Tapanuli Utara — analisnews co.id
Sebanyak 521 mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung Tahun 2026. Mengusung tema “Mahasiswa Unggul, Berintegritas, dan Progresif: Human Capital Menuju Indonesia Emas,” kegiatan ini diarahkan bukan sekadar sebagai pengenalan kampus, tetapi menjadi langkah awal pembentukan karakter, integritas, iman, dan kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan zaman.
Rektor IAKN Tarutung, Dr. Haposan Silalahi, M.Th., mengatakan PKKMB menjadi momentum penting untuk memperkenalkan berbagai layanan akademik, sarana dan prasarana, sekaligus membangun karakter mahasiswa sejak awal memasuki dunia perguruan tinggi.
“Yang lebih kita tekankan adalah persoalan karakter. Kita merupakan perguruan tinggi Kristen di bawah Kementerian Agama yang visi dan misinya berlandaskan nilai-nilai Kristiani,” ujar Rektor.
Menurutnya, meskipun IAKN Tarutung tidak hanya memiliki program studi rumpun keagamaan, tetapi juga telah mengembangkan bidang sains dan teknologi, nilai-nilai kekristenan tetap harus menjadi fondasi dalam kehidupan seluruh mahasiswa.
Ia berharap mahasiswa dapat menjadikan kampus sebagai rumah bersama, tempat mereka merasa diterima dan dihargai, sekaligus ruang untuk belajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, melakukan riset dan menghasilkan berbagai kegiatan yang berdampak bagi masyarakat.
Karena itu, Dr.Haposan Silalahi menegaskan PKKMB tidak boleh identik dengan perpeloncoan.
“Ini bukan masa-masa perpeloncoan, tetapi merupakan masa pengenalan kampus kita,” tegasnya.
Lima Substansi Utama, Delapan Paket Materi
Dalam pelaksanaan PKKMB 2026, IAKN Tarutung berpedoman pada ketentuan pemerintah mengenai materi yang harus diberikan kepada mahasiswa baru.
Beliau menjelaskan, terdapat lima substansi utama yang diterjemahkan ke dalam delapan paket materi PKKMB, yakni nasionalisme dan kebangsaan, penguatan digitalisasi dan artificial intelligence (AI), pengenalan sistem dan tata kerja perguruan tinggi, penguatan etika akademik, serta penguatan muatan lokal.

Kiri: Nelson Semol Kalay M.Si, Teol, Ph.D
Selain materi tersebut, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan struktur organisasi, sistem layanan akademik, sarana dan prasarana serta berbagai aspek kehidupan kampus.
“Namanya mahasiswa baru, tentu kita harus memperkenalkan bagaimana struktur organisasi kita, seperti apa sarana dan prasarana yang tersedia, serta bagaimana sistem layanan akademik yang ada,” ungkapnya.
Dengan pembekalan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak lagi merasa asing ketika memasuki proses perkuliahan dan mampu memahami bagaimana sistem pendidikan tinggi dijalankan.
521 Mahasiswa Jadi Indikator Kepercayaan Masyarakat
Sementara itu, Ketua panitia PKKMB Nelson Semol Kalay M,Si.Teol,Ph,D menyebut jumlah peserta tahun ini mencapai 521 mahasiswa baru. Jumlah tersebut dinilai menjadi salah satu indikator tingginya kepercayaan masyarakat terhadap IAKN Tarutung.
Ketua Panitia mengatakan, sebelum pelaksanaan PKKMB, mahasiswa telah mendapatkan sosialisasi sehingga relatif siap mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
“Sejauh ini kegiatan berjalan dengan baik. Dari pembukaan sampai sesi-sesi materi berlangsung, tidak ada kendala yang signifikan karena semua berjalan sesuai dengan rencana dan jadwal,” ujar panitia.
Menurutnya antusiasme dan ketertiban mahasiswa selama kegiatan juga menjadi indikator bahwa mahasiswa baru menyambut PKKMB dengan baik.
Tanpa Kekerasan, Bangun PKKMB yang Ramah
Salah satu penekanan utama PKKMB IAKN Tarutung 2026 adalah pelaksanaan kegiatan yang bebas dari kekerasan.
Nelson Semol Kalay menegaskan prinsip yang diterapkan adalah non-violence, sehingga tidak ada kekerasan dalam bentuk apa pun selama kegiatan berlangsung.
