Seminar Nasional HANTER IPB – ILDEX Indonesia 2026 menyoroti IoT, panduan peternakan rakyat, dan genetik lokal sebagai solusi nyata.
JAKARTA, Analisnews,
co.id, Sektor peternakan sapi perah nasional tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan. Kebutuhan susu terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis. Namun, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan. Sekitar 82 persen susu Indonesia masih impor, sementara populasi sapi perah lokal hanya mencakup sebagian kecil dari total kebutuhan nasional. Tekanan perubahan iklim, terutama El Nino ekstrem, semakin mengancam produktivitas sapi perah.
Di tengah situasi itulah Dr. Iyep Komala, S.Pt, M.Si, Dosen Fapet IPB University di bidang Ilmu Ternak Perah, tampil sebagai salah satu arsitek perubahan. Ia bukan sekadar akademisi yang berbicara di ruang seminar. Ia turun ke lapangan, membangun alat, menyusun panduan, dan mendampingi peternak rakyat. Dalam Seminar Nasional HANTER IPB – ILDEX Indonesia 2026 di Garuda 5A & 5B, ICE BSD, Jumat (18/9/2026), Dr. Iyep menjadi narasumber utama dengan topik “Strategi Adaptasi Sapi Perah terhadap El Nino Ekstrem untuk Mempertahankan Produktivitas dan Efisiensi Produksi”.
Ia bukan sosok baru. Di ILDEX 2023, ia sudah membawa kelompok ternak binaannya memamerkan produk olahan susu di booth HANTER. Kini, tiga tahun kemudian, ia kembali dengan gagasan yang lebih matang dan solusi yang lebih konkret.
D Ruminansia, Alarm Dini Heat Stress
Salah satu inovasi yang dibawa Dr. Iyep adalah D Ruminansia, alat berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang memantau mikroklimat kandang dan menghitung Temperature Humidity Index (THI) secara real-time. Alat ini memungkinkan peternak memantau kenyamanan sapi langsung dari ponsel.
Inovasi ini lahir dari kesadaran bahwa sapi Friesian Holstein (FH) yang mendominasi populasi sapi perah Indonesia sangat rentan terhadap cekaman panas. Ketika THI melewati ambang batas tertentu, produksi susu menurun drastis, nafsu makan berkurang, dan risiko gangguan reproduksi meningkat.
“Alat ini sudah diuji berupa penelitian yang melibatkan mahasiswa Sarjana dan Magister di beberapa Lokasi di Kelomok Ternak Mandiri Sejahtera Bogor, Kansas Ranch Kunak Bogor, Cibugary Farm Jakarta Timur, Balai Sapi Perah Cikole Lembang dan Balai Sapi Perah Cianjur. Alat ini mampu mengukur suhu, kelembapan, kecepatan angin, amonia, intensitas cahaya, oksigen dan Temperature Humidity Index (THI), dimana THI ini sebagai indikator tingkat kenyamanan pada ternak” ujar Dr. Iyep dalam paparannya.
D Ruminansia bukan sekadar gadget. Ia menjembatani ilmu peternakan dan teknologi digital. Dengan data akurat dan real-time, peternak dapat mengambil keputusan lebih cepat: kapan menyalakan kipas, kapan menyemprotkan air, kapan mengubah sirkulasi udara. Dalam konteks El Nino ekstrem, alat ini menjadi sistem peringatan dini—langkah preventif yang jauh lebih efektif daripada pengobatan setelah produksi drop. Inilah wujud precision livestock farming: peternakan berbasis data, bukan sekadar intuisi.
GDFP untuk Peternakan Rakyat
Inovasi kedua Dr. Iyep adalah Panduan Good Dairy Farming Practices (GDFP) versi peternakan rakyat. Panduan ini bukan dokumen normatif semata, melainkan hasil pendampingan nyata yang telah diterapkan di Cijeruk, Bogor. Mulai dari pembibitan, manajemen pakan, desain kandang, hingga pengelolaan limbah, semuanya dirancang agar dapat diadopsi peternak kecil dengan sumber daya terbatas.
Pendekatan ini menyadari kenyataan bahwa mayoritas peternak sapi perah Indonesia adalah peternak rakyat dengan skala kepemilikan 2–5 ekor sapi. Mereka membutuhkan panduan aplikatif, bukan teori muluk-muluk.
