Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bhabinkamtibmas Gencarkan Cegah Karhutla Di Kecamatan Tanah Siang

BRI BO Tanah Abang Peringati Hari Kesaktian Pancasila

BRI BO Artha Gading Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»TV & Drama»Film Hasut Tayang di Bioskop, Ungkap Trauma dan Luka Batin Empat Sahabat
TV & Drama

Film Hasut Tayang di Bioskop, Ungkap Trauma dan Luka Batin Empat Sahabat

yadiBy yadi9 Oktober 2026 11:02 AM073 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id |JAKARTA, 8 Oktober 2026 — Film Hasut persembahan Tuta Films resmi tayang di bioskop Indonesia mulai Kamis (8/10). Film yang ditulis dan disutradarai Ilya Sigma ini menghadirkan kisah empat sahabat yang mengikuti proses penyembuhan di sebuah hutan.

Namun, perjalanan tersebut justru membawa mereka berhadapan dengan trauma, ketakutan, serta luka batin yang selama ini mereka pendam.

Hasut mengikuti perjalanan Vira (Karina Salim), Rere (Rachel Amanda), Dharma (Marthino Lio), dan Derry (Kevin Ardilova). Keempatnya mulai mengalami situasi ganjil ketika tiba-tiba mendengar suara-suara hasutan melalui sebuah HT.

Suara tersebut perlahan memunculkan rasa curiga di antara mereka. Hubungan yang semula dekat pun mulai dipenuhi ketidakpercayaan. Dalam kondisi tersebut, masing-masing karakter dipaksa berhadapan dengan rasa takut dan pengalaman masa lalu yang selama ini mereka coba hindari.

Tak hanya menawarkan ketegangan, Hasut juga mengajak penonton melihat bagaimana setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi luka dan trauma. Pengalaman tersebut turut berkaitan dengan isu kesehatan mental yang menjadi salah satu tema penting dalam film.

Menariknya, film ini hadir menjelang peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day yang diperingati setiap 10 Oktober.

Melalui kisah para karakternya, Hasut mencoba menjadi ruang refleksi untuk memahami pengalaman orang-orang dengan pengalaman langsung (People with Lived Experience) terkait kondisi kesehatan mental.

Salah satu hubungan yang menjadi sorotan adalah kakak-adik Vira dan Rere. Keduanya sama-sama membawa trauma akibat kematian orangtua, tetapi memilih cara berbeda untuk menghadapi luka tersebut.

Vira berusaha mencari kesembuhan melalui berbagai prosesi hingga kemudian menjadi seorang healer. Sementara itu, Rere justru cenderung menghindari dan menyangkal trauma yang dialaminya.

Perbedaan cara menghadapi trauma tersebut kemudian menimbulkan persoalan tersendiri. Vira, yang ingin membantu sang adik, tanpa sadar memaksakan proses penyembuhan kepada Rere.

Padahal, dalam penanganan orang dengan pengalaman langsung terkait kesehatan mental, keputusan dan kehendak individu perlu dihargai dan tidak seharusnya dilakukan dengan pemaksaan.

Rachel Amanda pun melihat karakter Rere sebagai sosok yang kerap mudah mendapatkan penilaian negatif karena perilakunya.

«“Rere ini kan digambarkan sebagai perempuan troublemaker, padahal itu coping mechanism-nya ketika dia memiliki luka ditinggal orangtua, masih ada grieving, tapi akan mudah untuk judge tanpa tahu apa yang sebenarnya dilewati Rere,” ujar Rachel Amanda.»

Sementara bagi Ilya Sigma, Hasut juga menjadi kesempatan untuk mengajak penonton mempertanyakan batas antara keinginan membantu dengan tindakan mengontrol orang lain.

«“Di film ini saya juga ingin mengajak untuk berefleksi, bertanya mengenai bagaimana jika keinginan untuk menyelamatkan bisa berubah menjadi alat untuk memanipulasi dan mengontrol?” ujar Ilya Sigma.»

Dengan menggabungkan unsur drama, ketegangan, serta isu kesehatan mental, Hasut mengajak penonton untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap seseorang hanya dari perilaku yang terlihat di permukaan.

Momentum penayangan film ini yang berdekatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia juga menjadi pengingat bahwa mendengarkan pengalaman seseorang merupakan langkah awal, tetapi memahami, menghargai pilihan, dan mengambil tindakan yang tepat menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Film Hasut kini sudah dapat disaksikan di bioskop-bioskop Indonterseb.(ph)

Redaksi

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticlePramono Andalkan AI untuk Benahi Kawasan Kumuh Jakarta Tanpa Penggusuran
Next Article Transaksi Kripto Indonesia Naik 12,87 Persen, Apa yang Mendorongnya?
yadi

Related Posts

Empat Musim Pertiwi Tayang di Bioskop, Kamila Andini Suguhkan Eksperimen Sinematik Terbesar

8 Oktober 2026 10:08 PM

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Tayang di Bioskop, Akting Venly Arauna Tuai Pujian

8 Oktober 2026 9:51 PM

Bapak Paling Jujur: Saat Kejujuran Tak Bisa Lagi Disembunyikan

8 Oktober 2026 11:40 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.