Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

JAGA STABILITAS KAMTIBMAS, POLSEK KAPUAS HULU TINGKATKAN PENGAMANAN MAKO

100 Tahun Sambas Mangundikarta, Brigita Dukung Sang Legenda Mendapat Penghargaan Negara

Ombudsman RI Perwakilan Kalteng Supervisi Pelayanan Publik di Polres Gunung Mas

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»100 Tahun Sambas Mangundikarta, Brigita Dukung Sang Legenda Mendapat Penghargaan Negara
Terkini

100 Tahun Sambas Mangundikarta, Brigita Dukung Sang Legenda Mendapat Penghargaan Negara

yadiBy yadi20 Oktober 2026 1:01 PM074 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id | JAKARTA – Suara bariton yang tegas, tenang, dan penuh eksplorasi. Bagi Brigita Isworo Laksmi, mantan wartawan Kompas, suara Sambas Mangundikarta bukan sekadar suara penyiar olahraga, melainkan kekuatan yang mampu membawa pendengar seolah berada langsung di tengah arena pertandingan.

Kenangan dan kekaguman itu disampaikan Brigita dalam acara 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta di Auditorium Yusuf M. Ronodipuro, RRI Jakarta, Senin (19/10/2026).

Meski mengaku tidak terlalu lama berinteraksi langsung dengan Sambas, Brigita menyimpan kesan personal yang mendalam terhadap sosok legenda penyiaran Indonesia tersebut. Baginya, Sambas bukan hanya figur profesional yang dikagumi, melainkan juga sosok yang terasa dekat seperti paman sendiri.

“Terus terang, kalau berhubungan langsung memang tidak lama. Tetapi, bagi saya, kesannya mendalam. Saya merasa beliau seperti pakde atau om saya sendiri,” ujar Brigita.

Salah satu kenangan yang paling membekas terjadi pada 1996, ketika Brigita bertugas meliput bulu tangkis di Hong Kong. Suatu pagi, saat sedang sarapan, ia melihat Sambas terjatuh dari kursinya.

Brigita yang melihat kejadian itu sempat bergegas menghampiri. Namun, Sambas justru menanggapinya dengan santai dan berseloroh bahwa kursinya yang bandel.

Pengalaman sederhana itu meninggalkan kesan kuat bagi Brigita. Di tengah reputasi besar dan pengalamannya sebagai penyiar olahraga, Sambas tetap tampil bersahaja dan rendah hati.

“Bagi saya, kesan pertama itu menunjukkan bahwa beliau sangat rendah hati,” tuturnya.

Suara yang Menyatukan Generasi

Jauh sebelum bertemu langsung dengan Sambas, Brigita telah mengenal suaranya sejak kecil. Ia mengenang masa ketika televisi masih menjadi tontonan istimewa bagi keluarga dan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.

Saat itu, televisi yang menggunakan aki menjadi pusat perhatian. Keluarga dan teman-teman berkumpul, menikmati tayangan bersama, ditemani kacang rebus. Dari momen sederhana itulah suara Sambas mulai melekat dalam ingatannya.

Ketika Sambas tampil di TVRI, suaranya memiliki daya tarik tersendiri. Karakter baritonnya yang mantap, tegas, dan tenang berpadu dengan kemampuannya mengeksplorasi cerita secara detail.

“Suara itu tidak ada yang menandingi. Beliau bisa membuat kita merasa seolah-olah berada di lapangan dan ikut berjuang,” kata Brigita.

Menurut dia, kekuatan Sambas tidak berhenti pada teknik vokal. Sang penyiar mampu menghadirkan suasana pertandingan, membangun emosi pendengar, sekaligus menyampaikan wawasan yang luas. Olahraga yang disampaikan melalui suaranya menjadi pengalaman yang hidup, bukan sekadar laporan tentang siapa menang dan siapa kalah.

Olahraga dan Penanaman Karakter Bangsa

Brigita juga menyoroti dimensi yang lebih luas dari kiprah Sambas, yakni peran olahraga dalam membangun karakter dan menumbuhkan rasa kebangsaan.

Ia mengingatkan bahwa olahraga memiliki hubungan erat dengan dinamika politik dan geopolitik dunia. Pada masa Perang Dingin, misalnya, persaingan Amerika Serikat, Uni Soviet, dan China dalam berbagai ajang olahraga turut menjadi panggung untuk menunjukkan kekuatan dan prestise negara.

