Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Wakapolres Metro Jakarta Pusat Dampingi Kapolda Metro Jaya Sholat Subuh Berjamaah di Menteng

Minggu Kasih di Gereja HKBP Serang, Polda Banten Pererat Silaturahmi dan Serap Aspirasi Jemaat

Kapolsek Malingping Bersama Anggota Laksanakan Patroli Dialogis Sampaikan Pesan Kamtibmas Kepada Warga

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»TV & Drama»Celebrities»Iwan Fals Gagas Liga Tarkam Nasional, Dorong Kebangkitan Sepak Bola Indonesia dari Desa
Celebrities

Iwan Fals Gagas Liga Tarkam Nasional, Dorong Kebangkitan Sepak Bola Indonesia dari Desa

yadiBy yadi25 Oktober 2026 12:31 PM059 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id | JAKARTA —Iwan Fals punya gagasan yang tak biasa untuk membenahi sepak bola Indonesia. Alih-alih terus mencari jalan pintas dengan mendatangkan pemain keturunan dari luar negeri, musisi legendaris itu justru mengusulkan agar PSSI membangun Liga Tarkam secara nasional, dari desa hingga provinsi.

Bagi Iwan, sepak bola tarkam bukan sekadar pertandingan antarkampung yang ramai ditonton warga. Di dalamnya ada budaya gotong royong, keterlibatan keluarga, solidaritas sosial, dan semangat berkompetisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Gagasan itu disampaikan Iwan ketika mampir ke Pancoran Soccer Field (PSF), Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Kedatangannya bertepatan dengan lanjutan Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026, kompetisi pembinaan usia muda yang dioperatori Erwiyantoro, yang akrab disapa mBah Coco.

Di sela-sela menyaksikan pertandingan, Iwan terlibat percakapan mengenai masa depan sepak bola Indonesia. Dari perbincangan itu, muncul gagasan agar PSSI tidak hanya berorientasi pada kompetisi profesional dan tim nasional, tetapi juga membangun ekosistem sepak bola berbasis masyarakat.

“Ada ekosistem yang langsung dibangun jika dilakukan Liga Tarkam. Semua unsur keluarga ikut langsung terlibat. Ada Liga Anak, ada Liga Remaja, dan ada Liga Orang Dewasa,” ujar Iwan.

Menurut dia, kompetisi semacam itu dapat diselenggarakan secara berjenjang, mulai dari desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten atau kota, hingga provinsi. Dengan begitu, sepak bola tidak berhenti sebagai aktivitas olahraga, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan masyarakat secara luas.

Liga Tarkam, Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Dalam konsep Iwan, Liga Tarkam tidak cukup hanya menyediakan lapangan dan mempertemukan dua kesebelasan. Kompetisi harus menjadi pusat kegiatan masyarakat yang menopang pembinaan atlet, termasuk melalui pemenuhan gizi, kesehatan, dan pendidikan karakter.

Warga desa, misalnya, dapat mengembangkan tanaman pangan bergizi untuk memenuhi kebutuhan atlet. Peternakan ayam, kambing, dan sapi bisa menjadi bagian dari rantai pemenuhan protein. Sementara itu, tenaga kesehatan dan pelajar bidang kesehatan dapat dilibatkan dalam edukasi kesehatan serta pemenuhan kebutuhan nutrisi para pemain.

Pelatih, wasit, dan pengurus sepak bola pun perlu lebih sering hadir di tengah masyarakat. Mereka tidak cukup bekerja dari balik meja atau ruang berpendingin udara, tetapi harus turun langsung ke desa-desa untuk membangun kompetisi dan mendampingi pembinaan.

“Semua warga saling gotong royong. Ada yang bermain bola atau cabang olahraga lain, ada yang membidani masalah disiplin mental, disiplin gizi, dan disiplin kesehatan, sehingga semuanya saling tumbuh membantu,” kata Iwan.

Gagasan tersebut menempatkan sepak bola sebagai bagian dari ekosistem kehidupan masyarakat. Anak-anak memperoleh kesempatan bermain dan berlatih, remaja memiliki jalur kompetisi, sedangkan orang dewasa dapat terlibat sebagai pemain, pelatih, wasit, pengurus, maupun pendukung kegiatan.