Yang menarik, panduan ini tidak berhenti pada aspek produksi. Ia juga mencakup pengolahan limbah menjadi vermikompos dan biourin—dua produk bernilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Vermikompos adalah pupuk organik hasil pengolahan limbah ternak oleh cacing, sedangkan biourin adalah pupuk cair dari urin sapi yang difermentasi. Keduanya memiliki nilai jual di pasar pertanian organik yang semakin berkembang. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular.
“Kalau di poster Grati Cattle itu solusi dari sisi genetik, maka Dr. Komala kasih solusi dari sisi teknologi kandang dan manajemen. Komplit,” ujar seorang peserta seminar.
Impor Bukan Tujuan Akhir
Dalam sesi tanya jawab, Dr. Iyep menyampaikan pandangannya tentang kondisi peternakan sapi perah nasional dengan nada jujur namun optimistis. Ia mengakui produksi susu dalam negeri mengalami penurunan di beberapa lokasi.
“Penurunan itu ada. Saya datang ke beberapa lokasi dan memang ada penurunan produksi susu. Tapi itu yang akan kita coba kembangkan lagi, kita naikkan lagi kondisi sapi ini,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan populasi sapi perah nasional perlu ditempuh melalui dua jalur secara bersamaan. Di satu sisi, impor sapi masih diperlukan untuk mempercepat penambahan populasi dan memenuhi kebutuhan susu nasional. “Untuk saat ini, impor masih diperlukan. Sapi kita baru mampu memenuhi sekitar 18 persen kebutuhan produksi susu, sementara sekitar 83 persen masih dipenuhi dari impor,” jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah bersama peternak perlu memperkuat pengembangan sapi lokal yang memiliki potensi, salah satunya sapi Grati. Pengembangan sapi lokal dinilai penting sebagai bagian dari upaya membangun populasi sapi perah nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan. “Kita harus berjalan bersama pemerintah. Pengembangan sapi Grati harus terus berjalan, sementara impor juga tetap dilakukan. Siapa tahu dengan dua jalur ini, populasi sapi perah kita bisa terus meningkat,” ujarnya.
Harapannya jelas: populasi sapi perah Indonesia meningkat, produksi susu bertambah, dan kualitas susu semakin baik. Namun, ia mengingatkan bahwa populasi sapi lokal sempat terdampak signifikan oleh wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada 2022. “Jadi, kita juga harus mencari sapi-sapi yang bagus. Setelah impor, sapi-sapi tersebut harus dikembangkan,” tambahnya. Menurutnya, impor sapi bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu instrumen untuk mempercepat pemulihan dan peningkatan populasi sapi perah yang terdampak wabah. Sementara itu, pengembangan sapi lokal tetap menjadi fondasi penting untuk membangun populasi sapi perah nasional dalam jangka panjang.
Grati Cattle, Bukti Adaptasi dari Dalam Negeri
Di tengah diskursus mengenai impor dan persilangan sapi perah, terdapat satu warisan genetik lokal yang patut diperhitungkan, yakni Grati Cattle. Sapi Grati merupakan hasil persilangan antara Friesian Holstein (FH) dan sapi lokal yang telah dikembangkan dan distabilkan selama puluhan generasi. Proses tersebut menghasilkan populasi dengan karakter genetik yang relatif stabil, sekaligus memiliki potensi produktivitas dan kemampuan adaptasi yang telah teruji pada kondisi lingkungan Indonesia.
Data Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menunjukkan Grati Cattle adaptif terhadap iklim tropis dataran rendah (27–32°C), kondisi yang menjadi momok bagi FH murni. Ia juga tahan terhadap pakan berkualitas rendah, kemampuan berharga ketika El Nino ekstrem memaksa peternak mencari hijauan seadanya. Grati Cattle resisten terhadap parasit tropis dan mampu memproduksi 10–25 liter susu per hari.
Secara fisik, Grati Cattle memiliki ciri khas tanda putih berbentuk segitiga di dahi. Ukuran tubuhnya tercatat: tinggi badan 127 cm, panjang badan 140 cm, lingkar dada 172 cm, dengan bobot badan mencapai 346 kg. Status reproduksinya saat ini menunjukkan IB (Inseminasi Buatan) 2 bulan—indikasi sapi ini produktif dan siap melanjutkan siklus regenerasi.
