Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

SOSIALISASI LARANGAN ILLEGAL MINING, BERTUJUAN CIPTAKAN MASYARAKAT SADAR AKAN LINGKUNGAN OLEH POLSEK KAPUAS TIMUR

“Cegah Karhutla” Polsek Kapuas Timur Rutin Sosialisasi dan Imbau Masyarakat Tidak Membakar Hutan dan Lahan

Gelontorkan Rp4,1 Triliun ke Madrasah-RA, Kemenag Wanti-wanti Soal Tata Kelola

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Daerah»Mengenang Pusat Musik Era 80–90-an: Napak Tilas Musisi Legendaris di Glodok
Daerah

Mengenang Pusat Musik Era 80–90-an: Napak Tilas Musisi Legendaris di Glodok

yadiBy yadi9 Agustus 2026 10:39 AM0214 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id | Jakarta — Sebelum industri musik mengenal platform digital, media sosial, dan berbagai layanan streaming, Glodok di Jakarta Barat pernah menjadi salah satu denyut penting peredaran musik Indonesia.

Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, kawasan Harco, Pinangsia, Glodok, Jakarta Kota, bukan sekadar pusat perdagangan elektronik. Di kawasan itu, para pelaku industri musik bertemu, bernegosiasi, bertukar kabar, sekaligus mencari peluang.

Glodok menjadi semacam ruang pertemuan bagi produser rekaman, pencipta lagu, penyanyi, dan musisi. Dari perusahaan rekaman besar hingga produser yang kala itu kerap disebut sebagai “produser kaki lima”, semuanya ikut meramaikan ekosistem musik yang tumbuh di kawasan tersebut.

Nama-nama perusahaan rekaman seperti Jackson Records & Tape, Akurama Record, Billboard Indonesia, Granada Record, Grammy Records, Harpa Record, Purnama Record, Puspita Record, hingga MSC pernah menjadi bagian dari lanskap musik di kawasan itu.

Tak mengherankan jika dari lingkungan tersebut kemudian lahir dan berkembang banyak nama yang mewarnai musik Indonesia. Di jalur pop, antara lain ada Obbie Mesakh, Jefri Bule, Cecep A’s, Pance, Maxie Mamiri, Hermes Sihombing, Amin Ivos, Wahyu WHL, dan Ade Putra,Benny Azhar,Manthos

Sementara dari jalur dangdut, nama-nama seperti H Ukat, Sandi Sulung, B Makayok, Asmin Cader, dan H Mukhtar B turut menjadi bagian dari cerita panjang musik yang berdenyut dari kawasan Glodok.

Kini, puluhan tahun setelah masa itu berlalu, sebagian pelaku sejarah tersebut kembali ke tempat yang menyimpan banyak kenangan.

Sabtu (8/8/2026), para pencipta lagu, musisi, penyanyi, dan pelaku industri musik era 1980-an dan 1990-an menggelar reuni sekaligus silaturahmi di kawasan Harco Glodok. Pertemuan itu bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan juga sebuah upaya untuk mengingat kembali masa ketika musik masih tumbuh dari perjumpaan manusia dengan manusia.

Inisiator kegiatan, Azas Semesta, mengatakan reuni tersebut digelar untuk mempertemukan kembali kawan-kawan lama yang selama bertahun-tahun tidak berjumpa.

“Intinya silaturahmi. Teman-teman yang sudah terputus selama bertahun-tahun kita pertemukan kembali,” ujar Azas.

Menurut dia, pemilihan Glodok sebagai lokasi reuni memiliki makna tersendiri. Kawasan tersebut merupakan bagian dari habitat para pelaku musik pada masa lalu.

“Ini kembali ke habitat. Kita mengingat kembali kenangan indah,” katanya.

Pertemuan itu sekaligus menjadi ruang untuk saling menguatkan di tengah perubahan industri musik. Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah royalti bagi pencipta lagu.

Asas menuturkan, persoalan royalti masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak pencipta lagu. Ia berharap para pelaku musik dapat terus berdiskusi dan mencari jalan keluar bersama, meski saat ini mereka berada dalam lembaga manajemen kolektif (LMK) yang berbeda.

“Walaupun saat ini kita berbeda LMK, ketika kembali ke habitat, kita tetap satu keluarga,” ujarnya.

Bagi mereka, musik bukan hanya soal karya dan penghasilan. Ada persahabatan, perjumpaan, serta kenangan yang ikut melekat pada setiap lagu yang pernah lahir.

Reuni itu pun dikemas sebagai napak tilas. Setelah berkumpul dan menikmati kopi bersama di Warung Kumis, para peserta berdoa untuk para pencipta lagu yang telah meninggal dunia serta mereka yang sedang sakit.

Mereka kemudian mengunjungi bekas kantor perusahaan rekaman dari blok ke blok di kawasan Glodok. Foto bersama menjadi penanda sederhana dari perjalanan panjang yang pernah mereka lalui.

Menjelang malam, suasana bergeser menjadi lebih santai. Setelah makan bersama dan beristirahat sejenak, para peserta menikmati hiburan bersama di lantai enam Batavia Caffe Harco.

Sejumlah bintang tamu turut hadir, antara lain Aris Lawas, Maya Angela, Etri Jayanti, Tio Fanta, dan Obbie Mesakh. Musisi lain yang hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya Jelly Tobing, Maxie Mamiri, Iskandar, serta sejumlah tokoh musik lainnya.

Di tengah riuh pertemuan itu, Glodok seperti mendapatkan kembali satu fragmen dari masa lalunya.

Tempat yang dahulu dipenuhi percakapan tentang lagu, kaset, rekaman, penyanyi, dan peluang pasar tersebut kembali menjadi titik temu para pelaku musik. Bedanya, kali ini mereka datang bukan semata-mata untuk mengejar sebuah produksi atau merancang hit berikutnya.

Mereka datang untuk mengenang.

Sebab, bagi generasi yang tumbuh bersama industri musik fisik, sebuah kawasan tidak hanya menyimpan alamat. Ia menyimpan suara, wajah, persahabatan, dan perjalanan hidup.

Glodok pun menjadi lebih dari sekadar tempat.

Ia adalah bagian dari memori kolektif musik Indonesia.

(Phyd)

#IndustriMusik #MusikIndonesia #PenciptaLagu #RoyaltiMusik Glodok HarcoGlodok JakartaKota JellyTobing MusikNusantara Musisi80an Musisi90an NostalgiaMusik ObbieMesakh ReuniMusisi SejarahMusikIndonesia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleINSTIKI dan HOCA Satukan Seni, dan Blockchain dalam Pameran UTOPIA X DISTOPIA 2026
Next Article Made Supartha Bawa Semangat Baru ABTI Bali, Handball U-19 Tampil Juara di Kejurnas 2026
yadi

Related Posts

SOSIALISASI LARANGAN ILLEGAL MINING, BERTUJUAN CIPTAKAN MASYARAKAT SADAR AKAN LINGKUNGAN OLEH POLSEK KAPUAS TIMUR

8 Agustus 2026 1:47 PM

Cegah Perusakan Ekosistem Perairan, Polsek Kapuas Timur Sosialisasikan Bahaya Illegal Fishing untuk Keberlanjutan

8 Agustus 2026 1:40 PM

Registrasi Indonesia Sports Summit 2026 Resmi Dibuka, Dorong Kolaborasi Industri Olahraga

8 Agustus 2026 10:56 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.