Analisnews.co.id | SURAKARTA — Bagi Tiya Rima, cerita terbaik tidak selalu disampaikan dari atas panggung. Ada kisah-kisah yang justru lebih jujur bersuara melalui benda-benda yang diam: keping CD tua, coretan lirik yang menguning, hingga buket bunga yang menyimpan kenangan.
Melalui pameran tunggal “Perjalanan Perkenalan Tiya Rima” di Galeri Lokananta, Surakarta (8 Agustus – 7 Oktober 2026), penyanyi dan penulis lagu ini mengajak kita memasuki ruang paling personal: tempat sebuah mimpi bertahan di tengah keraguan.
Lahir dari keluarga non-musisi, Tiya paham betul rasanya memperjuangkan jalur hidup yang tak selalu mudah dipahami lingkungan sekitar. Namun, ia memilih terus melangkah.
Menggunakan metafora bunga, pameran ini merekam pasang surut seorang musisi independen—tentang masa ketika harus layu, sebelum akhirnya mekar kembali di musim yang tepat.
Di dalam galeri, pengunjung disambut instalasi taman kecil berlatar kanvas merah lukisan Tiya, instalasi audio, hingga bocoran tiga lagu dari album barunya, Cycle Logic. Pameran ditutup dengan gestur hangat: pengunjung dapat menuliskan mimpi mereka pada Kartu Harapan untuk dibawa pulang.
Kurator Caroline S. Darmawan berharap pameran ini menjadi penyejuk bagi siapa pun yang sedang berjuang.
Di usianya yang ke-70, Lokananta kembali membuktikan bahwa musik tidak hanya berdenyut lewat nada, tetapi juga hidup melalui arsip, ingatan, dan keberanian untuk terus tumbuh. (PH)