“Ini sapi lokal asli Grati, Pasuruan. Persilangan FH x sapi lokal yang sudah stabil. Beda sama FH murni yang mudah drop produksinya akibat cekaman panas, Grati ini memang diciptakan buat tropis,” ujar seorang petugas Ditjen PKH di booth pameran ILDEX Indonesia 2026.
Keberadaan Grati Cattle strategis dalam konteks kebijakan Kementerian Pertanian yang mendorong persilangan FH dan Jersey. Jika Jersey menawarkan adaptasi terhadap cekaman panas dari luar, Grati Cattle adalah bukti adaptasi bisa dibangun dari dalam negeri sendiri. Ia produk pemuliaan yang teruji waktu, bukan sekadar hasil impor. Dalam ketahanan pangan nasional, Grati Cattle adalah aset strategis yang harus dilindungi dan dikembangkan.
Kolaborasi Hulu-Hilir untuk Ketahanan Pangan Nasional
Seminar Nasional HANTER IPB – ILDEX Indonesia 2026 menjadi cermin bagaimana kolaborasi akademisi, industri, dan pemerintah menghasilkan solusi konkret bagi tantangan nyata di lapangan. Kehadiran Dr. Iyep Komala dari IPB University menghadirkan landasan ilmiah adaptasi sapi perah terhadap El Nino ekstrem. Moh. Suryana dari Envu Indonesia menawarkan solusi praktis pengendalian vektor yang aman dan efektif. Sementara Dr. Hary Suhada dari Ditjen PKH menegaskan komitmen pemerintah mendukung produktivitas dan kesehatan ternak.
Acara dibuka dengan sambutan oleh Dr. Ir. Audy Joinaldy, S.Pt., M.Sc., M.M., IPM., ASEAN Eng., M.IP, Ketua Dewan Pembina HANTER IPB dan
Didi Suwandi, National Sales Manager, PPM – Envu Indonesia.
Dr. Prayudi Syamsuri, S.P, M.Si, Staf Ahli Bidang Manajemen Konektivitas di Kemenko Bidang Pangan, memberikan keynote speech yang menegaskan komitmen pemerintah mendukung sektor peternakan sapi perah menghadapi tantangan iklim ekstrem.
Moderator M. Rasyadi Putra Nuris, S.Pt, memandu diskusi dinamis, dengan MC M. Ammar Azmullah, S.Pt. Seminar didukung sponsor utama ENVU, BRIGHT Internasional, AS PUTRA, Anindy’s, BSI, Bank Mega Syariah, Susu Mbok Darmi, Dua Karsa Perkasa. Di suport oleh Yess Yogurt, DB Food, Madu Pak Lebah dan Gopan, serta logo IPB University.
Cermin Kebangkitan Peternakan Rakyat
Bagi industri susu nasional yang berjuang meningkatkan produksi dan kualitas, pesan Dr. Iyep Komala menjadi pengingat penting: kesehatan ternak dan keamanan pangan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Pengendalian cekaman panas yang efektif bukan sekadar soal kenyamanan ternak, melainkan investasi strategis menjaga produktivitas, kualitas susu, dan kepercayaan konsumen. Di tengah meningkatnya frekuensi El Nino ekstrem, langkah preventif berbasis sains dan teknologi semakin relevan.
Jika semua elemen berjalan seiring—inovasi teknologi seperti D Ruminansia, manajemen kandang melalui GDFP, pemanfaatan genetik lokal seperti Grati Cattle, serta dukungan kebijakan yang berpihak—bukan tidak mungkin Indonesia tidak hanya swasembada susu, tetapi juga menjadi contoh bagaimana negara tropis mengembangkan peternakan sapi perah yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Dari Cipelang hingga Cijeruk, dari Grati hingga Boyolali, perubahan besar sedang dimulai. Dan Dr. Iyep Komala adalah salah satu arsitek perubahan itu. Ia tidak hanya berbicara tentang masa depan peternakan sapi perah Indonesia—ia membangunnya, satu inovasi demi satu inovasi, dari laboratorium hingga kandang peternak rakyat.