Namun, di balik persaingan tersebut, olahraga juga membawa nilai-nilai universal yang penting bagi kehidupan berbangsa, seperti sportivitas, kerja keras, dedikasi, dan integritas.

Nilai-nilai itulah yang, menurut Brigita, turut dihadirkan Sambas melalui setiap reportasenya. Dengan gaya penyampaian yang informatif dan menggugah, Sambas tidak hanya memperkenalkan pertandingan kepada masyarakat, tetapi juga membantu menanamkan pemahaman tentang arti perjuangan dan karakter.

“Kalau kita ingin menjadi bangsa yang kuat, dasar-dasar karakter itu bisa digali dan ditularkan melalui olahraga. Pak Sambas membawa nilai-nilai itu dalam seluruh reportasenya,” ujarnya.

Brigita menilai kemampuan Sambas memadukan informasi, pengetahuan, dan semangat kebangsaan merupakan warisan penting bagi dunia penyiaran Indonesia. Ia mampu menjadikan olahraga sebagai ruang pembelajaran yang menjangkau masyarakat luas, lintas generasi.

Mengusulkan Penghargaan bagi Sang Legenda

Dalam kesempatan tersebut, Brigita juga menyatakan dukungannya terhadap usulan pemberian penghargaan negara kepada Sambas Mangundikarta. Ia menilai dedikasi dan kontribusi sang legenda layak mendapatkan pengakuan yang lebih tinggi.

Brigita mendukung usulan agar penghargaan tersebut diajukan kepada Presiden Prabowo Subianto, baik berupa Bintang Mahaputera Utama maupun penghargaan lain yang sesuai dengan jasa dan pengabdian Sambas.

Baginya, penghormatan terhadap Sambas tidak semestinya berhenti pada kegiatan mengenang masa lalu. Pengakuan terhadap tokoh yang telah membangun tradisi penyiaran olahraga juga menjadi cara untuk menjaga standar profesionalisme dan menginspirasi generasi penerus.

Sambas Mangundikarta lahir di Bandung pada 21 September 1926 dan mengawali kariernya sebagai penyiar RRI pada 1952. Ia kemudian dikenal luas melalui kiprahnya sebagai penyiar dan pewarta olahraga, termasuk saat meliput berbagai kejuaraan bulu tangkis internasional.

Suara khasnya juga mengiringi berbagai peristiwa olahraga yang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Dedikasinya di dunia penyiaran mendapat pengakuan melalui *Lifetime Achievement Award* dari Komisi Penyiaran Indonesia pada 2022.

Sambas meninggal dunia pada 30 Maret 1999 dalam usia 72 tahun. Meski telah tiada, pengaruhnya tetap terasa melalui kenangan para pendengar, rekan seprofesi, dan generasi penyiar yang tumbuh dengan menyimak reportasenya.

Melalui peringatan 100 tahun kelahirannya, sosok Sambas kembali dihadirkan bukan semata sebagai legenda yang dikenang, melainkan sebagai teladan tentang bagaimana suara, pengetahuan, dan integritas dapat membangun kedekatan dengan masyarakat.

Bagi Brigita Isworo Laksmi, warisan terbesar Sambas adalah kemampuannya menghadirkan olahraga dengan penuh penghayatan sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Sebuah warisan yang tetap relevan bagi dunia jurnalistik dan penyiaran Indonesia hingga hari ini.(red/py).

100TahunSambas BrigitaIsworoLaksmi JurnalismeOlahraga LegendaPenyiarIndonesia PenyiaranIndonesia RRI SambasMangundikarta SejarahPenyiaran TributeToSambas TVRI
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleOmbudsman RI Perwakilan Kalteng Supervisi Pelayanan Publik di Polres Gunung Mas
Next Article JAGA STABILITAS KAMTIBMAS, POLSEK KAPUAS HULU TINGKATKAN PENGAMANAN MAKO
yadi

Related Posts

JAGA STABILITAS KAMTIBMAS, POLSEK KAPUAS HULU TINGKATKAN PENGAMANAN MAKO

20 Oktober 2026 1:57 PM

Ombudsman RI Perwakilan Kalteng Supervisi Pelayanan Publik di Polres Gunung Mas

20 Oktober 2026 12:57 PM

Rayakan Ulang Tahun ke-75, Humas Polri Salurkan Bantuan Sosial untuk Empat Panti Asuhan di Jakarta

20 Oktober 2026 12:51 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.