Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sorotan: Forum Kepakaran Indonesia (FKI) Adakan Konsolidasi Bahas Gagasan dan Kontribusi Bagi Kemajuan Bangsa dan Negara

“Agensi Rumah Tangga” Raih 109 Ribu Penonton Hari Pertama, Masuk Top 9 Opening Day 2026

Jejak Sinyal Ditelusuri, Komdigi Bantu Pencarian Delapan Warga Hilang di Selat Sunda

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Daerah»Senandung Rasa, Saat Musisi Pelajar Menemukan Arti Menang di Luar Panggung
Daerah

Senandung Rasa, Saat Musisi Pelajar Menemukan Arti Menang di Luar Panggung

yadiBy yadi13 September 2026 7:14 AM0134 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

TANGERANG, BANTEN — Musik bagi pelajar tak selalu harus berakhir dengan menentukan siapa yang terbaik. Di balik panggung dan sorotan penonton, ada sesuatu yang tak kalah penting untuk dirawat: pertemanan, pengalaman, dan kesempatan untuk tumbuh bersama.

Semangat itu terasa dalam Senandung Rasa, kegiatan yang digelar di Flavor Bliss Alam Sutera, Tangerang, Banten, Sabtu (12/9/2026). Acara tersebut mempertemukan sejumlah kelompok musik pelajar yang tergabung dalam komunitas JGC Indonesia.

Salah satu penggagas kegiatan, Simon Martheunius mengatakan, komunitas tersebut berawal dari pertemuan para musisi pelajar dalam berbagai festival musik dan tari.

Pertemuan yang semula hanya melibatkan sekitar 10 band itu perlahan berkembang. Komunitas tersebut kemudian menjangkau sejumlah daerah di Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur, dan kini anggotanya mencapai sekitar 100 band.

“Awalnya kami hanya bertemu di festival. Dari sana kami membangun komunikasi dan membentuk wadah bagi para musisi pelajar. Sekarang anggotanya sudah berkembang dan mencapai sekitar 100 band,” ujar Simon.

Menurut Simon, panggung bukan satu-satunya kebutuhan para musisi muda. Mereka juga membutuhkan ruang untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, sekaligus menemukan teman yang memiliki kegemaran yang sama.

Selama hampir dua tahun, komunikasi antaranggota lebih banyak berlangsung melalui grup WhatsApp. Dari komunikasi virtual tersebut kemudian muncul gagasan untuk menghadirkan pertemuan secara langsung.

Bagi Simon, kompetisi musik memang memiliki peran penting. Persaingan dapat mendorong pelajar meningkatkan kemampuan. Namun, kompetisi juga tidak semestinya membuat hubungan antarpeserta berhenti pada urusan menang dan kalah.

“Kompetisi memang penting karena bisa memacu mereka untuk berkembang. Tetapi kami tidak ingin hubungan mereka berhenti sebatas siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kami ingin mereka pulang membawa teman dan pengalaman baru,” katanya.

Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui Senandung Rasa. Sebanyak 20 band tampil dalam kegiatan tersebut berdasarkan kuota yang ditetapkan panitia.

Pembatasan jumlah peserta bukan lantaran minimnya peminat. Sebaliknya, cukup banyak kelompok musik yang ingin bergabung. Panitia memilih membatasi peserta agar pertemuan dapat berlangsung secara optimal.

Para peserta datang dari sejumlah wilayah di sekitar Jakarta dan Banten, antara lain Bekasi, Depok, Tangerang, hingga Serang.

“Kami memang membatasi wilayah yang masih terjangkau agar pertemuan ini bisa berjalan dengan baik. Ada peserta dari Bekasi, Depok, Tangerang, sampai Serang,” ujar Simon.

Dari Panggung ke Ruang Pertemanan

Dari sisi musik, Senandung Rasa tidak membatasi peserta pada satu genre. Beragam warna musik hadir dalam kegiatan tersebut. Karakter musik yang terlalu keras memang tidak dominan, mengingat sebagian besar peserta masih berusia pelajar.

Keberagaman itu justru dipandang sebagai kekuatan. Para musisi muda dapat melihat bahwa dunia musik memiliki banyak pilihan. Setiap band pun memiliki karakter, selera, dan karya yang berbeda.

Yang dibangun bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengalaman.

“Yang kami cari bukan hanya penampilan di atas panggung. Mereka harus mendapatkan pengalaman, ilmu, dan rasa kebersamaan. Itu yang menurut saya jauh lebih berharga,” kata Simon.

Kehadiran orangtua dan penonton juga menjadi bagian dari ekosistem yang ingin dibangun. Dukungan lingkungan dinilai penting agar para pelajar semakin percaya diri mengembangkan bakat dan kreativitasnya.

Bagi para peserta, pertemuan seperti itu memberi kesempatan untuk mengenal musisi sebaya yang sebelumnya mungkin hanya mereka temui dalam kompetisi.

Ada panggung, tetapi tidak ada jarak.

Ada persaingan, tetapi bukan permusuhan.

Karena itu, Simon berharap Senandung Rasa tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali. Ia membayangkan kegiatan serupa berkembang menjadi festival musik yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak band pelajar.

“Kami berharap kegiatan ini bisa berlanjut. Kalau memungkinkan, ke depan bukan hanya satu acara, tetapi berkembang menjadi festival yang lebih besar sehingga semakin banyak band pelajar yang bisa bertemu,” tuturnya.

Namun, di atas seluruh rencana tersebut, ada satu hal yang ingin dipertahankan: kebersamaan.

Simon mengaku justru menemukan salah satu momen paling menggembirakan ketika peserta yang sebelumnya saling berkompetisi kembali bercanda, berfoto bersama, bahkan saling berpelukan.

Pemandangan itu sederhana, tetapi bermakna.

Bagi Simon, momen tersebut menunjukkan bahwa kompetisi tidak harus melahirkan permusuhan.

“Kalau setelah tampil mereka masih bisa tertawa bersama, berfoto, dan saling merangkul, berarti tujuan kami tercapai. Kami ingin persaingan di panggung tidak menjadi perselisihan setelah acara selesai,” ujar dia.

Senandung Rasa pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang paling baik memainkan musik. Acara itu mencoba menawarkan cara pandang lain terhadap kompetisi di kalangan musisi muda.

Menang memang menyenangkan. Namun, bagi mereka yang masih panjang jalan perjalanannya, membawa pulang teman, pengalaman, dan semangat untuk tumbuh bersama mungkin merupakan kemenangan yang jauh lebih berarti.(*)

Redaksi

#Indonesia #PencarianKorban #SAR #SelatSunda #TeknologiDigital GunungAnakKrakatau Jurnalis Komdigi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleBrigjen TNI (Purn) Ketut Budiastawa Ketua DPD PEPABRI Bali Hadiri Puncak HUT ke-67 PEPABRI di Surabaya
Next Article Jejak Sinyal Ditelusuri, Komdigi Bantu Pencarian Delapan Warga Hilang di Selat Sunda
yadi

Related Posts

Jejak Sinyal Ditelusuri, Komdigi Bantu Pencarian Delapan Warga Hilang di Selat Sunda

13 September 2026 7:20 AM

Tri Tanto Apresiasi Kekompakan Kader PKK RW 13 Penjaringan yang Konsisten Jalankan Arisan

12 September 2026 11:45 PM

KAPOLRES KAPUAS BAGI-BAGI HELM DAN MASKER BAGI PENGENDARA DI DESA PUJON KECAMATAN KAPUAS TENGAH

12 September 2026 11:01 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.