Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sorotan: Sambutan Upacara HUT RI Ke-81, Datuk Sir. Imam Prawoto : Jadilah SDM yang Tangguh, Trampil, Berilmu, Berkarakter dan Siap Menghadapi Perubahan Zaman

Kasus Matel Diduga Peras Pengendara di Cikupa Diungkap, Polresta Tangerang Tangkap Tiga Terduga Pelaku

Melalui Maklumat Kapolda Polsek Kapuas Hilir Jelaskan Kewarga Tentang Sanksi Pidana Dan Denda Bagi Pelaku Karhutla 

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Featured»Ketika Pasar Bergejolak: Membaca Pola Emas dan IHSG dari Tiga Krisis Besar
Featured

Ketika Pasar Bergejolak: Membaca Pola Emas dan IHSG dari Tiga Krisis Besar

vritimesBy vritimes20 Agustus 2026 10:13 PM033 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Setiap kali pasar keuangan memasuki masa gejolak, satu pertanyaan yang sama selalu muncul di benak banyak investor: ke mana sebaiknya dana ditempatkan agar lebih tahan terhadap guncangan? Menengok ke belakang, tiga periode krisis besar yang dialami pasar Indonesia, yaitu krisis keuangan global 2008, pandemi 2020, dan volatilitas pasar 2024, memberikan gambaran yang menarik mengenai bagaimana emas dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak ke arah yang sering kali berlawanan.

Babak Pertama: Guncangan Global 2008

Krisis keuangan global 2008 menjadi salah satu ujian terberat bagi pasar saham di hampir seluruh dunia. Tekanan yang berawal dari sektor keuangan negara maju merembet dengan cepat ke berbagai bursa, termasuk Indonesia. IHSG mengalami koreksi yang dalam seiring meningkatnya kehati-hatian investor secara global.

Pada periode yang sama, harga emas dalam denominasi dolar AS justru bergerak menguat. Banyak pelaku pasar internasional mengalihkan sebagian dananya ke aset yang dianggap lebih defensif ketika ketidakpastian meningkat. Inilah pertama kalinya, dalam ingatan banyak investor modern, pola pergerakan emas dan saham yang berlawanan arah terlihat begitu jelas.

Babak Kedua: Tekanan Pandemi 2020

Lebih dari satu dekade kemudian, pandemi 2020 kembali menghadirkan tekanan yang luar biasa pada pasar keuangan dunia. Dalam waktu singkat, IHSG sempat turun tajam ketika kekhawatiran menyebar lebih cepat daripada kepastian. Pola yang serupa dengan 2008 pun terulang.

Di tengah gelombang ketidakpastian itu, harga emas global sempat menyentuh kisaran rekor tertingginya, sementara harga emas dalam rupiah juga mencatat penguatan. Bagi sebagian investor, emas kembali menjalankan perannya sebagai salah satu aset penyeimbang ketika kelas aset lain berada di bawah tekanan.

Babak Ketiga: Dinamika Pasar 2024

Berbeda dengan dua periode sebelumnya, 2024 tidak ditandai oleh satu guncangan besar, melainkan oleh dinamika pasar yang lebih beragam sepanjang tahun. IHSG menutup tahun dengan koreksi tipis. Pada saat yang sama, harga emas, baik secara global maupun dalam bentuk emas Antam, melanjutkan tren penguatan yang cukup konsisten.

Rangkuman berikut memberikan gambaran umum atas pola pergerakan kedua aset selama tiga periode tersebut.

Konteks yang Sering Terlewat: Pola Bukan Jaminan

Meski pola di atas terlihat berulang, penting untuk dipahami bahwa hal ini bukan jaminan akan terjadi kembali dengan cara yang sama. Sejumlah studi akademik di Indonesia justru menunjukkan bahwa peran emas sebagai aset lindung nilai bersifat kontekstual. Pada beberapa periode, kekuatan hubungannya dengan pasar saham tidak selalu konsisten.

Temuan ini memberi pelajaran berharga: tidak ada satu pun kelas aset yang dapat dianggap sepenuhnya bebas risiko. Setiap aset memiliki karakteristik, kelebihan, dan keterbatasannya masing-masing, yang perlu dipahami sebelum keputusan investasi diambil.

Market Insight

Ada beberapa pelajaran yang dapat dibaca dari ketiga periode tersebut. Pertama, pada masa tekanan pasar yang luas, emas dan saham kerap bergerak ke arah yang berbeda, sehingga keduanya dapat saling melengkapi dalam sebuah portofolio. Kedua, besarnya pergerakan tidak pernah sama di setiap krisis, sehingga mengandalkan satu skenario tunggal berisiko menyesatkan.

Ketiga, dan yang paling konsisten muncul, adalah pentingnya diversifikasi. Dengan menyebar penempatan dana pada beberapa kelas aset yang memiliki karakteristik berbeda, investor memiliki peluang lebih baik untuk membangun portofolio yang seimbang dalam menghadapi berbagai kondisi pasar.

Menurut tim Research Valbury, data historis sebaiknya dipahami sebagai bahan pembelajaran, bukan sebagai ramalan. Hal yang ingin terus didorong adalah literasi keuangan, agar masyarakat memahami karakteristik setiap aset beserta risikonya, dan dapat mengambil keputusan yang lebih bijak sesuai dengan profil masing-masing.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticlePanduan Memilih Aplikasi POS Terbaik di Indonesia 2026
Next Article Sat Samapta Sisir Pasar Inpres, Pastikan Kios Aman Setelah Aktivitas Berkurang
vritimes

Related Posts

“Cegah Karhutla” Polsek Kapuas Timur Rutin Sosialisasi dan Imbau Masyarakat Tidak Membakar Hutan dan Lahan

21 Agustus 2026 10:00 AM

Merajut Ulang Keadilan Sosial: IHDC Lanjutkan Seri Diskusi Publik “Ideologi Kesehatan Indonesia” Bersama Prof. Nila Moeloek dan Pakar Lintas Sektor

21 Agustus 2026 6:11 AM

Para Pendukung Industri Global dan Lokal Mendukung Automechanika Jakarta karena Minat Peserta Pameran yang Kuat Mendorong Pameran yang Lebih Besar

21 Agustus 2026 6:10 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.