Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Binance Luncurkan Fitur Trading AI, Pengguna Bisa Buat Strategi Tanpa Coding

Tingkatkan Disiplin Berlalu Lintas, Polres Lebak Gelar Operasi Patuh Maung 2026

Gelorakan Persaudaraan Indonesia–Palestina, Budayantara Berbagi Lewat Sekolah

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»TV & Drama»FFH ke-11: Pirunduk Raih Film Terbaik, Rarangken Angkat Mistik Budaya Sunda
TV & Drama

FFH ke-11: Pirunduk Raih Film Terbaik, Rarangken Angkat Mistik Budaya Sunda

yadiBy yadi26 Oktober 2026 12:42 PM084 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id  | JAKARTA – Film horor tidak selalu harus bertumpu pada kejutan dan teror supranatural. Kekayaan budaya lokal, mitos, serta kepercayaan yang diwariskan antargenerasi juga dapat menjadi sumber cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Perspektif inilah yang mengemuka dalam Festival Film Horor (FFH) edisi ke-11 melalui diskusi bertajuk Let’s Talk to Horror, Minggu (25/10/2026).

Dalam agenda yang berlangsung di Kafe Kopi Pagi, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, FFH memilih Pirunduk sebagai film terbaik edisi Oktober. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan film horor produksi PAS Productions berjudul Rarangken, yang mengangkat legenda dan tradisi masyarakat Sunda.

Diskusi menghadirkan budayawan sekaligus sastrawan Fanny G Poyk, produser Wan Emily Sjahrir, anggota Dewan Penasihat MASDA Ambu Rd Sonia Soema, serta Tsania Prilla. Diskusi dipandu Alyne Malarif dan Cank Mail, dengan Mesya Siregar sebagai pembawa acara.

Budaya lokal menjadi pembeda film horor

Fanny G Poyk menilai perpaduan budaya dan unsur mistik memiliki daya tarik yang bertahan dari masa ke masa. Dalam film horor, kedekatan cerita dengan kepercayaan dan pengalaman masyarakat dapat menjadi salah satu faktor yang membuat penonton tertarik menyaksikannya di bioskop.

Menurut Fanny, pelaku perfilman Indonesia perlu memahami perkembangan industri film, baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), kekuatan cerita yang berakar pada budaya sendiri dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertahankan karakter film nasional.

“Semuanya terletak pada pelaku perfilman Indonesia untuk melihat perkembangan perfilman yang terjadi di dunia, khususnya Indonesia saat ini. Semoga dunia perfilman Indonesia semakin maju meski harus bersaing dengan situasi perfilman global,” ujar Fanny.

Pandangan serupa disampaikan Wan Emily Sjahrir, produser film Rarangken. Baginya, film horor memiliki ruang yang luas untuk mengeksplorasi budaya daerah, terutama ketika unsur mistik tidak berdiri sendiri, tetapi berangkat dari tradisi yang dikenal masyarakat.

Wan Emily menekankan pentingnya menghadirkan pembeda dalam sebuah karya. Film tidak cukup hanya mengikuti formula yang sudah berulang kali digunakan, tetapi perlu menawarkan sudut pandang dan pengalaman baru kepada penonton.

“Film itu harus ada pembedanya. Kalau sama, sebaiknya tak perlu buat, tetapi nonton saja. Kalau ingin membuat film, harus out of the box, keluar dari kebiasaan, terutama dari unsur budayanya,” kata Wan Emily.

Rarangken dan kepercayaan leluhur masyarakat Sunda

Ambu Rd Sonia Soema menjelaskan, budaya dapat menjadi nilai tambah sekaligus identitas sebuah film. Dalam Rarangken, PAS Productions mengangkat kepercayaan leluhur masyarakat Pasundan terhadap benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan magis.