“Kita juga membangun suasana yang ramah. Tidak seperti perpeloncoan yang mungkin masih dilakukan di beberapa kampus lain. Kita tidak melakukan hal tersebut,” ujar panitia.
Komitmen tersebut juga sejalan dengan pesan Rektor yang meminta panitia dan mentor memitigasi segala bentuk kekerasan dan perpeloncoan agar mahasiswa baru dapat mengikuti kegiatan dalam suasana aman dan nyaman.
Menariknya, panitia juga membangun mekanisme kontrol bersama. Mahasiswa baru tidak hanya menjadi pihak yang dikontrol, tetapi juga diberi ruang untuk mengontrol pelaksanaan kegiatan agar PKKMB benar-benar berjalan sesuai tujuan.
“Mahasiswa mengontrol kami dan kami mengontrol teman-teman peserta, supaya program ini benar-benar digunakan untuk penguatan pemahaman tentang kehidupan di kampus,” jelas Nelson.
IAKN Tarutung Siapkan Peluang Program Studi Baru
Dalam wawancara tersebut, Rektor juga mengungkapkan arah pengembangan kelembagaan IAKN Tarutung.
Menurutnya, kampus tengah berproses melakukan transformasi kelembagaan. Jika perubahan menjadi Universitas Keagamaan Negeri (UKN) terealisasi, maka peluang pembukaan program studi baru akan semakin terbuka.
Namun, pengembangan tersebut tetap mempertahankan karakter IAKN sebagai perguruan tinggi keagamaan, dengan komposisi 60 persen rumpun keagamaan dan 40 persen rumpun umum.
Fondasi Iman Hadapi Globalisasi dan Digitalisasi
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang semakin cepat, Rektor menilai mahasiswa akan menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Globalisasi, digitalisasi, lingkungan, sosial dan ekonomi menjadi sejumlah persoalan yang harus mampu dihadapi generasi muda.
Namun, bagi IAKN Tarutung, ada satu fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu, yakni iman.
“Karena kita merupakan perguruan tinggi keagamaan, maka yang pertama sekali adalah pondasi iman,” katanya.
Menurut Dr Haposan Silalahi, iman akan menjadi landasan mahasiswa dalam menyikapi berbagai tantangan dan pengaruh yang muncul di sekeliling mereka.
Dengan dasar iman yang kuat, mahasiswa diharapkan mampu memitigasi berbagai pengaruh negatif, tetap konsisten terhadap tugas dan tanggung jawab akademiknya, serta menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa terhadap dirinya sendiri, tetapi juga bentuk pertanggungjawaban kepada orang tua yang telah menitipkan masa depan mereka di IAKN Tarutung.
“Empat Tahun Lagi Aku Akan Menjadi Apa?”
Kepada mahasiswa baru, Rektor IAKN Tarutung menyampaikan pesan agar mereka tidak menjalani perkuliahan tanpa arah.
PKKMB, menurutnya, merupakan awal dari perjalanan untuk menentukan siapa mereka empat tahun mendatang.

“Hari ini mereka harus membangun komitmen dalam diri mereka tentang seperti apa mereka empat tahun ke depan, dimulai dari hari ini,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa lembaga tidak mungkin terus-menerus mengontrol setiap langkah mahasiswa. Karena itu, kesadaran dan komitmen harus tumbuh dari diri mahasiswa sendiri.
Mereka harus mulai bertanya sejak hari pertama: “Kelak empat tahun kemudian, aku akan menjadi apa? Berhasil atau malah drop out?”
Pertanyaan tersebut diharapkan menjadi refleksi sekaligus pemacu bagi mahasiswa untuk serius menjalani proses pendidikan.
Sementara itu, panitia berharap seluruh mahasiswa mendapatkan pembekalan secara maksimal sehingga ketika memasuki proses akademik, mereka telah memiliki pemahaman mengenai tata kelola dan pelaksanaan pendidikan di perguruan tinggi.
Pada akhirnya, PKKMB IAKN Tarutung 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Lebih dari itu, menjadi titik awal perjalanan 521 mahasiswa untuk membentuk karakter, memperkuat iman, mengembangkan kompetensi dan menentukan masa depan mereka.
Sebab, seperti pesan Rektor Dr Haposan Silalahi, empat tahun ke depan tidak ditentukan nanti, tetapi mulai dibentuk dari komitmen yang mereka bangun hari ini.
(Alex ButarButar)
