Analisnews.co.id | Kementerian Agama (Kemenag) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat bersahabat dengan alam melalui semangat _ukhuwwah makhluqiyyah_ atau persaudaraan sesama makhluk.
Hal ini disampaikan Menag saat peluncuran Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata di TMII, Jakarta. Gerakan ini menjadi wadah kolaborasi dalam memperkuat pelestarian lingkungan hidup pada satuan pendidikan.
Kegiatan bertajuk “Mengawali Langkah Bersama untuk Sekolah Berbudaya Lingkungan” ini dihadiri Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Muhammad Jumhur Hidayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat, jajaran pejabat Kementerian, tenaga pendidik serta siswa/siswa sekolah dan madrasah dari berbagai jenjang pendidikan.
Menag memaparkan, alam semesta bukanlah benda mati yang bebas dieksploitasi semaunya. Agama memandang semesta hidup dan memiliki ikatan persaudaraan kosmis dengan manusia yang disebut _ukhuwwah makhluqiyyah_.
“Agama memperkenalkan ukhuwwah makhluqiyyah, persaudaraan sebagai sesama makhluk Tuhan. Selama kita menganggap alam semesta ini benda mati untuk dieskploitasi, kiamat akan datang lebih awal,” tegas Menag di TMII, Jakarta, Senin (12/10/2026).
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pendekatan dan bahasa agama memiliki peran strategis sebagai “pengawas batin” yang mampu membimbing perilaku manusia dalam menjaga alam di mana pun mereka berada. Penegakan hukum dan pengawasan fisik oleh aparat memiliki keterbatasan ruang dan waktu. Oleh karena itu, kesadaran spiritual yang ditanamkan melalui doktrin agama menjadi instrumen efektif untuk mencegah perusakan alam.
“Bahasa agama sangat penting karena itu bisa memandu orang. Di dalam hutan belantara tidak ada polisi pun, orang tidak akan merusak alam. Karena ada bahasa agama yang mengawasi di mana pun orang itu berada,” ujar Menag.
Menag turut mengusulkan agar pendekatan penyelamatan lingkungan berbasis bahasa agama tidak hanya diterapkan di dalam negeri, melainkan diadopsi ke tingkat global.
Menag juga menegaskan kesiapan Kementerian Agama untuk mengintegrasikan nilai-nilai pelestarian alam ke dalam pembelajaran di ratusan ribu lembaga pendidikan keagamaan. “Kementerian Agama menyadari program Adiwiyata dan sekolah berbudaya lingkungan membutuhkan sinergi dalam penguatan karakter serta kepedulian terhadap lingkungan hidup. Kami berusaha mendukung gagasan-gagasan cerdas ini agar alam berkontribusi aktif mendukung kesejahteraan manusia,” tutur Menag.
Menag menilai, sinergi trilateral ini sangat strategis karena penyelamatan bumi menuntut perpaduan utuh antara regulasi pemerintah, kurikulum sekolah, dan landasan spiritual keagamaan. “Dan inilah Kementerian Agama berusaha mendukung gagasan-gagasan ini, bagaimana supaya alam ini berkontribusi aktif untuk mendukung kesejahteraan anak-anak manusia,” pungkas Menag sembari mengajak Kementerian Lingkungan Hidup untuk ikut mempopulerkan istilah _ukhuwwah makhluqiyyah_.
Ajakan Menag disambut Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat. Dia menyatakan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup sangat setuju dan mengadopsi konsep _ukhuwwah makhluqiyyah_ sebagai pilar penting dalam gerakan Tobat Ekologis.
“Hal yang sering dilupakan adalah _ukhuwwah makhluqiyyah_. Itu luar biasa dan akan menjadi kata kunci bagi KLH dalam perspektif keagamaan untuk menjaga keanekaragaman hayati dan kebersamaan sesama makhluk hidup,” tutur Jumhur.
Jumhur menambahkan, kerusakan lingkungan saat ini kerap dipicu oleh hilangnya rasa tanggung jawab individu, seperti pembuangan sampah plastik ke sungai yang berujung pada tingginya cemaran mikroplastik pada ikan di lautan. Lewat penguatan perspektif moral dan agama, KLH menargetkan gerakan tobat ekologis bertumpu pada tiga prinsip utama: sadar atas kekeliruan masa lalu, tidak mengulangi perusakan, serta melakukan tindakan restorasi nyata.
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menyatakan bahwa Kemendikdasmen siap mengawal penanaman nilai moral dan etika lingkungan tersebut sejak bangku sekolah dasar. “Sekarang ini kami canangkan lewat pembiasaan-pembiasaan. Sekolah adalah tempat pendidikan dan pembiasaan agar lingkungan sekolahnya tertib, aman, nyaman, dan menjadi bagian dari kepedulian terhadap lingkungan,” jelas Atip.
Sinergi antara pengawasan batin berbasis nilai agama, pembiasaan karakter di bangku sekolah, serta ketegasan hukum diharapkan mampu menghadirkan ekosistem perlindungan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia.
_Biro Humas dan Komunikasi Publik_
