Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Berikan Rasa Aman Bagi Pengguna Jasa Penyeberangan, Personel Polsek Kapuas Barat Sambangi Pelabuhan Feri Saka Mangkahai

Cegah Karhutla Meluas, Polsek Kapuas Barat Bersama Tim Gabungan Berhasil Atasi Karhutla di Empat Desa

Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan, Polsek Kapuas Barat Sebar Maklumat Kapolda di Desa Anjir Kalampan

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Featured»Biaya Admin Shopee dan TikTok Shop Terus Naik di 2026, Pelaku UMKM Mulai Lirik Toko Online Sendiri
Featured

Biaya Admin Shopee dan TikTok Shop Terus Naik di 2026, Pelaku UMKM Mulai Lirik Toko Online Sendiri

vritimesBy vritimes10 September 2026 9:25 PM053 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Permintaan jasa pembuatan website ecommerce meningkat seiring makin banyak penjual online mengeluhkan hal serupa: omzet di layar terlihat besar, tapi saldo yang benar-benar masuk rekening jauh lebih kecil dari yang dibayangkan. Penyebabnya bukan penurunan penjualan, melainkan tumpukan potongan biaya yang makin tebal di dua marketplace terbesar Indonesia, Shopee dan TikTok Shop.

Kondisi ini mendorong makin banyak pelaku usaha melirik kanal penjualan tambahan di luar marketplace konvensional.

Dua Platform, Dua Skema Kenaikan yang Berjalan Bersamaan

Shopee memberlakukan skema biaya admin baru mulai Januari 2026, dengan besaran 2,5 hingga 10 persen tergantung kategori produk. Untuk toko berstatus Shopee Mall, sebagian kategori bahkan dikenakan tarif hingga 11,7 persen. Di luar persentase utama, Shopee juga menetapkan biaya proses pesanan Rp1.250 per transaksi sejak Juli 2025, serta biaya tambahan 3 persen untuk produk pre-order sejak awal 2026.

TikTok Shop menempuh jalur serupa. Komisi platform berkisar 6,97 hingga 8 persen, ditambah komisi dinamis per kategori yang bisa menambah 3 hingga 8 persen lagi. Yang paling terasa bagi penjual bernilai transaksi besar: batas maksimum komisi per item naik drastis dari Rp40.000 menjadi Rp650.000 sejak pertengahan tahun, seiring integrasi platform ke ekosistem ShopTokopedia.

Kedua penyesuaian ini terjadi di waktu yang berdekatan, membuat penjual yang aktif di kedua platform merasakan dampaknya nyaris bersamaan.

Berapa Besar yang Sebenarnya Hilang

Kombinasi komisi platform dan komisi dinamis TikTok Shop untuk sejumlah kategori bisa mencapai sekitar 15 persen dari nilai transaksi. Artinya, toko dengan omzet Rp100 juta sebulan berpotensi kehilangan Rp15 juta hanya untuk biaya platform, di luar ongkos iklan dan promosi yang biasanya dikeluarkan terpisah. Dalam setahun, potongan ini bisa menembus Rp180 juta, angka yang cukup untuk membiayai penambahan tim atau pengembangan produk baru.

Toko dengan omzet kecil belum tentu merasakan dampak sebesar ini, karena potongan persentase yang kecil kadang masih lebih murah dibanding biaya langganan flat. Tapi begitu skala usaha membesar, perhitungannya sering berbalik.

Toko Sendiri sebagai Jalan Keluar dari Skema Persentase

Alih-alih terus menyesuaikan harga jual setiap kali platform menaikkan komisi, sebagian pelaku usaha memilih memakai jasa pembuatan website toko online untuk membangun kanal penjualan yang biayanya tidak bergantung pada persentase omzet. Skema langganan flat BisnisOn dilengkapi enam pilihan payment gateway, delapan lebih opsi kurir real-time, notifikasi WhatsApp otomatis untuk setiap pesanan, dan dukungan custom domain lengkap dengan SSL gratis sejak hari pertama toko digunakan.

“Yang sering terjadi, pelaku usaha baru menyadari besarnya potongan komisi setelah beberapa bulan berjalan, ketika mereka mulai membandingkan angka penjualan kotor dengan yang benar-benar diterima,” ujar Mas Tama, pendiri BisnisOn. “Struktur langganan flat membuat pelaku usaha bisa menghitung biaya operasionalnya di depan, tanpa perlu menyesuaikan harga jual setiap kali platform mengubah skema komisi.”

Dua Kanal Berjalan Berdampingan, Bukan Saling Menggantikan

Toko online mandiri dan toko di marketplace pada praktiknya lebih sering berjalan bersamaan, bukan salah satu ditinggalkan. Perbedaannya terletak pada siapa yang memegang data pelanggan dan bagaimana biaya dihitung. Di marketplace, data pembeli sepenuhnya berada di sistem platform dan biayanya mengikuti persentase transaksi. Di toko sendiri, pelanggan menjadi milik brand secara langsung dan biayanya tetap sama besar berapa pun jumlah transaksi bulanan.

Pendekatan menjalankan dua kanal sekaligus semakin umum ditemui di kalangan pelaku usaha yang omzetnya sudah stabil di marketplace, tapi ingin punya kendali lebih besar atas biaya operasional jangka panjang.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleBawaslu Tabanan Turun ke Desa, Awasi Akurasi Data Pemilih Disabilitas
Next Article Polsek Kapuas Kuala Laksanakan Patroli Pada Malam Hari Antisipasi Kejahatan
vritimes

Related Posts

Polsek Kapuas Timur Bersama TNI dan Masyarakat Lakukan Pemadaman Karhutla di Desa Anjir Mambulau Timur

14 Oktober 2026 6:41 PM

Karaoke Manekineko Celebrates Opening 20 Outlets with New Promotions

14 Oktober 2026 9:22 AM

Indonesian delegation of 16 companies, four government bodies and two associations attends Global Digital Trade Expo in Hangzhou

14 Oktober 2026 8:48 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.