada bagian Bali ini.

Lovina Setelah Perahu Pagi Kembali

Perahu lumba-lumba berangkat sebelum matahari terbit dan kembali sekitar pukul 08.00. Setelah itu, Lovina kembali ke ritmenya yang alami. Pantai di sini berpasir hitam dengan air yang tenang karena swell Samudra Hindia dipatahkan oleh karang di lepas pantai, membuat airnya jauh lebih jinak dibanding Bali Selatan.

Pertengahan pagi adalah saat kawasan ini paling jujur menampilkan dirinya. Warung lokal sudah buka, aktivitas jalanan mencerminkan kehidupan sehari-hari bukan pariwisata, dan beberapa kafe di sepanjang jalan utama cukup sepi untuk berpikir jernih.

Bagi wisatawan yang datang dari Seminyak atau Ubud, ketiadaan tingkat kebisingan dan kepadatan komersial tertentu langsung terasa.

Ini bukan tempat untuk orang yang membutuhkan stimulasi. Ini adalah tempat untuk orang yang membutuhkan sebaliknya.

Pemandian Air Panas Banjar

Air Panas Banjar, sekitar 10 hingga 12 kilometer dari pusat Lovina, adalah rangkaian kolam air panas alami bertingkat yang terletak di lereng bukit yang rindang.

Suhu air secara konsisten hangat dari aktivitas vulkanik alami, dan kolam-kolamnya menarik secara arsitektur: pancuran batu berukir mengalirkan air ke kolam atas, yang kemudian meluap ke tingkat bawah melalui bebatuan tradisional Bali.

Sebuah pura Buddha berdiri di samping mata air, menambahkan lapisan makna budaya yang membuat kunjungan ini terasa lebih dari sekadar objek wisata.

Pemandian paling baik dikunjungi di pagi hari sebelum rombongan tur tiba. Tiket masuk terjangkau. Bawa pakaian ganti dan luangkan setidaknya 90 menit.

Vihara Brahmavihara-Arama

Brahmavihara-Arama adalah satu-satunya biara Buddha di Bali. Letaknya di lereng bukit di atas desa Banjar, dengan pemandangan ke lanskap sekitarnya, dan memuat perpaduan unik antara arsitektur Bali dan Buddha.

Biara ini aktif digunakan: para biksu tinggal dan berlatih di sini. Pengunjung dapat menjelajahi area kompleks yang mencakup taman meditasi, mural berwarna-warni yang menggambarkan ajaran Buddha, dan sebuah patung emas besar. Suasananya tenang dan kontemplatif, jarang terasa seperti pura wisata biasa.

Brahmavihara-Arama dan Air Panas Banjar jaraknya cukup dekat untuk digabung menjadi satu ekskursi setengah hari. Kunjungi biara dulu, baru pemandian air panas. Urutannya cocok.

Singaraja sebagai Hari Wisata Budaya

Singaraja, sekitar 10 hingga 15 kilometer di timur Lovina, pernah menjadi ibu kota kolonial Bali dan memiliki karakter yang sangat berbeda dari bagian Bali lainnya.

Gedong Kirtya adalah perpustakaan di Singaraja yang menyimpan salah satu koleksi manuskrip lontar penting di dunia, teks-teks Bali dan Jawa kuno yang ditulis di atas daun lontar yang dipreparasi. Perpustakaan ini terbuka untuk pengunjung dan merupakan salah satu dari sedikit pengalaman benar-benar bernilai akademis di Bali.

Kawasan pelabuhan lama Singaraja masih menyimpan jejak periode kolonial Belanda: gudang-gudang tua, bangunan administratif, dan perpaduan arsitektur ruko Cina yang mencerminkan sejarah kota ini sebagai pelabuhan dagang. Klenteng-klenteng di bagian kota ini layak untuk dijelajahi sekitar satu jam.

Singaraja juga memiliki budaya pasar harian yang terasa otentik lokal, bukan diatur untuk wisatawan.

Pantai dalam Mode yang Berbeda

Pantai Lovina bukan pantai untuk foto kartu pos. Pasirnya berwarna hitam vulkanik, airnya tenang bukan dramatis, dan kesan visualnya butuh sedikit penyesuaian jika datang dengan ekspektasi pantai berpasir putih seperti Bali Selatan.

Yang ditawarkan sebagai gantinya adalah ketenangan yang sungguh-sungguh. Pantai di sore hari, setelah perahu-perahu tur sudah ditambatkan dan pengunjung pagi sudah pergi, menjadi salah satu ruang publik paling sepi di Bali.

Perahu nelayan bersandar di tengah teluk. Keluarga lokal menggunakan garis pantai untuk aktivitas keseharian mereka. Matahari terbenam dari bagian Bali Utara ini tidak terburu-buru, sebuah kualitas yang jarang ditemukan bahkan di momen paling indah dari sunset Bali Selatan.

Kenapa Seririt Menjadi Basecamp yang Tepat

Liberta Home Lovina berlokasi di Jalan Udayana II No. 61, Seririt, Buleleng. Seririt adalah kota kecil di sebelah barat pusat Lovina, lebih tenang dari strip Lovina utama tapi masih dalam jangkauan mudah ke titik keberangkatan perahu lumba-lumba, Banjar, dan Singaraja.

Menginap di Seririt daripada di pusat Lovina berarti mundur satu langkah lagi dari infrastruktur pariwisata. Kawasan ini terasa lebih seperti kota Bali daripada destinasi wisata. Bagi pelancong slow travel, itulah intinya.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleGuna Serap Informasi Lapangan, Sat Samapta Polres Sukamara Gelar Monitoring di Bank BNI
Next Article Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh?
vritimes

Related Posts

MENJAGA LINGKUNGAN TETAP LESTARI POLSEK KAPUAS HULU RUTIN LAKUKAN IMBAUAN LARANGAN TAMBANG LIAR

2 Juli 2026 2:33 PM

Aice Got You! Panggung Crispymu! Season 2 Resmi Dimulai di Tangerang

2 Juli 2026 2:27 PM

POLSEK KAPUAS HULU RUTIN BERKAN IMBAUAN KEPADA WARGA MENCEGAH KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

2 Juli 2026 2:14 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.