Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

GIAT PATROLI HARKAMTIBMAS MALAM

KEGIATAN SIAGA MAKO POLSEK KAPUAS HILIR

GIAT PATROLI HARKAMTIBMAS SIANG

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Ketika Maestro Pergi, Naskah Menjaga Wayang Orang Tetap Hidup
Terkini

Ketika Maestro Pergi, Naskah Menjaga Wayang Orang Tetap Hidup

yadiBy yadi26 September 2026 9:59 PM0145 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id | SOLO – Panggung boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi pengetahuan tentang wayang orang tak boleh ikut hilang bersama para maestro yang pernah menjaganya.

Kegelisahan itulah yang mendorong Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan melakukan penelitian dan dokumentasi terhadap naskah-naskah wayang orang karya para maestro. Sebanyak 50 naskah pertunjukan akan dikodifikasi dan diterbitkan dalam dua jilid buku sebagai upaya menjaga mata rantai kesejarahan seni pertunjukan tradisional Indonesia.

Penelitian tersebut berlangsung selama sepekan, 21–25 September 2026, di Surakarta. Tim melakukan pengumpulan data dan penelitian lanjutan untuk menyusun Buku Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro.

Ketua Pelaksana Survei Data dan Penelitian, Eddie Karsito, mengatakan dokumentasi tertulis diperlukan agar pakem dan nilai-nilai yang terkandung dalam wayang orang tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diwariskan secara lisan.

“Langkah ini penting untuk mempermudah akses pakem wayang orang bagi generasi muda dan para peneliti. Melalui dokumentasi yang rapi, nilai filosofis budaya lokal dapat bertransformasi menjadi pesan universal yang relevan bagi peradaban,” ujar Eddie di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Jumat (25/9/2026).

Menurut Eddie, modernisasi dan digitalisasi justru dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional.

Wayang orang, katanya, bukan sekadar pertunjukan di atas panggung. Seni ini mempertemukan seni peran, tari, gamelan, dan sastra dalam satu kesatuan artistik yang sarat dengan pesan moral, filosofi kehidupan, serta nilai budi pekerti.

“Lebih dari sekadar tontonan, setiap pementasan mengandung tuntunan moral, nilai filosofis, dan nilai budi pekerti luhur yang merefleksikan identitas serta jati diri bangsa Indonesia,” katanya.

Naskah Maestro dalam Kondisi Mendesak

Penanggung jawab Survei dan Penelitian, Undung Wiyono, S.S., mengatakan penyelamatan naskah menjadi semakin mendesak karena sebagian maestro yang menjadi sumber pengetahuan telah berpulang.

Di antaranya Ki Asmorohadi, Ki Tristuti Rahmadi Suryoputro, dan Ki Manteb Soedarsono.

Menurut Undung, naskah wayang orang memiliki karakteristik tersendiri dan tidak bisa disamakan begitu saja dengan naskah wayang kulit.

Struktur adegan, durasi pertunjukan, bahasa sastrawi, ketepatan diksi hingga dramaturgi dalam lima atau enam babak merupakan bagian penting yang perlu direkam secara tertulis.

“Elemen-elemen penting seperti struktur cerita, untaian bahasa sastrawi khas pewayangan, ketepatan diksi, serta dramaturgi yang tersusun rapi dalam lima atau enam babak utuh harus segera dilestarikan,” tegas Undung.

Persoalannya, dokumentasi mengenai wayang orang sebenarnya tidak sepenuhnya kosong. Berbagai penelitian akademis, tesis, dokumen sejarah, maupun ulasan seni telah tersedia.

Namun, menurut Undung, literasi yang mudah diakses masyarakat umum, khususnya generasi muda, masih terbatas.

Apalagi naskah lakon wayang orang selama ini lebih banyak hidup dalam tradisi lisan.

“Kebanyakan tradisi wayang orang diwariskan secara lisan atau melalui pakem ingatan dari guru ke murid,” ujarnya.

Dari Panggung ke Buku

Edy Sulistiono, S.Sn., mengatakan proyek tersebut bukan sekadar penerbitan buku, melainkan bagian dari eksplorasi, penelitian, dan revitalisasi warisan budaya.

Ia menyebut pembukuan naskah sebagai cara menjaga agar mata rantai pengetahuan tidak “kepaten obor” atau terputus.

Buku tersebut nantinya mengelaborasi berbagai aspek, mulai historiografi, perkembangan wayang orang, morfologi pertunjukan hingga relevansinya dengan kehidupan sosial masyarakat masa kini.

“Bentuk teater tradisional yang berkesinambungan sejak era Mataram Kuna, eksistensi wayang wong meneguhkan posisinya sebagai manifestasi seni adiluhung yang melintasi zaman,” ujar Edy.

Ia juga menyinggung pengakuan UNESCO terhadap wayang sebagai warisan budaya takbenda dunia pada 7 November 2003.