Jika dikelola dengan manajemen modern, kompetisi tarkam juga berpotensi menjadi fondasi industri sepak bola yang lebih merata. Pembinaan tidak lagi terkonsentrasi di kota-kota besar, tetapi tumbuh dari komunitas yang selama ini menjadi basis utama sepak bola Indonesia.

Mengapa Ketua PSSI Lebih Terkenal daripada Pemain?

Iwan juga melontarkan kritik terhadap kultur sepak bola Indonesia yang menurut pandangannya terlalu menonjolkan figur ketua umum PSSI.

Ia membandingkannya dengan negara-negara yang memiliki tradisi sepak bola kuat, seperti Jerman, Brasil, Argentina, Inggris, dan Jepang. Iwan mengaku lebih mengenal sepak bola negara-negara tersebut melalui pemain dan permainannya ketimbang melalui nama para pemimpin federasinya.

“Di Indonesia, yang terkenal bukan pemainnya, tapi ketua umumnya. Aneh bin ajaib?” tuturnya.

Kritik itu menyentuh persoalan mendasar tentang orientasi pengelolaan sepak bola nasional. Bagi Iwan, pembinaan seharusnya menghasilkan pemain berkualitas, kompetisi yang berkelanjutan, serta hubungan yang kuat antara klub dan masyarakat.

Ia juga mempertanyakan keberlanjutan kebijakan sepak bola ketika kepemimpinan PSSI berganti. Menurut dia, Erick Thohir tidak akan selamanya memimpin federasi. Karena itu, sistem pembinaan harus dirancang agar tetap berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.

“Erick Thohir tidak selamanya ada di PSSI. Jika nanti mundur atau dimundurkan, apakah penggantinya bisa menyambung konsepnya Erick? Kalau tidak bisa, apa solusinya?” kata Iwan.

Ia mengingatkan bahwa sepak bola Indonesia perlu memiliki fondasi kelembagaan yang kuat agar tidak terus-menerus bergantung pada figur pemimpin ataupun perubahan arah kebijakan.

Dari Papua hingga Maluku, di Mana Talenta Itu Berada?

Persoalan pemerataan bakat juga menjadi perhatian Iwan. Ia mempertanyakan keterwakilan pemain dari Papua, Maluku, dan kawasan Indonesia Timur dalam skuad tim nasional kelompok usia yang dipantaunya melalui pemberitaan dan media sosial.

“Emang di Papua sudah tidak ada lagi pemain bola?” tanyanya.

Pertanyaan tersebut berangkat dari keyakinannya bahwa Indonesia memiliki basis penduduk dan wilayah yang luas, dengan potensi pemain yang tersebar di berbagai daerah. Potensi itu, menurut dia, perlu ditemukan melalui kompetisi yang menjangkau masyarakat hingga pelosok.

Iwan mengingatkan kembali pertanyaan klasik yang telah lama menghantui sepak bola nasional. Ketika jumlah penduduk Indonesia sekitar 150 juta jiwa pada era Presiden Soeharto, muncul pertanyaan mengapa negara sebesar itu kesulitan melahirkan sebelas pemain nasional yang kompetitif.

Kini, dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, persoalan serupa masih dipertanyakan.

Ia lalu menyinggung Tanjung Verde atau Cape Verde, negara kepulauan di Afrika dengan jumlah penduduk jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia, yang berhasil menembus putaran final Piala Dunia FIFA 2026.

Perbandingan itu menjadi pengingat bahwa besarnya populasi tidak otomatis melahirkan prestasi sepak bola. Dibutuhkan sistem pencarian bakat, kompetisi yang teratur, pelatih berkualitas, fasilitas yang memadai, serta pembinaan yang konsisten.

Bagi Iwan, Liga Tarkam dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesempatan bermain dan menemukan talenta yang selama ini luput dari pemantauan.

“Makanya, jika semua penduduk Indonesia yang punya budaya akut, yaitu bola tarkam, digalakkan sampai ke ujung desa, sepertinya ekosistem sepak bola modern bisa tercapai,” ujarnya.

