Analisnews.co.id | JAKARTA — Film horor Indonesia tidak semata-mata dibangun dari suara jeritan, sosok menyeramkan, atau adegan kerasukan. Di balik ketakutan itu terdapat jejak panjang mitos, tradisi, spiritualitas, dan kebudayaan masyarakat yang terus beradaptasi dengan zaman.
Persoalan tersebut menjadi bahasan dalam Festival Film Horor (FFHoror) IX yang digelar di JTown Food & Entertainment Center, Jatinegara, Jakarta Timur, 18 September 2026. Diskusi bertajuk “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia” menghadirkan praktisi perfilman, produser sekaligus penulis skenario Budi Sumarno dan sutradara Hasto Broto. Diskusi dipandu jurnalis senior dan pengamat film Didang Prajasasmita.
Suasana festival dibuka dengan penampilan grup musik 7Dunia yang membawakan tiga lagu. Musik tersebut menjadi pengantar sebelum pembicaraan beralih pada dunia yang lebih gelap: mitos, makhluk gaib, ritual, dan ketakutan yang tumbuh dari ingatan budaya masyarakat.
Sinkretisme sebagai wajah horor Indonesia
Budi Sumarno melihat kekuatan horor Indonesia justru berada pada kemampuan sineas mempertemukan berbagai unsur yang hidup di masyarakat.
Ia menyebutnya sebagai sinkretisme, yakni pertemuan budaya, tradisi, kepercayaan lokal, dan agama yang kemudian melahirkan makna baru dalam sebuah cerita.
Mitos Nusantara, menurut Budi, tidak selalu dipindahkan secara utuh ke layar. Sineas mengolahnya menjadi konflik yang mempertemukan tradisi dengan kehidupan modern, kepercayaan masyarakat dengan agama, maupun dunia leluhur dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Keragaman budaya Indonesia membuat horor memiliki sumber cerita yang nyaris tidak pernah habis. Sejarah, tempat keramat, ritual, cerita rakyat, hingga kepercayaan yang diwariskan antargenerasi dapat menjadi bahan narasi.
Namun, bagi Budi, penonton sesungguhnya tidak hanya datang untuk merasa takut.
Ada rasa ingin tahu yang membuat mereka bertahan: siapa makhluk yang meneror, dari mana asalnya, apa penyebab teror, dan bagaimana konflik tersebut berakhir.
Dengan demikian, ketakutan dalam film horor sekaligus menjadi pintu masuk menuju sebuah cerita.
Horor tak lagi sekadar hantu
Budi juga melihat perkembangan horor modern semakin beragam. Ia membaginya ke dalam tiga pendekatan utama.
Pertama, apocalyptic horror, yang berangkat dari ancaman kehancuran dunia atau peradaban. Kedua, demonic horror, yang menempatkan iblis, setan, atau kerasukan sebagai sumber ancaman. Ketiga, psychological horror, yang membangun ketakutan melalui trauma, paranoia, rasa bersalah, maupun gangguan persepsi manusia.
Ketiganya menunjukkan bahwa sumber rasa takut tidak selalu harus berupa penampakan makhluk gaib.
Ketakutan dapat tumbuh dari situasi, ingatan, keyakinan, bahkan dari pikiran manusia sendiri.
Karena itu, film horor Indonesia pada akhirnya tidak hanya menawarkan hiburan. Ia dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kembali tradisi, sejarah, kepercayaan, dan identitas budaya yang mungkin mulai berjarak dari kehidupan masyarakat modern.
Sutradara berkarya, produser mengurus bisnis
Pandangan berbeda disampaikan Hasto Broto. Menurut dia, tugas utama sutradara adalah membuat film sebaik mungkin, apa pun genre yang dipercayakan kepadanya.
