Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bank Raya Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Dukung Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia

neobank PLUS Cashback-nya: Ada Cashback Neo Pinjam hingga Rp200 Ribu

DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN, PERSONEL POLSEK MANTANGAI SOSIALISASIKAN SANKSI PIDANA PELAKU KARHUTLA KE MASYARAKAT KECAMATAN MANTANGAI

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Siapkan Lima Program Unggulan, Menag Nasaruddin Targetkan Pesantren Jadi Kekuatan Utama Menuju Indonesia Emas 2045
Terkini

Siapkan Lima Program Unggulan, Menag Nasaruddin Targetkan Pesantren Jadi Kekuatan Utama Menuju Indonesia Emas 2045

yadiBy yadi22 Oktober 2026 8:02 PM075 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id  | JAKARTA— Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan lima program strategis untuk memperkuat masa depan santri dan pesantren. Mulai dari perlindungan santri, pengakuan ijazah, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, hingga dakwah digital, langkah ini diarahkan untuk menjadikan pesantren semakin berdaya menghadapi tantangan zaman.

Menteri Agama (Menag) Prof Nasaruddin menyampaikan hal tersebut dalam amanat upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026, Kamis (22/10/2026). Penguatan ekosistem pesantren menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi santri yang mampu berkontribusi bagi Indonesia Emas 2045.

Menurut Nasaruddin, peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini menjadi pengingat atas peran ulama dan santri dalam merebut sekaligus mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada 22 Oktober 1945, Hadratusy Syeikh KH Hasyim Asy’ari mengumandangkan Resolusi Jihad yang menggerakkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seruan tersebut menegaskan kewajiban membela Tanah Air di tengah ancaman kembalinya penjajahan.

“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” kata Nasaruddin.

Semangat perjuangan itu turut menggerakkan perlawanan rakyat yang mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Bagi Nasaruddin, sejarah tersebut menegaskan bahwa santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan juga bagian penting dalam perjalanan bangsa.

“Tugas kita, melanjutkan perjuangan para kyai dan pahlawan bangsa melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” ujarnya.

Lima Program untuk Memperkuat Pesantren

Penguatan peran pesantren juga ditopang terbitnya Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 yang menandai pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Regulasi tersebut menjadi bentuk pengakuan dan komitmen negara untuk memperkuat kelembagaan pesantren serta memperluas ruang pengembangan santri.

Berikut lima program yang disiapkan Kemenag.

1. SAFESANTRI, menjamin lingkungan pendidikan yang aman.

Program SAFESANTRI diarahkan untuk menjaga pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri.

Kemenag telah membentuk Satuan Tugas SAFESANTRI yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Santri 2026. Satgas ini disiapkan untuk memperkuat pencegahan, menyediakan mekanisme pengaduan, memberikan pendampingan, serta merespons secara cepat persoalan kekerasan di lingkungan pesantren.

Nasaruddin menegaskan, citra pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman harus dijaga agar tidak tercoreng oleh tindakan oknum yang bertentangan dengan nilai-nilai pesantren.

Sejumlah tokoh pesantren juga menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam satgas tersebut, salah satunya Gus Kautsar. Keterlibatan masyarakat pesantren diharapkan memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang terlindungi.

2. Penguatan rekognisi ijazah, membuka akses pendidikan dan pekerjaan

Program kedua berfokus pada penguatan pengakuan terhadap pendidikan pesantren. Melalui program ini, Kemenag ingin memperluas kesempatan santri untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, dan mengembangkan karier.

Nasaruddin menilai, masa depan santri tidak semestinya terhambat hanya karena keterbatasan pengakuan atas pendidikan yang telah mereka tempuh.

“Program ini sekaligus menjawab kebutuhan agar masa depan santri tidak terhambat bukan karena kurangnya kemampuan atau kedalaman ilmu, melainkan karena keterbatasan pengakuan terhadap pendidikan yang telah ditempuh,” ujarnya.