Rarangken, dalam konteks cerita film tersebut, merujuk pada perhiasan atau benda tertentu yang dipercaya mempunyai daya magis. Benda-benda itu tidak sekadar menjadi bagian dari kisah horor, tetapi juga berkaitan dengan ritual, tata cara adat, dan pantangan yang diyakini tidak boleh dilanggar.

Ambu Sonia menuturkan, benda yang menjadi pusat cerita Rarangken disebut berasal dari wilayah Majalengka. Dalam kepercayaan yang diangkat film ini, pelanggaran terhadap larangan saat membuka atau menyentuh benda tersebut dapat memicu malapetaka bagi masyarakat di sekitarnya.

Melalui cerita itu, film horor menjadi medium untuk memperkenalkan kembali tradisi dan kepercayaan lokal kepada penonton, sekaligus mengolahnya menjadi konflik sinematik.

Sementara itu, Tsania Prilla mengaku keterlibatannya dalam Rarangken menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh budaya Sunda yang merupakan bagian dari latar keluarganya.

Artis muda tersebut mengatakan, sebelum terlibat dalam film ini, dirinya belum memahami secara mendalam makna Rarangken. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas pengetahuannya tentang budaya leluhur.

Misteri keluarga dan teror lintas generasi

Dalam materi pengenalannya, Rarangken memadukan legenda Sunda, misteri warisan leluhur, dan rahasia kelam masa lalu. Film ini diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer dan R.G.H. sebagai sutradara.

Cerita berpusat pada Ranti, yang diperankan Vanny Meisella. Ia kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabat. Teror mulai muncul setelah sebuah benda misterius bernama Rarangken dipindahkan. Peristiwa itu membangkitkan sosok Nyi Larang yang berkaitan dengan tragedi masa lalu.

Saat berusaha mengungkap asal-usul teror, Ranti menemukan bahwa legenda Rarang menyimpan kebenaran yang selama puluhan tahun tersembunyi. Upayanya menghancurkan Rarangken justru menghadirkan kejutan yang mengisyaratkan bahwa kutukan tersebut belum berakhir.

Selain Vanny Meisella sebagai Ranti, film ini dibintangi Tsani Prilia sebagai Mira, Yama Carlos sebagai Arman, Ika Kartika sebagai Dian, Ambu Rd Sonia Soema sebagai tetua adat, Achmad Bayhaqi A sebagai Dimas, Taufiq Hidayat sebagai Raka, Fardan Tamaela sebagai Jati, Zara sebagai Rara, Tiara Khorunisa sebagai Ami, Felicia sebagai Ranti kecil, dan Bhadra sebagai Jati kecil.

Pada akhir diskusi, para pembicara sepakat bahwa budaya lokal layak mendapat ruang lebih besar dalam perfilman Indonesia, termasuk genre horor. Selain menawarkan cerita yang berbeda, pendekatan tersebut dapat menjadi sarana memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

Bagi perfilman nasional, tantangannya bukan sekadar menghadirkan ketakutan di layar, melainkan mengolah kekayaan tradisi menjadi cerita yang kuat, relevan, dan mampu menjangkau penonton lintas generasi.(red/py).

#FestivalFilmHoror #FilmHororIndonesia BudayaSunda FFH PASProduction PerfilmanNasional Pirunduk Rarangken
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleTembus 1 Juta Penonton, Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Galang Donasi Korban Karhutla
Next Article Setelah Masa Pemeliharaan Habis, Siapa yang Rawat Gedung Anda?
yadi

Related Posts

Netflix Kucurkan Hibah Rp 50 Juta untuk Dua Proyek Film Anak Indonesia

26 Oktober 2026 1:02 PM

Tembus 1 Juta Penonton, Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Galang Donasi Korban Karhutla

26 Oktober 2026 12:35 PM

SEMBARI PATROLI JALAN KAKI DI PASAR PERTOKOAN DESA PUJON, POLSEK KAPUAS TENGAH INGATKAN WARGA BAHAYA BERITA HOAX LEWAT PATROLI DIALOGIS

25 Oktober 2026 7:04 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.