Horor, drama, komedi, hingga komedi horor membutuhkan pendekatan yang berbeda. Namun prinsip dasarnya sama: cerita dan eksekusi harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
“Siapa pun sutradaranya pasti ingin membuat film yang terbaik. Genre apa pun, eksekusinya harus bagus. Soal komersial, itu tidak bisa dijamin. Film yang ramai di media sosial pun belum tentu membuat orang datang ke bioskop,” ujar Hasto.
Ia menilai rasa takut tetap menjadi benang merah film horor. Hanya saja, cara menghadirkannya dapat berkembang melalui mitos, tradisi, spiritualitas, maupun konflik psikologis manusia.
Hasto juga mengingatkan bahwa film Indonesia memiliki wilayah cerita yang jauh lebih luas daripada horor. Film dapat menjadi ruang untuk menyampaikan persoalan sosial dan kemanusiaan, termasuk menghadirkan perspektif mengenai penyandang disabilitas.
“Film adalah media yang luas. Ia bisa menakutkan, bisa menghibur, tetapi juga bisa menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan,” katanya.
Dalam industri film, Hasto membedakan wilayah kerja sutradara dan produser. Sutradara bertanggung jawab terhadap storytelling dan visual, sementara produser memikirkan strategi bisnis serta pemasaran agar film dapat bertemu dengan penontonnya.
Budi Sumarno kemudian menyederhanakan pembagian tersebut dengan nada ringan.
“Biarkan sutradara berkarya menghasilkan film yang bagus. Setelah itu produser yang mengurus bagaimana film tersebut dipasarkan dan bertemu dengan penontonnya,” ujarnya.
Antara pelestarian dan perubahan makna
Pertanyaan yang lebih kritis datang dari Ncank Mail, Ketua Dewan Juri FFHoror IX.
Menurut Ncank Mail, tidak ada ukuran tunggal untuk menentukan sebuah film sebagai karya yang baik atau buruk. Setiap film lahir melalui proses kreatif dan memiliki pendekatan masing-masing. Perbedaan sering kali muncul karena perspektif pembuat film dan penonton tidak selalu sama.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada buku petunjuk yang dapat menjamin sebuah film akan sukses. Sineas harus memiliki kepekaan membaca perkembangan masyarakat dan pasar, tanpa mengabaikan kualitas cerita serta penggarapan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: perspektif siapa yang semestinya menjadi pijakan utama dalam membuat film? Penulis skenario, sutradara, produser, atau penonton?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika film horor semakin sering menggali mitologi Nusantara.
Di satu sisi, film dapat membuat cerita rakyat, ritual, dan mitologi lokal kembali dikenal oleh generasi baru. Di sisi lain, proses adaptasi ke layar lebar juga berpotensi mengubah, menyederhanakan, atau bahkan menggeser makna budaya yang melekat pada cerita tersebut.
Karena itu, menurut Ncank Mail, sineas perlu memahami konteks budaya sebelum menjadikannya bahan cerita.
Ketika ketakutan menjadi komoditas
Kebangkitan film horor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi bagian penting dari perbincangan.
Fenomena tersebut dapat dibaca dari dua sisi. Pertama, semakin terbukanya ruang bagi masyarakat untuk membicarakan kepercayaan, spiritualitas, dan mitologi. Kedua, industri film menemukan sumber cerita sekaligus pasar yang memiliki kedekatan emosional dengan ketakutan berbasis budaya.
Di titik inilah horor tidak lagi sekadar persoalan hantu.
Ia bersentuhan dengan identitas, ingatan kolektif, tradisi, agama, pasar, dan cara masyarakat memandang dunia yang tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional.
FFHoror IX akhirnya menjadi ruang pertemuan berbagai perspektif tersebut. Praktisi film, sutradara, jurnalis, komunitas, dan penonton diajak melihat bahwa di balik sosok menyeramkan dalam layar, terdapat cerita yang jauh lebih panjang tentang Indonesia.
Sebuah cerita tentang bagaimana masyarakat mewarisi ketakutan, mengolahnya menjadi mitos, kemudian mengubah mitos itu menjadi bahasa sinema.(**)
Red/Phyd