Bagi Edy, dokumentasi tertulis menjadi salah satu cara menghadirkan kembali khazanah tersebut dalam bentuk yang dapat dipelajari lintas generasi.

“Saya berharap karya tulis ini hadir bagai mercusuar epistemologis yang menerangi khazanah pelestarian seni pertunjukan Nusantara,” katanya.

Seniman: Jangan Biarkan Wayang Orang Hanya Menjadi Kenangan

Apresiasi terhadap proyek tersebut datang dari Ali Marsudi, seniman Wayang Orang RRI Surakarta.

Menurut Ali, penerbitan 50 naskah pementasan merupakan jawaban atas kegelisahan para pelaku seni terhadap minimnya dokumentasi tertulis mengenai wayang orang.

“Gagasan visioner yang hadir sebagai jawaban atas kegelisahan sosiokultural kami, para pelaku seni, di tengah minimnya literasi dan dokumentasi tertulis mengenai khazanah adiluhung ini,” kata Ali.

Ia berharap wayang orang tidak berhenti sebagai tontonan visual yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan.

Menurutnya, tradisi tersebut juga perlu hadir sebagai pengetahuan yang dapat dibaca, dipelajari, diteliti, dan dikembangkan.

“Wayang orang adalah sebuah semesta yang teramat luas dan kompleks. Semoga rekonstruksi literasi yang dilakukan secara bertahap ini mampu bertransformasi menjadi sebuah karya ensiklopedis yang utuh,” ujarnya.

Bagi Ali, proyek tersebut juga memiliki makna personal. Sebagian lakon yang didokumentasikan merupakan bagian dari perjalanan kepenarian dan keaktorannya di atas panggung.

Karena itu, buku tersebut bukan hanya menjadi arsip, tetapi juga jembatan yang menghubungkan pengalaman generasi terdahulu dengan aktor-aktor masa depan.

Menjaga Denyut Panggung yang Makin Menyempit

Wayang orang pernah mengalami masa kejayaan panjang. Pada era 1960–1970-an, seni pertunjukan tersebut bahkan memiliki banyak kelompok yang aktif di Jakarta.

Kini, keberlangsungan tradisi itu menghadapi tantangan berbeda.

Di antara kelompok wayang orang yang masih bertahan adalah WO Sriwedari dan WO RRI Surakarta di Surakarta, WO Ngesti Pandhawa di Semarang, serta WO Bharata di Jakarta.

Pada saat yang sama, berpulangnya sejumlah maestro meninggalkan persoalan regenerasi pengetahuan.

Karena itu, dokumentasi naskah dipandang penting untuk menjembatani kesenjangan antara pakem lama dengan kebutuhan generasi aktor masa kini.

Bukan sekadar menyelamatkan teks, tetapi juga merekam bahasa, karakter tokoh, struktur cerita, dramaturgi dan ekspresi artistik yang membentuk identitas wayang orang.

Dua Jilid, 50 Naskah

Buku Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro direncanakan terbit dalam dua jilid, masing-masing memuat 25 naskah terpilih.

Empat maestro yang menjadi bagian dari proyek dokumentasi tersebut adalah Ki Asmorohadi, Ki Manteb Soedarsono, Ki Tristuti Rahmadi, dan R.Ng. Undung Wiyono Praja Sasmita.

Tim survei dan penelitian terdiri atas Eddie Karsito, Edy Sulistiono, S.Sn., dan Undung Wiyono, S.S.

Distribusi buku dirancang secara hibrida. Edisi cetak akan diterbitkan secara terbatas, sementara akses yang lebih luas disiapkan melalui format e-book yang akan diunggah di situs resmi Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan.

Dengan cara itu, naskah yang selama ini hidup di balik panggung diharapkan tidak lagi menjadi pengetahuan yang mudah hilang.

Sebab ketika seorang maestro berpulang, yang semestinya ikut pergi hanyalah tubuhnya—bukan pengetahuan, karya, dan jejak kebudayaan yang telah diwariskannya.

Wayang orang boleh menghadapi zaman yang berubah. Tetapi mata rantai pengetahuannya tidak boleh putus.(Phyd)

Redaksi

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticlePOLSEK KAPUAS KUALA SOSIALISASIKAN SANKSI PIDANA PELAKU KARHUTLA UPAYA PENCEGAHAN
Next Article ANGGOTA PIKET JAGA POLSEK KAPUAS KUALA STAND BY SIAGA MAKO PADA MALAM HARI
yadi

Related Posts

GIAT PATROLI HARKAMTIBMAS MALAM

27 September 2026 11:22 PM

KEGIATAN SIAGA MAKO POLSEK KAPUAS HILIR

27 September 2026 11:16 PM

GIAT PATROLI HARKAMTIBMAS SIANG

27 September 2026 11:14 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.