Penguatan rekognisi diharapkan membuat kompetensi lulusan pesantren memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam sistem pendidikan maupun dunia kerja.

3. Pesantren Adaptif dan Mandiri, menjawab tantangan teknologi

Kemenag juga menyiapkan program Pesantren Adaptif dan Mandiri untuk memperkuat penguasaan teknologi, modernisasi tata kelola, serta kemandirian ekonomi.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan bidang sains, teknologi, rekayasa, serta matematika (STEM) menjadi tantangan yang perlu dijawab pesantren.

Melalui program ini, pesantren didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam, tetapi juga mampu melahirkan kegiatan usaha, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Program ini juga akan mengawal kemandirian ekonomi pesantren,” kata Nasaruddin.

4. Santri 5.0, memadukan ilmu agama dan keterampilan

Program Santri 5.0 dirancang untuk menyiapkan generasi yang menguasai khazanah keilmuan Islam sekaligus memiliki keterampilan sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Penguatan literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, keterampilan praktis, serta karakter keagamaan menjadi bagian penting dalam program ini.

Kemenag ingin memastikan santri memiliki bekal yang memadai untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman.

“Ilmu agama dan keterampilan, keduanya penting sebagai bekal santri menatap masa depan,” tutur Nasaruddin.

5. Dakwah Digital, membawa pesantren ke ruang generasi muda.

Program kelima adalah Dakwah Digital, yang diarahkan untuk menyiapkan dai dan daiyah agar mampu memanfaatkan media sosial, memahami algoritma platform digital, menguasai AI, serta memproduksi konten kreatif.

Program ini menjadi respons terhadap perubahan cara masyarakat, khususnya generasi muda, mengakses informasi dan pengetahuan keagamaan.

Dengan penguasaan teknologi digital, dakwah pesantren diharapkan tidak hanya berlangsung melalui mimbar dan pengajian konvensional, tetapi juga menjangkau ruang digital yang semakin berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Meski demikian, Nasaruddin menekankan bahwa transformasi dakwah harus tetap berpijak pada kedalaman ilmu agama, moderasi beragama, dan kesinambungan sanad keilmuan pesantren.

“Santri harus juga hadir dalam kreatif dan relevan di ruang digital. Sehingga dakwah yang santun dan moderat, menjadi lebih dekat dengan generasi muda,” tandasnya.

Dari Warisan Perjuangan Menuju Tantangan Masa Depan

Lima program tersebut memperlihatkan upaya Kemenag menghubungkan warisan perjuangan santri dengan kebutuhan masa kini. Pesantren diharapkan mampu menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, dan perubahan sosial.

Tantangan berikutnya adalah memastikan program-program tersebut berjalan efektif, menjangkau pesantren di berbagai daerah, dan memberikan manfaat nyata bagi santri.

Dengan demikian, semangat Resolusi Jihad tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi berlanjut melalui penguatan pendidikan, perlindungan santri, kemandirian ekonomi, dan kontribusi nyata bagi masa depan Indonesia.(red/py).

#KementerianAgama HariSantri2026 MenagNasaruddin Pesantren SantriIndonesia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleHUT ke-70 SUCOFINDO: Fasilitasi Sertifikasi Halal Gratis bagi 22 Tenant Kantin Kementerian Kehutanan
Next Article Petinju Muda Bekasi Muhammad Abdul Hafidz Siap Berlaga di WBA Asia, Ghosun Iron Camp Perkuat Pembinaan Atlet Profesional
yadi

Related Posts

Bank Raya Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Dukung Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia

22 Oktober 2026 9:19 PM

neobank PLUS Cashback-nya: Ada Cashback Neo Pinjam hingga Rp200 Ribu

22 Oktober 2026 8:52 PM

DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN, PERSONEL POLSEK MANTANGAI SOSIALISASIKAN SANKSI PIDANA PELAKU KARHUTLA KE MASYARAKAT KECAMATAN MANTANGAI

22 Oktober 2026 8:34 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.