Ia juga mengkritik pendekatan yang terlalu mengandalkan pemain keturunan sebagai jalan pintas. Menurut Iwan, Indonesia perlu belajar dari sistem pembinaan negara-negara maju, termasuk Belanda, tanpa meninggalkan potensi pemain yang tumbuh dari kompetisi domestik.

Persoalannya bukan mempertentangkan pemain keturunan dengan pemain lokal, melainkan memastikan bahwa kesempatan berkembang tersedia bagi talenta dari seluruh wilayah Indonesia.

Sepak Bola dan Warisan Sumpah Pemuda

Gagasan Liga Tarkam juga ia hubungkan dengan momentum Sumpah Pemuda. Pada 2028, ikrar yang lahir pada 28 Oktober 1928 itu genap berusia satu abad.

Iwan mempertanyakan warisan konkret yang dapat diberikan pengelola sepak bola nasional kepada generasi berikutnya.

“Kira-kira Erick Thohir dan kawan-kawan bisa
berbuat apa dengan tagline Sumpah Pemuda yang sebenar-benarnya? Bisakah buat warisan untuk bangsa sendiri?” katanya.

Pertanyaan itu menempatkan sepak bola sebagai bagian dari proyek kebangsaan. Kompetisi yang menjangkau desa-desa, menurut gagasan Iwan, dapat mempertemukan anak-anak dari latar belakang sosial dan ekonomi berbeda dalam ruang yang sama.

Namun, agar gagasan tersebut berjalan, Liga Tarkam membutuhkan desain kompetisi yang jelas, pendanaan berkelanjutan, tata kelola yang transparan, perlindungan pemain anak, serta standar kepelatihan dan perwasitan yang memadai.

PSSI dapat berperan dalam menyusun standar dan sistem kompetisi, sementara pemerintah daerah, sekolah, klub, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian dari pelaksanaannya.

Dengan pendekatan seperti itu, sepak bola tarkam tidak sekadar dipoles menjadi kompetisi modern. Tradisi yang telah hidup di masyarakat justru menjadi fondasi untuk membangun sistem pembinaan yang lebih luas.

Ironi Lagu “Mereka Ada di Jalan”

Ada satu bagian menarik ketika Iwan berada di PSF. Seusai menyaksikan pertandingan Liga Jakarta U-17, ia tidak langsung meninggalkan lapangan. Ia memilih tetap duduk untuk melihat anak-anak berlatih.

“Gue mau nonton anak-anak cara latihan,” ujarnya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, ia menyaksikan sesi
latihan selama 90 menit dari French Football Academy Jakarta, lembaga pendidikan sepak bola yang disebut memiliki keterkaitan resmi dengan Federasi Sepak Bola Perancis (FFF). Akademi tersebut dipimpin Direktur Teknik Nicolas Possetti dan diawasi Jean-Claude Lafargue, mantan direktur INF Clairefontaine.

Clairefontaine dikenal sebagai salah satu pusat pembinaan elite sepak bola Perancis yang melahirkan atau membina sejumlah pemain ternama, antara lain Thierry Henry, Nicolas Anelka, Louis Saha, dan William Gallas.

Ketika mengetahui biaya pendidikan di akademi tersebut berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan, Iwan spontan berkomentar.

“Mahal juga ya, belum lagi orang tuanya ikutan nganter,” celetuknya.

Komentar itu seperti membawa percakapan kembali kepada persoalan akses. Sekolah sepak bola dengan fasilitas dan metode latihan yang baik tentu dapat membantu perkembangan pemain. Namun, biaya pendidikan, transportasi, dan kebutuhan perlengkapan bisa menjadi hambatan bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Di titik inilah gagasan Liga Tarkam menemukan relevansinya: bagaimana sepak bola berkualitas bisa diakses anak-anak tanpa harus sepenuhnya bergantung pada kemampuan finansial orang tua.

Situasi tersebut juga mengingatkan pada lagu Iwan Fals, Mereka Ada di Jalan, dari album Belum Ada Judul. Lagu itu menggambarkan anak-anak yang bermain bola di jalanan, dengan bola plastik, tanpa sepatu, dan menjadikan sisa tanah kosong sebagai lapangan.

