Analisnews.co.id | JAKARTA – Film horor tidak selalu harus bertumpu pada kejutan dan teror supranatural. Kekayaan budaya lokal, mitos, serta kepercayaan yang diwariskan antargenerasi juga dapat menjadi sumber cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Perspektif inilah yang mengemuka dalam Festival Film Horor (FFH) edisi ke-11 melalui diskusi bertajuk Let’s Talk to Horror, Minggu (25/10/2026).
Dalam agenda yang berlangsung di Kafe Kopi Pagi, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, FFH memilih Pirunduk sebagai film terbaik edisi Oktober. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan film horor produksi PAS Productions berjudul Rarangken, yang mengangkat legenda dan tradisi masyarakat Sunda.
Diskusi menghadirkan budayawan sekaligus sastrawan Fanny G Poyk, produser Wan Emily Sjahrir, anggota Dewan Penasihat MASDA Ambu Rd Sonia Soema, serta Tsania Prilla. Diskusi dipandu Alyne Malarif dan Cank Mail, dengan Mesya Siregar sebagai pembawa acara.
Budaya lokal menjadi pembeda film horor
Fanny G Poyk menilai perpaduan budaya dan unsur mistik memiliki daya tarik yang bertahan dari masa ke masa. Dalam film horor, kedekatan cerita dengan kepercayaan dan pengalaman masyarakat dapat menjadi salah satu faktor yang membuat penonton tertarik menyaksikannya di bioskop.
Menurut Fanny, pelaku perfilman Indonesia perlu memahami perkembangan industri film, baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), kekuatan cerita yang berakar pada budaya sendiri dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertahankan karakter film nasional.
“Semuanya terletak pada pelaku perfilman Indonesia untuk melihat perkembangan perfilman yang terjadi di dunia, khususnya Indonesia saat ini. Semoga dunia perfilman Indonesia semakin maju meski harus bersaing dengan situasi perfilman global,” ujar Fanny.
Pandangan serupa disampaikan Wan Emily Sjahrir, produser film Rarangken. Baginya, film horor memiliki ruang yang luas untuk mengeksplorasi budaya daerah, terutama ketika unsur mistik tidak berdiri sendiri, tetapi berangkat dari tradisi yang dikenal masyarakat.
Wan Emily menekankan pentingnya menghadirkan pembeda dalam sebuah karya. Film tidak cukup hanya mengikuti formula yang sudah berulang kali digunakan, tetapi perlu menawarkan sudut pandang dan pengalaman baru kepada penonton.
“Film itu harus ada pembedanya. Kalau sama, sebaiknya tak perlu buat, tetapi nonton saja. Kalau ingin membuat film, harus out of the box, keluar dari kebiasaan, terutama dari unsur budayanya,” kata Wan Emily.
Rarangken dan kepercayaan leluhur masyarakat Sunda
Ambu Rd Sonia Soema menjelaskan, budaya dapat menjadi nilai tambah sekaligus identitas sebuah film. Dalam Rarangken, PAS Productions mengangkat kepercayaan leluhur masyarakat Pasundan terhadap benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan magis.
Rarangken, dalam konteks cerita film tersebut, merujuk pada perhiasan atau benda tertentu yang dipercaya mempunyai daya magis. Benda-benda itu tidak sekadar menjadi bagian dari kisah horor, tetapi juga berkaitan dengan ritual, tata cara adat, dan pantangan yang diyakini tidak boleh dilanggar.
Ambu Sonia menuturkan, benda yang menjadi pusat cerita Rarangken disebut berasal dari wilayah Majalengka. Dalam kepercayaan yang diangkat film ini, pelanggaran terhadap larangan saat membuka atau menyentuh benda tersebut dapat memicu malapetaka bagi masyarakat di sekitarnya.
Melalui cerita itu, film horor menjadi medium untuk memperkenalkan kembali tradisi dan kepercayaan lokal kepada penonton, sekaligus mengolahnya menjadi konflik sinematik.
Sementara itu, Tsania Prilla mengaku keterlibatannya dalam Rarangken menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh budaya Sunda yang merupakan bagian dari latar keluarganya.
Artis muda tersebut mengatakan, sebelum terlibat dalam film ini, dirinya belum memahami secara mendalam makna Rarangken. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas pengetahuannya tentang budaya leluhur.
Misteri keluarga dan teror lintas generasi
Dalam materi pengenalannya, Rarangken memadukan legenda Sunda, misteri warisan leluhur, dan rahasia kelam masa lalu. Film ini diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer dan R.G.H. sebagai sutradara.
Cerita berpusat pada Ranti, yang diperankan Vanny Meisella. Ia kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabat. Teror mulai muncul setelah sebuah benda misterius bernama Rarangken dipindahkan. Peristiwa itu membangkitkan sosok Nyi Larang yang berkaitan dengan tragedi masa lalu.
Saat berusaha mengungkap asal-usul teror, Ranti menemukan bahwa legenda Rarang menyimpan kebenaran yang selama puluhan tahun tersembunyi. Upayanya menghancurkan Rarangken justru menghadirkan kejutan yang mengisyaratkan bahwa kutukan tersebut belum berakhir.
Selain Vanny Meisella sebagai Ranti, film ini dibintangi Tsani Prilia sebagai Mira, Yama Carlos sebagai Arman, Ika Kartika sebagai Dian, Ambu Rd Sonia Soema sebagai tetua adat, Achmad Bayhaqi A sebagai Dimas, Taufiq Hidayat sebagai Raka, Fardan Tamaela sebagai Jati, Zara sebagai Rara, Tiara Khorunisa sebagai Ami, Felicia sebagai Ranti kecil, dan Bhadra sebagai Jati kecil.
Pada akhir diskusi, para pembicara sepakat bahwa budaya lokal layak mendapat ruang lebih besar dalam perfilman Indonesia, termasuk genre horor. Selain menawarkan cerita yang berbeda, pendekatan tersebut dapat menjadi sarana memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.
Bagi perfilman nasional, tantangannya bukan sekadar menghadirkan ketakutan di layar, melainkan mengolah kekayaan tradisi menjadi cerita yang kuat, relevan, dan mampu menjangkau penonton lintas generasi.(red/py).
