Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

POS Retail untuk Solusi Kelola Penjualan, Stok, dan Multi-Outlet

MENCEGAH KEBAKARAN HUTAN SERTA LAHAN POLSEK KAPUAS HULU RUTIN LAKUKAN IMBAUAN KEPADA WARGA

SEBELUM PELAKSANAAN TUGAS DAN YANMAS, POLSEK KAPUAS HULU LAKSANAKAN SERAH TERIMA JAGA MAKO SIANG

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»TV & Drama»Celebrities»Tiya Rima: Ketika Bunga Tak Selalu Mekar di Musim yang Sama
Celebrities

Tiya Rima: Ketika Bunga Tak Selalu Mekar di Musim yang Sama

yadiBy yadi6 Agustus 2026 8:48 AM032 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id  | SURAKARTA — Bagi Tiya Rima, cerita terbaik tidak selalu disampaikan dari atas panggung. Ada kisah-kisah yang justru lebih jujur bersuara melalui benda-benda yang diam: keping CD tua, coretan lirik yang menguning, hingga buket bunga yang menyimpan kenangan.

Melalui pameran tunggal “Perjalanan Perkenalan Tiya Rima” di Galeri Lokananta, Surakarta (8 Agustus – 7 Oktober 2026), penyanyi dan penulis lagu ini mengajak kita memasuki ruang paling personal: tempat sebuah mimpi bertahan di tengah keraguan.

Lahir dari keluarga non-musisi, Tiya paham betul rasanya memperjuangkan jalur hidup yang tak selalu mudah dipahami lingkungan sekitar. Namun, ia memilih terus melangkah.

Menggunakan metafora bunga, pameran ini merekam pasang surut seorang musisi independen—tentang masa ketika harus layu, sebelum akhirnya mekar kembali di musim yang tepat.

Di dalam galeri, pengunjung disambut instalasi taman kecil berlatar kanvas merah lukisan Tiya, instalasi audio, hingga bocoran tiga lagu dari album barunya, Cycle Logic. Pameran ditutup dengan gestur hangat: pengunjung dapat menuliskan mimpi mereka pada Kartu Harapan untuk dibawa pulang.

Kurator Caroline S. Darmawan berharap pameran ini menjadi penyejuk bagi siapa pun yang sedang berjuang.

Di usianya yang ke-70, Lokananta kembali membuktikan bahwa musik tidak hanya berdenyut lewat nada, tetapi juga hidup melalui arsip, ingatan, dan keberanian untuk terus tumbuh. (PH)

#MusikIndonesia CycleLogic GaleriLokananta Lokananta MusisiIndependen PameranMusik PerjalananPerkenalanTiyaRima SeniIndonesia Surakarta TiyaRima TumbuhDanBersemi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleBRI KKB Expo 2026 Sambangi Jawa Timur, BRI Finance Hadirkan Solusi Pembiayaan Kendaraan
Next Article DKI Tambah Aset Rp2,27 Triliun dari Fasos-Fasum, Pramono: Segera Buka untuk Publik
yadi

Related Posts

“I Love You, Bestie”, Lagu Baru Harry De Fretes yang Menjaga Cinta dan Tradisi Betawi

4 Agustus 2026 4:10 PM

Selamat Jalan Diding Boneng, Seniman yang Mengajarkan Tawa dan Ketulusan

3 Agustus 2026 3:23 PM

Pencatatan Hak Cipta Lagu Gratis Per 1 Agustus, DJKI Benahi Layanan demi Kepastian Hukum

1 Agustus 2026 12:24 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.