Di dalam lagu tersebut, sepak bola hadir sebagai kegembiraan sekaligus cermin ketimpangan akses. Anak-anak memiliki semangat dan keberanian untuk bermain, tetapi ruang terbuka semakin sulit ditemukan.

Lirik tentang anak kota yang tak mampu membeli sepatu dan tak memiliki tanah lapang terasa relevan ketika kesempatan memperoleh pendidikan sepak bola berkualitas harus dibayar dengan biaya yang tidak kecil.

Persoalannya bukan bahwa akademi berbayar tidak diperlukan. Akademi profesional tetap penting untuk mengembangkan keterampilan pemain. Namun, sistem pembinaan nasional juga membutuhkan jalur yang dapat diakses anak-anak dari keluarga sederhana, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat-pusat sepak bola.

Lapangan kampung, kompetisi antardesa, dan pembinaan berjenjang dapat menjadi pintu masuk sebelum seorang pemain melangkah ke akademi atau klub profesional.

Dengan demikian, anak yang tidak mampu membayar sekolah sepak bola mahal tidak otomatis kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Dari Budaya Kampung Menuju Industri Sepak Bola

Liga Jakarta U-15 dan U-17 yang dioperatori mBah Coco menjadi salah satu contoh kompetisi usia muda yang berusaha menjaga pertandingan tetap berjalan dalam format liga, bukan sekadar turnamen sesaat.

Dalam format kompetisi berkelanjutan, pemain memiliki kesempatan menghadapi lawan berbeda, mengalami kekalahan, memperbaiki kekurangan, dan membangun mental bertanding sepanjang musim.

Namun, tantangan berikutnya adalah memperluas model serupa agar tidak berhenti di Jakarta. Daerah-daerah membutuhkan kompetisi rutin, pelatih yang kompeten, lapangan yang layak, akses kesehatan dan gizi, serta jalur promosi bagi pemain berbakat.

Pemerintah dan PSSI juga perlu memastikan bahwa dukungan terhadap kompetisi akar rumput tidak berhenti pada penyelenggaraan pertandingan. Ekosistem harus memberi manfaat nyata bagi pemain, keluarga, pelatih, wasit, klub, dan masyarakat setempat.

Bagi Iwan Fals, sepak bola Indonesia semestinya bertumbuh dari kebudayaan masyarakatnya sendiri. Modernisasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkuat tradisi dengan manajemen, ilmu kepelatihan, dan sistem kompetisi yang lebih baik.

Gagasan Liga Tarkam itu pada akhirnya mengarah pada pertanyaan yang lebih besar: apakah sepak bola Indonesia hanya ingin menghasilkan sebelas pemain untuk tim nasional, atau membangun ekosistem yang memberi kesempatan kepada jutaan anak untuk bermain, belajar, dan tumbuh melalui sepak bola?

Sebab, sebelum seorang anak mengenakan seragam tim nasional, ia mungkin terlebih dahulu mengejar bola plastik di jalan kampung.

Dan dari tempat-tempat sederhana itulah, sepak bola Indonesia seharusnya mulai mencari masa depannya.(red/py).

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleTekan Peredaran Obat Ilegal, Satresnarkoba Polres Lebak Amankan Tramadol dan Hexymer
Next Article Kapal Perusahaan Malaysia Kirim 1,1 Ton Narkoba ke RI, Digagalkan Polri-BNN
yadi

Related Posts

Lewat “Dewasaku Membanggakanmu”, Lindee Cremona Ungkap Janji Tulus Bahagiakan Orang Tua

24 Oktober 2026 9:35 AM

Polsek Kapuas Tengah Subuh Keliling dan Dialog Kamtibmas Bersama Tokoh Agama Desa Pujon

24 Oktober 2026 9:28 AM

POLSEK KAPUAS TENGAH LAKSANAKAN PATROLI DIMTAQ, CEGAH KENAKALAN REMAJA DAN JAGA KONDUSIFITAS KAMTIBMAS

24 Oktober 2026 9:20 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.